Salib Kristus: Kekuatan dan Hikmat Allah


HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu Septuagesima, 17 Februari 2019
Salib Kristus: Kekuatan dan Hikmat Allah
(1 Korintus 1:18-25)
Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Siapakah yang paling kuat dan berhikmat di antara umat di dunia ini? Dari manakah pangkal kekuatan dan hikmat? Alkitab menegaskan bahwa permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN yaitu dengan menjauhi yang jahat serta melakukan yang baik seturut Sabda-Nya (Ayub 28:28; Amsal 9:10). Hikmat dan kekuatan Allah dihubungkan dengan peristiwa salib dan kebangkitan Yesus yang menjadi inti pemberitaan para rasul serta menjadi pusat perhatian serta pemikiran Kristen  (1 Kor. 1:17-18, 25; Gal. 6:14, 17).
Alkitab mengingatkan bahwa ‘sesungguhnya Yesus ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang dan menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan.’ (Luk. 2:34). Dalam suratnya kepada jemaat Korintus, rasul Paulus antara lain mengarahkan agar peristiwa Yesus Kristus menjadi pusat perhatian dan pergumulan bagi warga jemaat dan orang beriman. Rasul Paulus bersaksi: ‘Sebab Kristus mengutus aku untuk memberitakan Injil; dan itu pun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia. Rasul Paulus mengingatkan bahwa pemberitaan mengenai salib Kristus adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi umat beriman yang diselamatkan, pemberitaan itu adalah kekuatan Allah (1 Kor. 1:17-18,24-25). Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi para rasul memberitakan Kristus yang disalibkan bahwa untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi bagi mereka yang dipanggil, entah Yahudi atau non-Yahudi, entah Batak atau Jawa, entah dari suku atau etnis manapun, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah (1 Kor. 1:22-24). Dan kemudian Injil (Kabar Gembira) mengenai Yesus Kristus menjadi kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang beriman kepada-Nya, begitu kata Alkitab (Rom. 1:17). Karena itu, salib dan kebangkitan Kristus menjadi  pusat perhatian, pemikiran, dan pemberitaan Kristiani sekaligus pusat teologi dan ibadah serta inspirasi yang memberi teladan bagi kehidupan umat  sepanjang masa (1 Kor. 1:17-18, 25; Gal. 3:1).
Sekadar info, seturut catatan sejarah, bahwa hukuman penyaliban aslinya berasal dari bangsa-bangsa Timur dan menjadi populer pada zaman kekaisaran Romawi. Seorang filsuf bernama Cicero (106 BC - 43 BC) mencatat dan menegaskan bahwa hukuman penyaliban adalah hukuman yang paling kejam dan paling hina. Namun sejak peristiwa Yesus yang mati di kayu salib dan kemudian bangkit dari maut, ikon atau gambar salib (†) menjadi simbol mulia dan lambang kemenangan bagi orang beriman kepada Yesus yang telah menaklukkan kutuk dosa dan kuasa maut demi  keselamatan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Seorang Bapa Gereja yang bernama Ireneus († wafat tahun 202) mencatat bahwa pada zaman Romawi klasik, ada 4 macam bentuk salib (Yunani: stauros; Latin: crux), yaitu: (1) crux simplex yaitu tonggak kayu yang didirikan tegak yang kepadanya korban diikatkan/dipakukan; (2) crux commissa yang disusun seperti huruf  T  besar; (3) crux decussata yang disusun seperti huruf  X  besar; dan (4)  crux immissa yaitu dua balok seperti dalam tradisi bentuk salib Yesus yakni † sebagaimana dirujuk dan digambarkan oleh keempat Injil dalam Alkitab (Mat. 27:37; Mrk. 15:26; Luk. 23:38; Yoh. 19:19-20).    
Saudara-saudari, konteks kehidupan kita sedang terkait dengan era revolusi industri 4.0 yang ciri-cirinya ditandai dengan kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence) melalui penciptaan robot-robot, teknologi berbasis internet (the internet of things), teknologi nano, bioteknologi, printer 3D, komputasi kuantum, dan blockchain, dll. Lalu apakah arti, makna, dan relevansi pemberitaan mengenai salib Kristus yang disebut-sebut sebagai kekuatan dan hikmat Allah bagi kita? Saudara-saudari, apapun ceritanya terkait proses perkembangan revolusi industri, dst., pokoknya marilah kita sungguh-sungguh menanggapi karya keselamatan dari Yesus Kristus melalui peristiwa salib dan kebangkitan-Nya yang telah menaklukkan kutuk dosa dan kuasa maut demi menebus segenap umat yang percaya kepada-Nya. Dengan jalan salib yang penuh pengorbanan dan penderitaan-Nya, Yesus telah meninggalkan teladan agung supaya kita mengikuti jejak-Nya serta menjauhi yang jahat agar kita bersama umat-Nya semakin berhikmat (1 Ptr. 2:21; Amsal ).  Salam. *AAZS*

hkbp jogja

Email: hkbpjogja@gmail.com