Taati dan Sembahlah Allah Pencipta!

HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu III Epifani, 27 Januari 2019
Taati dan Sembahlah Allah Pencipta!
(Yesaya 45:18-25)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. ‘Kepada siapa’ umat manusia dahulu dan kini ‘bersembah-sujud’? Atau, ‘kepada apakah’ manusia zaman dulu dan kini beribadah? Apakah umat setia beribadah kepada Allah, Khalik (Pencipta) langit dan bumi atau kepada makhluk ciptaan atau kepada buatan tangan manusia atau apakah serentak beribadah kepada Allah dan buatan manusia? Adakah sesuatu yang diberhalakan atau ‘dipertuhankan’ oleh manusia di era revolusi industri 4 kini? Akulah TUHAN Allahmu, jangan ada allah lain di hadapan-Ku! Demikian titah TUHAN.
Pada zaman dulu di era nabi Yesaya (Deutero Yesaya), mungkin banyak orang “menyembah Allah yang tidak diketahuinya” atau ‘kepada Allah yang tidak dikenal’. Tetapi Yesaya meyakini, kelak akan tiba waktunya bahwa semua bangsa akan mengaku dan menyembah Allah yang diberitakan seturut pesan Alkitab. Adanya suatu pengakuan bangsa-bangsa yang berkata: “... Sungguh, Engkau Allah yang menyembunyikan diri, Allah Israel, Juruselamat” (Yes 45:15), kiranya dipahami secara dinamis. Sejatinya bahwa Sabda Allah tidak diucapkan secara tersembunyi, melainkan diberitakan dalam altar kudus-Nya di Yerusalem dan kemudian ke seluruh bangsa. Bahwasanya Tuhan adalah Raja semesta alam (bdk. Mzm 93, 96-100). Bila ada kesan bahwa TUHAN menyembunyikan diri dari bangsa-bangsa kafir, itu karena mereka belum mencari atau mengalami perjumpaan dengan Allah pada tempat dan waktu yang tepat. Allah bersabda secara transparan, tidak tersembunyi, dan bukan di tempat bumi yang gelap (Yes 45:19). Allah memperkenalkan diri-Nya dengan dinamis seturut cara dan waktu-Nya. Dulu ketika rasul Paulus berjalan-jalan di kota Atena dan melihat aneka barang/sarana ibadah setempat, lalu dia menemukan sebuah mezbah yang bertuliskan: “Kepada Allah yang tidak dikenal ...”. Kemudian dalam suatu kesempatan, Paulus berdiri memberi pidato rohani di hadapan para anggota dewan kota Atena dan berkata: “ ... Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. Allah yang telah menjadikan langit dan bumi dan segala isinya, Ia tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segalanya kepada semua orang” (Kis. 17:22-25).
Saudara-saudari, Yesaya pasal 45, antara lain mencatat bahwa Allah memakai ‘raja Koresh yang non-Yahudi’, ‘yang kafir’ - sebagai alat-Nya dalam sejarah untuk memulihkan umat-Nya. Allah terlibat dalam sejarah bangsa-bangsa demi kebaikan umat-Nya sekaligus menegaskan Firman-Nya yang tidak dapat ditarik kembali bahwa: “Semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa.” (Yes. 45:23). Dan bahwa kelak: “... dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp. 2:10-11).
Saudara-saudari, yang menjadi tema sentral dalam minggu-minggu Epifani (Teofani) adalah hendak menghayati Allah yang telah dan sedang menyatakan diri-Nya melalui Firman-Nya yang terus bekerja secara dinamis di antara kita dan umat-Nya seturut cara dan waktu-Nya. Marilah kita syukuri saat Tuhan Allah ‘menyatakan diri-Nya’ dalam pelbagai peristiwa dan pengalaman hidup kita. Marilah juga kita mohon agar kepada kita dianugerahkan ketajaman mata hati untuk menemukan sapaan Tuhan melalui Firman-Nya dan Sakramen. Marilah juga merasakan sapaan-Nya dalam setiap peristiwa dan pengalaman yang melintasi hidup kita di tengah gereja, masyarakat, dan bangsa Indonesia, bahkan dunia. Marilah ‘menghadirkan dan menampakkan’ Allah dalam kehidupan kita sehari-hari melalui sebentuk belas-kasih, kebaikan, kesetiaan, kejujuran, dan ampunan; dan jangan menyembunyikannya. Salam Minggu Epifani. *AAZS*

wajah web201903