Renungan Khusus Minggu Epifani, 13 Januari 2019

HKBP Yogyakarta Online,

Renungan Khusus Minggu Epifani, 13 Januari 2019

EPIFANI (TEOFANI)
(Keluaran 33:12-17)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Berkait dengan penghayatan akan tahun liturgi gerejawi, maka kini kita hendak memaknai rangkaian Minggu Epifani yang merayakan ‘penampakan’ Yesus sebagai Anak Allah dalam proses kehidupan umat. Alkitab mengungkap bahwa Epifani yaitu ‘penampakan Allah’ (‘hapapatar ni Debata’) tidak hanya dalam rangka suatu mimpi atau penglihatan (visi), melainkan juga dalam suatu penampakan pada ruang dan waktu yang teralami yang berkait dengan manusia, malaikat, atau dalam wujud gejala-gejala kosmis. Allah yang tadinya dipahami sebagai yang tidak kelihatan dan tidak mungkin dihampiri manusia dengan kemampuannya sendiri, namun kemudian Allah sendiri yang berinisiasi memperkenalkan dan menampakkan diri-Nya kepada manusia dan memberi diri-Nya untuk dikasihi setelah Allah lebih dulu mengasihi manusia dan dunia. Itu berarti ada pergeseran dan dinamika dari cara Allah yang tadinya tidak kelihatan dan tersembunyi (Deus absconditus) menjadi Allah yang kelihatan dan nyata (Deus revelatus) yang memuncak dalam inkarnasi Allah menjadi manusia melalui peristiwa Yesus.
    Dalam tradisi klasik gerejawi, perayaan Epifani lazim dikaitkan dengan pembacaan Alkitab, setidaknya mengenai dua hal berikut. Pertama, kisah orang-orang Majus dari Timur yang memberi persembahan ke Yesus, Sang Putra Natal (Mat. 2:1-12). Peristiwa ini dimaknai sebagai perwujudan perjumpaan Allah dengan orang-orang asing (non-Yahudi). Setelah orang-orang Majus ‘berjumpa’ dengan Yesus dan ‘bersuka-cita’ serta ‘menyembah-Nya’ (Mat. 2:10), Alkitab kemudian mencatat:  “maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain” (Mat. 2:12), artinya juga bahwa  siapa pun yang benar-benar mengalami ‘penampakan Tuhan’ atau ‘perjumpaan dengan Tuhan’, dia tidak akan lagi hanya menapaki jalan hidup yang sama, tetapi juga selalu membarui dan mengubah, serta menjadikan kita pribadi-pribadi yang terus bertumbuh dalam kasih, kesucian, dan hikmat.
Kedua, mengenai peristiwa pembaptisan Yesus di sungai Yordan. Alkitab mencatat: “ … pada saat Yesus keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga: Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah AKU berkenan” (Mrk. 1:9-11; Mat. 3:16-17; Luk. 3:21-22). Peristiwa ini dimaknai  sebagai manifestasi maklumat kepada dunia yang menegaskan Yesus adalah Anak Allah. Terkait baptisan Yesus, kiranya kita dapat memaknai dan merayakan peristiwa pembaptisan kita masing-masing karena Allah telah mengadopsi kita menjadi anak-anak-Nya supaya layak mewarisi harta sorga. Perihal langit yang terkoyak, menunjuk pada komunikasi yang terbuka kembali antara manusia berdosa di bumi dengan Allah yang Mahakudus di sorga. Karena itu, mari kita merawat komunikasi dan relasi yang baik dalam konteks kemajemukan di tengah masyarakat dan bangsa yang dihembusi roh intoleransi dan kekerasan. Roh Kudus yang turun - dalam rupa burung merpati - ke atas Yesus, kemudian menunjuk pada peristiwa Pentakosta yang menghargai semua bahasa sebagai sarana pemberitaan Injil (Kis. 2).
Saudara-saudari, ‘menghadirkan’ Allah dalam kehidupan sehari-hari menjadi tema sentral dalam rangkaian minggu-minggu Epifani – yang juga disebut sebagai Teofani. Dengan cara-Nya, Allah telah menampakkan wajah-Nya kepada Musa dan juga kepada para moyang Israel. Marilah kita syukuri saat Tuhan ‘menampakkan diri-Nya’ dalam pelbagai peristiwa dan pengalaman hidup kita. Kita juga mohon agar kepada kita dianugerahkan ketajaman mata hati untuk menemukan sapaan Tuhan melalui (pemberitaan) Firman-Nya dan juga dalam setiap peristiwa dan pengalaman yang melintas dalam hidup kita. Karena itu, dengan menyadari konteks kehidupan yang sedang kita hadapi masa kini (yang berkait dengan ketidak-adilan dan kemiskinan, radikalisme/sektarianisme, krisis ekologis, kebencanaan, dan beredarnya hoax), marilah kita ‘menghadirkan dan menampakkan’ Allah dalam kehidupan kita sehari-hari melalui sebentuk belas-kasih, bela-rasa, kebaikan, kejujuran, dan ampunan, dan jangan menyembunyikannya. Salam Epifani. *AAZS*

hkbp jogja

Email: hkbpjogja@gmail.com