Taati TUHAN dan ‘Tanggalkan Perhiasanmu’!

HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu V Epifani, 10 Februari 2019

Taati TUHAN dan ‘Tanggalkan Perhiasanmu’!
(Keluaran 33:1-6)
Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Nas renungan pada Minggu Epifani edisi akhir seturut tahun liturgi gerejawi ini, diacu dari Kitab Keluaran. Kiranya perlu kita pahami bahwa Kitab Keluaran (Kitab Exodus atau Buku 2 Musa) ditulis sebagai mata rantai yang amat penting dalam kaitannya dengan pe-nyata-an atau epifani Allah secara bertahap dan dinamis kepada Musa dan umat-Nya. Musa adalah prototipe Yesus sebagai pemimpin, penebus, pemberi hukum dan nabi. Kegenapan dan puncak penyataan Allah secara sempurna terjadi di dalam nama dan peristiwa Yesus.
Inti Kitab Keluaran menekankan karya agung mengenai TUHAN Allah yang membebaskan dan menebus umat Israel dalam sejarah. Setelah umat dibebaskan, maka TUHAN memberi Sepuluh Hukum Taurat untuk ditaati sebagai tanda dan untuk menandai umat tebusan (umat perjanjian). Selanjutnya Kitab Keluaran menekankan perihal bagaimana, apa, dan mengapa ibadah sejati harus menyusul sebagai tanggapan terhadap penebusan-Nya. Alkitab memastikan, hanya TUHAN Allah saja yang layak disembah dan tidak boleh ada ilah (allah) lain di hadapan-Nya – demikian hukum pertama yang tidak boleh ditawar-tawar. Dalam konteks penyembahan inilah umat mengalami masalah besar. Kendati penyertaan dan belas-kasih TUHAN sangat terbukti dalam proses pembebasan, tetapi mereka tidak pandai bersyukur; mereka gemar bersungut-sungut dan berontak, bahkan kemudian menyembah berhala dalam sebentuk lembu emas buatan mereka. Karena itulah TUHAN marah dan menyebut mereka sebagai bangsa yang tegur tengkuk yang akan dibinasakan.
Saudara-saudari, nas acuan ini mencatat bahwa TUHAN berfirman: “AKU akan mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu ... sebab Aku tidak akan berjalan di tengah-tengahmu, karena engkau ini bangsa yang tegar tengkuk supaya Aku jangan membinasakan engkau di jalan ...”. (Kel 33:3; 32:34). Pada titik ini kiranya jelas mengapa TUHAN mengutus malaikat untuk menyertai umat-Nya dan bukan TUHAN sendiri yang hadir secara langsung. Bila TUHAN yang Mahakudus turun tangan secara langsung di tengah-tengah mereka, maka mereka akan mampus dan binasa. Musa sendiri tidak akan tahan memandang wajah TUHAN, sebab tidak ada orang yang memandang TUHAN dapat hidup” (Kel. Kel. 33:20). Kemudian TUHAN menyuruh Musa untuk menyampaikan pesan ‘murka’ melalui sabda-Nya kepada umat: “Katakanlah kepada orang Israel, ... tanggalkanlah perhiasanmu, maka Aku akan melihat, apa yang akan Kulakukan kepadamu” (Kel. 33:5b). Dalam bahasa asli teks ini, “perhiasan” menunjuk kepada hal-hal ‘yang menjerat’ atau ‘yang merintangi’ untuk menyembah TUHAN. Orang Israel pun jadinya gentar sehingga kemudian mereka tidak lagi memakai perhiasan-perhiasan sejak dari gunung Horeb atau gunung Sinai (Kel 33:6).
Saudara-saudari, apa arti dan relevansi nas renungan ini bagi kita sekarang di era digitalisme ini? Ada banyak hal yang merintangi dan menjerat kita untuk beribadah sejati kepada TUHAN. Kehidupan kita umat beragama masa kini dikelilingi dan digoda oleh “roh-roh zaman”: materialisme, konsumerisme, hedonisme, dan roh sejenisnya, yang dapat menjerumuskan siapa saja agar tidak lagi menyembah TUHAN. Bila tempo doeloe, orang tergoda menyembah aneka batu atau pohon besar sebagai berhala, maka kini umat digoda oleh apa yang disebut dengan keserakahan (hamongkuson; greedy). Alkitab mengingatkan bahwa keserakahan adalah sama dengan penyembahan berhala (Kol. 3:5). Karena itu, marilah kita tanggalkan “perhiasan-perhiasan duniawi” yang menjerat dan merintangi kita menyembah TUHAN Allah. Perhiasan orang beriman adalah kekudusan (Mzm. 103:3); perhiasan batiniah yaitu yang tidak binasa, yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram (1 Ptr 3:3; Buke Ende 31:2). Taatilah Titah TUHAN dan bertobatlah! Salam. *AAZS*

hkbp jogja

Email: hkbpjogja@gmail.com