Hidup dalam Rancangan dan Rencana Allah

HKBP Yogyakarta Online,

Renungan Minggu Ephifani, 6 Januari 2019

Hidup dalam Rancangan dan Rencana Allah
(Yakobus 4:13-17)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Selamat Tahun Baru Januari 2019 bagi pembaca dan segenap warga jemaat. Mari kita yakini bahwa 2019 ini adalah Tahun Rahmat TUHAN bagi kita dan segenap umat percaya (Luk. 4: 18-21). Tahun 2019 ini adalah tahun di mana janji TUHAN tetap berlaku yaitu bahwa Dia setia menyertai kita sampai kepada akhir segenap zaman (Mat. 28:20b).
Sesuai Tahun Liturgi Gerejawi (Taon Liturgi Parhuriaon) bahwasanya Minggu Natal itu secara formal berdurasi 12 hari (mulai 25 Desember s/d 5 Januari sebelum tiba hari/minggu Ephipanias). Itu berarti hari ini 6 Januari 2019 – sebagaimana dicatat dalam Almanak HKBP – kita telah melangkah ke rangkaian hari dan minggu Epiphanias. Dan kendati nanti secara perlahan hiasan dan pohon Natal akan dibongkar dan kemudian dimasukkan ke dalam kardus, semoga ‘roh kerendahan hati, kesederhanaan, keramahan, solidaritas, dan damai Natal’ akan tetap ada dan terasa di antara kita, tak perlu menunggu sampai Natal tiba nanti. Karena karya Allah melalui peristiwa Natal Yesus Kristus yang telah menjadi manusia, telah memulihkan dan membarui dan mendamaikan relasi antara kita dengan Allah, dengan sesama, bahkan hubungan kita dengan alam.  
Nas renungan ini diacu dari Kitab Perjanjian Baru, khususnya Kitab Yakobus. Adapun sasaran Kitab Yakobus, antara lain adalah hendak: (a) Memperbaiki pengertian yang salah mengenai hubungan erat antara iman dengan perbuatan baik; bahwa kepada iman yang hidup hendaknya disertakan perbuatan yang baik supaya iman itu”tidak mati”; (b) Menasihati pembaca awal dan kita masa kini mengenai suatu cara hidup praksis sehari-hari dalam kehidupan berjemaat; dan (c) Menyemangati warga gereja perdana dan orang percaya masa kini agar tekun menghadapi aneka derita dan cobaan yang menguji iman. Sementara itu, ciri kitab Yakobus yang terdiri dari 5 pasal dan 108 ayat ini mengungkap bahwa lebih separuh isinya berupa perintah (imperatif).
Saudara-saudari, kitab Yakobus pasal 4 ini berkaitan dengan cara hidup jemaat mengenai menahan diri terhadap keinginan dunia, merendahkan diri di hadapan Tuhan, membangun persekutuan yang harmonis dengan sesama (ayat 1-12). Secara khusus, perikop renungan (khotbah) kali ini hendak menggemakan Allah yang turut ambil bagian dalam rancangan kehidupan umatNya (ayat 13-17).
Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Apakah kita percaya bahwa Allah masih ‘bekerja dan mencipta’ sampai hari ini? Sebagai orang percaya, kita mengatakan: Ya, benar. Allah masih bekerja bahkan ‘mencipta’ untuk kebaikan umat dan alam seturut cara dan waktu-Nya. Kita juga meyakini bahwa Allah turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi yang mencintai Allah yaitu yang percaya dan setia kepada-Nya seturut rencana Allah (Rm 8:28). Bersama Pemazmur, kita mengaku bahwa TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya (Mzm. 145:9) kendati banyak orang yang menderita di dunia ini karena macam-macam hal.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita. Kita tidak dapat menguasai diri kita apalagi menguasai hari esok. Hidup manusia singkat dan tidak pasti. Kalau tidak hati-hati, hidup kita akan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas apa pun. Kalau begitu, apa yang dapat disombongkan manusia di depan sesamanya, apalagi di depan Tuhannya? Karena hidup seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (ayat 14). Jadi berbalik dari sikap yang sombong, orang Kristen seharusnya berharap kepada Tuhan karena rancangan damai sejahteraNya (Yer. 29:11). Sesuai apa yang diajarkan perikop ini, manusia harus sadar bahwa keberadaan, kekuatan dan kesuksesan rencananya di tentukan oleh Tuhan. Perkataan “Jika Tuhan menghendakinya” (ayat 15) mengingatkan orang Kristen agar selalu mencari kehendak Tuhan, dan melakukannya dengan sepenuh hati. Kata-kata ini janganlah hanya diucapkan begitu saja dalam kehidupan sehari-hari tanpa kesungguhan.
Kita diingatkan agar terus berbuat baik karena demikianlah rancangan Allah (ayat 17). Kebaikan apa yang dimaksudkan di sini? Ini mungkin mencakup membantu sesama saudara seiman (Pasal 2); menjaga lidah dengan hati-hati (Pasal 3); jangan dikuasai hawa nafsu (Yak. 4:1-16). Kita sudah diajarkan bagaimana berbuat baik,  jika kita tidak melakukannya, kita sudah berdosa. Berdosa bukan saja terbatas pada melakukan kejahatan, tetapi juga karena tidak melakukan kebaikan dalam menjalani hidup yang dirancangkan Allah.
Sebagai orang percaya, kita meyakini bahwa dengan cara-Nya, Allah Bapa di dalam Kristus Yesus dan Roh Kudus bekerja di antara bangsa Indonesia melalui proses demokrasi Pancasila, termasuk dalam proses Pilpres 9 Juli 2014 yang lalu di mana Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada hari Selasa, 22 Juli 2014 pukul 21:33 WIB secara legitimasi (sah) telah menetapkan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI terpilih untuk periode 2014-2019 (Kompas, 23/7/2014). Kemudian tahun ini kita akan kembali masuk dalam pesta demokrasi pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Kita medoakan agar Pilpres tahun ini berlangsung dengan baik, aman, dan tertib, kendati seperti pengalaman sebelumnya bahwa di sana-sini masih ada kekurangan bahkan mungkin kecurangan, tetapi saya kira tidaklah  signifikan mempengaruhi hasil akhir suara rakyat. Namun, mari meyakini bahwa Allah di dalam nama Yesus Kristus dan Roh Kudus sedang bekerja mendatangkan kebaikan bagi Indonesia yang kita harapkan dapat menjadi salah satu bangsa teladan dalam hal merawat serta mengembangkan tenunan indah kebhinnekaan (kemajemukan). Kita berharap, Presiden terpilih akan semakin mampu merekatkan rakyat dan mempertahankan kemajemukan (pluralitas) warga Indonesia justru di tengah belahan dunia yang banyak bergolak karena ketidak-mampuan menghargai kemajemukan agama, dll.
Saudara-saudari, melalui renungan minggu awal tahun 2019 ini, marilah kita menghayati bahwa TUHAN-lah yang tetap memimpin dan memulihkan umat-Nya, yaitu kita bersama orang-orang yang percaya kepada Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Betapapun pengalaman dan pergulatan hidup kita, Tuhan akan melanjutkan kasih setia-Nya kepada kita, asalkan kita mau membarui dan dibarui oleh kuasa dan kebenaran Sabda-Nya. Salam Tahun Baru dalam Minggu Epiphanias. God bless and keep.****    *DOS*

wajah web201903