Hormatilah Nabi dan Hargai Karya-Nya!


HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu IV Epifani, 3 Pebruari 2019
Hormatilah Nabi dan Hargai Karya-Nya!  
(Matius 13:53-58)
Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Kitab Injil mencatat dan mengidentifikasi Yesus sebagai Nabi kendati Ia sendiri tidak pernah menuntut gelar itu. Dari ucapan dan tindakan-Nya, Yesus nyata sebagai nabi, bahkan di atas para nabi (Mat. 12:41; Lk 11:32) karena karya-Nya  untuk  keselamatan. Yesus dinyatakan sebagai nabi karena Dia: (a) Menerima urapan Roh, memiliki Firman Allah dan bersahabat dengan Allah Bapa yang mengutus-Nya; (b) Bernubuat dan membongkar kemunafikan para pemimpin agama dan umat; (c) Merasakan kesedihan dan penderitaan Allah atas keadaan umat pendosa; (d) Menjunjung pesan moral Firman (kesucian, kebenaran, keadilan, belas-kasih) serta menginfokan hukuman Allah dan menyerukan pertobatan.
Injil Synopsis mencatat suatu kisah penting mengenai Yesus yang berkarya (memberitakan Injil, mengajar, dan mengadakan mujizat) di bonapasogit-Nya, di tempat asal-Nya di Nazaret, kendati mendapat penolakan (Mrk. 6:1-6; Mat. 13:53-58; dan Luk. 4:16-30). Bahkan Injil Yohanes turut mencatatnya sekilas (Yoh. 4:44). Sebagai manusia sejati, Yesus memiliki kecintaan tersendiri kepada tempat asal-Nya, Nazareth, tempat Dia bertumbuh dan dibesarkan. ‘Setiap orang mencintai negerinya, bukan karena daerahnya itu indah, melainkan karena itu adalah negerinya sendiri’ (Everyone loves his country, not because it is beautiful, but because it is his own  --  Patriam quisque amat, non quia pulchram, sed quia suam), begitu kata seorang filsuf klasik, Lucius A. Seneca (*4BC – †65 AD). Emas di negeri orang, batu di negeri sendiri, baiknya di negeri sendiri. There's no place like home; East or West, home is the best. Begitu antara lain ungkapan perihal cinta negeri sendiri.        
Ketika berada di Nazaret, Yesus mengajar di rumah ibadat secara menakjubkan dan mengadakan sedikit mujizat. Namun, apa kata warga setempat? Ternyata banyak yang mencela dan merendahkan Yesus: "Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?” (Mat. 13:54b). Kenapa? Ada dua jawaban yang mungkin. Pertama, mereka menilai Yesus menurut ukuran mereka sendiri dan mempersoalkan asal-usul-Nya sebagai anak tukang kayu (anak Yusuf) serta ibunya Maria sebagai perempuan biasa. Mereka tidak menyambut hikmat-Nya yang mencerdaskan dan tindakan-Nya yang mengagumkan. Kedua, mereka menilai keluarga dan saudara-saudara-Nya sebagai kelas sosial rendah (ayat 55-56). Karena itulah mereka merendahkan dan menolak Yesus. Tetapi Yesus mengabaikan penghinaan tersebut dan berkata: "Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya." (Mat. 13:57; Mrk 6:4; Lk. 4:24; Yoh. 4:44). Terkait hal ini, Alkitab mencatat: “Batu yang dibuang oleh tukan-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN.” (Mzm. 118:22-23; 1 Ptr. 2:7). Kendati awalnya terkesan tidak dihargai, ditolak, dan dibuang, tapi kemudian karya YESUS amat berharga dan menyelamatkan umat berdosa dengan darah-Nya yang mahal, tak bernoda, dan tak bercacat (1 Ptr. 1:18-19).
Saudara-saudari, apa arti dan relevansi nas renungan ini untuk kita kini? Di akhir nas acuan perikop ini, Matius mencatat: ‘Dan karena ketidak-percayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ’ (Mat. 13:58; ). Artinya bahwa ketidak-percayaan kepada Yesus adalah suatu penghalang besar mendatangkan kebaikan. Orang-orang yang beriman pada-Nya memiliki kesempatan besar memperoleh hal-hal besar, pun di tengah keraguan dan ketidak-pastian. Sebab tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya (Mrk. 9:23; Lk 1:37). Bila makin banyak tantangan dan pergumulan yang kita hadapi secara gereja dan sosial-politik-budaya-ekonomi masa-kini yang menggoda kita untuk meragukan kuasa dan kebenaran Firman-Nya, mari pastikan beriman teguh dan berpengharapan serta  meyakini  bahwa Injil Kristus berisi kekuatan Allah yang ‘menyelamatkan’ kita dalam konteks kehidupan Gereja, masyarakat, dan bangsa Indonesia (Rm 1:17). Salam. *AAZS*

wajah web201903