Mengajar dengan Berkuasa dan Menghardik ‘roh jahat’


HKBP Yogyakarta Online
Renungan Minggu II Epifani, 20 Januari 2019
Mengajar dengan Berkuasa dan Menghardik ‘roh jahat’
(Markus 1:21-28)
Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus.  Ada tigal hal yang sering beriringan dalam pelayanan Yesus, yakni: (a) memberitakan Injil (preaching); (b) mengajar (teaching); dan (c) menyembuhkan (healing). Nas acuan renungan ini menginformasikan bahwa Yesus masuk kedalam rumah ibadah di Kapernaum pada hari Sabat untuk mengajar. Nas ini tidak merinci apa yang diajarkan oleh Yesus, namun diberi-tahu bagaimana Yesus mengajar dan akibat pengajarannya yang penuh kuasa. Pengulangan ungkapan “dengan kuasa”  (ayat 22 dan 27) hendak menunjuk dan menegaskan peristiwa pengajaran Yesus dan tindakan-Nya yang pertama yang penuh kuasa sebgai hal yang saling berkaitan. Artinya bahwa Yesus tidak hanya berbicara atau mengajar dengan kuasa, tetapi juga bertindak dengan kuasa, dan kali ini kuasa mengusir roh jahat yang merasuki orang. Dan hal ini kiranya dapat dihayati sebagai bagian dari penampakan Allah (Teofani) dan kehadiran Allah (Coram Deo) di antara umat melalui peristiwa Yesus.  
Perlu diinformasikan bahwa ‘roh-roh  jahat’ dan ‘setan-setan’ yang dimaksud adalah mewakili kekuasaan yang jahat dan misterius yang memang berlawanan dengan kuasa dan kehendak Allah, dan bertentangan dengan kebaikan kemanusiaan. Dan setan-setan ini kelihatannya begitu cerdik namun licik sehingga mereka sanggup mengetahui siapakah wakil dari kuasa Allah. “Pengetahuan teologi” yang dimiliki setan kelihatannya tidak ketinggalan; roh-roh jahat atau setan-setan tahu persis mengenai eksistensi dan misi Allah. Dalam nas renungan ini, “roh jahat” yang merasuki seorang di dalam rumah ibadat di Kapernaum menyebut Yesus sebagai ‘Yang Kudus dari Allah’. Alkitab mencatat ucapan reflektif dari ‘orang yang kerasukan roh jahat’ tersebut sebagai berikut: “ ... Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah" (Mrk 1:24). Roh jahat tersebut mencoba melawan. Namun Yesus menghardik roh jahat tersebut dan berkata: “Diam, keluarlah darinya!” (ayat 25). Perintah Yesus ini lebih tajam dan berkuasa memaksa dan mengusir roh jahat supaya meninggalkan orang yang dirasukinya dan roh jahat itu akhirnya menjerit dengan nyaring lalu keluar dan takluk (ayat 26). Melihat peristiwa itu, orang banyak menjadi takjub dan berkata: : "Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun,  taat pada-Nya" (ayat 27).
Saudara-saudari, Yesus telah memberi kuasa (dunamis, yaitu Roh Kudus) kepada para murid-Nya dan orang beriman dalam tugas perutusan untuk memberitakan Injil, mengajar, membaptis, termasuk untuk mengusir “roh-roh jahat” (Kis. 1:8; Mat. 28:19-20; Mrk 16:15-18; Luk. 24:47-48). Gereja, murid-murid Yesus, dan orang beriman, kiranya dengan yakin dan berwibawa untuk menjalankan kuasa itu untuk mengajar/memberitakan Injil dengan murni, menyelenggarakan sakramen, dan merawat kekudusan dalam persekutuan gerejawi, dan juga untuk mengusir setan dan/atau mencegah “roh-roh zaman” yang sifatnya jahat dan merusak kehidupan rohani, sosial, dan masyarakat. Dan “roh-roh zaman” yang dapat merusak umat pada zaman sekarang adalah berbentuk: (a) keserakahan atau korupsi; (b) kekerasan dan intoleransi; (e) ketidak-pedulian, dll. Perihal roh keserakahan, bahwasanya “... makin banyak orang hidup berkelimpahan, tetapi tidak menemukan makna hidup sejati. Mereka seperti manusia yang berjalan dalam kegelapan dan tidak punya kepekaan hati. Bagi mereka, berhala bukan lagi batu atau pohon besar, melainkan keserakahan”, begitu kata Ignatius Suharyo. Karenanya, mari cegah dan taklukkan “roh-roh zaman” yang menjauhkan kita dari kehendak Allah dengan mengandalkan kuasa Firman-Nya dan belas-kasih-Nya. Salam. *AAZS*

hkbp jogja

Email: hkbpjogja@gmail.com