Suatu Renungan Akhir 2018


HKBP Yogyakarta Online,

Renungan Khusus,  Minggu 30 Desember 2018
Suatu Renungan Akhir 2018

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Sebelum kita melewati tahun 2018 dan memasuki Tahun Rahmat 2019, marilah sejenak merenungi beberapa hal yang berkait dengan suatu pengalaman keagamaan dan kehidupan sosial yang dihadapi oleh bangsa kita, Indonesia dan dunia.
     Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bersama Konferensi Wali-Gereja Indonesia (KWI) telah mengusung Tema Natal Nasional 2018: Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita (1Kor. 1:30a). Yesus menyatakan Hikmat-Nya melalui pemberitaan Injil dan tindakan belas-kasihNya untuk menguduskan dan menebus umat dan ciptaan. Dalam konteks Indonesia menyongsong tahun elektoral 2019 terkait pemilihan Presiden dan anggota Legislatif, kita diajak berhikmat dan kita butuh pemimpin dan wakil rakyat yang berhikmat dan solider, sesuai sila ke-4 & ke-2 Pancasila. “Masyarakat perlu berdemokrasi secara hikmat, dengan tidak menjadikan instrumen agama sebagai alat merebut kekuasaan. Sebab, nilai tertinggi demokrasi adalah kebaikan bersama” (I. Suharyo).
     Dalam konteks Indonesia, yang menjadi keprihatinan kita bersama kini, antara lain masih di seputar: (1) Intoleransi yang terasa semakin menguat, mengusik, serta mengancam kemanusiaan dan   kesadaran kita sebagai bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Mari berdoa dan berusaha agar semakin banyak komunitas yang menjunjung toleransi dan pluralitas. Kita berharap peran negara tidak absen tetapi selalu hadir mengayomi segenap lapisan masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama – termasuk dalam hak beribadah dan hak mendirikan rumah ibadah. (2) Korupsi yang masih menggurita dalam kehidupan bangsa Indonesia. Dalam kurun waktu 13 tahun terakhir (2005-2018), ratusan Kepala Daerah serta ribuan wakil rakyat (DPR/DPRD) terlibat korupsi dan terjerat hukum pidana. Pejabat dan pemimpin perlu menanggalkan perilaku koruptif karena menimbulkan kesengsaraan sosial masyarakat, merusak kesadaran moral, serta keadaban publik. (3) Krisis Ekologis yaitu kerusakan dan eksploitasi alam di negeri kita, baik hutan, daratan, maupun lautan kiranya semakin dapat diatasi. (4) Kebencanaan yang mesti kita waspadai hingga aksi mitigasi bencana; (5) Hoax yaitu berita bohong yang disebar melalui media sosial (internet), harus diwaspadai secara kritis dengan cara mengetahui fakta dan kebenaran melalui situs resmi.
     Dalam konteks dunia (global), kita prihatin dan menyerukan agar kekerasan atas nama agama dan politik terhadap kemanusiaan mesti dihentikan sekarang di daerah konflik di seluruh dunia. Dewan Gereja Dunia (DGD) turut menyerukan perdamaian dan penghormatan trhadap hak asasi manusia.  Paus Fransiskus dari Vatikan – melalui pesan Urbi et Orbi (‘Untuk Kota dan Dunia’) turut menyerukan agar warga dunia menerima perbedaan sebagai aset. Perbedaan kita bukanlah bahaya atau kerugian. Perbedaan adalah sumber kekayaan”. Perbedaan itu rahmat, bukan ancaman. Ia mendorong perdamaian di daerah-daerah konflik dan merawat harmoni sosial. Ia menolak keras sikap ketidak-pedulian terhadap kekerasan, penderitaan, dan kemiskinan yang terjadi. Gaya hidup sederhana (ugahari) adalah cara melawan sikap konsumerisme yang mengarah pada keserakahan. “Kita hidup bukan dengan melahap dan menimbun, tetapi memberi dan berbagi”.  
     Saudara-saudari, di penghujung tahun 2018 ini, marilah kita: (a) Menoleh sesaat ke belakang mengenai apa yang telah terjadi; (b) Menatap jauh ke depan sembari berpengharapan; (c) Menengadah ke atas sembari mengangkat hati dan jiwa untuk bersyukur dan memuliakan TUHAN yang telah menyertai perjalanan kita bersama gereja, dan bangsa Indonesia, sekaligus memohon kekuatan dan hikmat sorga agar kita dimampukan berkarya nyata; (d) Bertekad untuk mengisi tahun rahmat 2019 dengan melakukan yang terbaik kita, kendati sederhana dan dalam skala kecil yang disertai dengan doa. Salam akhir tahun 2018 songsong Tahun Rahmat 2019. TUHAN memberkati dan melindungi Gereja bersama bangsa Indonesia. Salam. *AAZS*

wajah web201903