Beribadah di Tengah Umat yang Apatis dan Sinis

HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu Septuagesima, 24 Februari 2019
Beribadah di Tengah Umat yang Apatis dan Sinis
(Maleakhi 3:13-18)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Seorang rekan pendeta HKBP, Andar Gomos Pasaribu, yang kini sedang melayani di United Evangelical Mission (UEM) Jerman - menginformasikan lewat tulisannya, ‘Beriman di Tengah Masyarakat Apatis’ (SIB, 17/2/2019) bahwa tantangan besar yang kini dihadapi oleh baik Gereja Protestan maupun Katolik di Jerman adalah tingginya angka warga jemaat yang memilih untuk keluar dari Gereja secara resmi. Statistik mencatat tingkat masyarakat yang mencapai 40 persen dari seluruh penduduk Jerman memilih untuk tidak mempercayai TUHAN. Alasan mereka jamak, antara lain: karena ada yang menganggap Gereja tidak ramah, sebagian warga karena menghindari pajak gereja, dan sebagian lagi karena memang tidak lagi percaya kepada TUHAN alias ateis. Mereka bertanya: apakah TUHAN sudah mati?, suatu pertanyaan yang dulu pernah dipertanyakan oleh seorang filsuf papan atas berkebangsaan Jerman bernama Friedrich W Nietzsche (1844-1900). Sekadar info bahwa FW Nietzsche adalah putra seorang Pendeta Gereja Lutheran. Sekadar info juga bahwa Angela Merkel yang kini menjabat sebagai Kanselir Jerman – juga putri seorang Pendeta Gereja Lutheran - yang pada tahun-tahun yang lalu memutuskan untuk mengijinkan 1.000.000 (satu juta) pengungsi/migran korban konflik perang dari Suriah/Timur Tengah memasuki negara Jerman dengan alasan kemanusiaan. Berkait dengan hal ini, kiranya layak diajukan suatu pertanyaan sekaligus renungan, bagaimana umat beriman masa kini bersikap dan menginovasi agar umat beribadah dan tidak apatis, tetapi proaktif memberi tanggapan/aksi bermakna dan relevan dalam keterlibatan sosial di tengah gereja dan masyarakat?
     Saudara-saudari, kalimat awal bernada teguran dalam nas acuan renungan dari Kitab Maleakhi ini berbunyi: “Bicaramu kurang ajar tentang AKU, Firman TUHAN” (Mal. 3:13). Apa maksudnya ‘kurang ajar’ (arogan) dalam hal ini? Yaitu bahwa umat mencela ibadah dan pertobatan. Ketika umat (Israel) mengalami kesusahan dan kemerosotan rohani pasca-pembuangan, mereka menjadi bimbang, apatis, dan sinis, kemudian menggugat Allah dan berkata: ‘Adalah sia-sia beribadah kepada Allah. Apakah untungnya kita memelihara apa yang harus dilakukan terhadap-Nya dan berjalan dengan pakaian berkabung di hadapan TUHAN semesta alam?’ (Mal. 3:14). Umat salah-paham dan gagal paham mengenai ibadah. Ibadah sebagai perjumpaan dengan TUHAN dan perayaan atas belas-kasih-Nya jadinya dipahami sebagai kerugian dan kesia-siaan. Umat meragukan belas-kasih Allah (Mal. 1:2), tidak menaati perjanjian (Mal. 3:13-15), tidak setia dalam pernikahan (Mal. 2:15; 3:5). Namun Allah tetap mengasihi umat dan mengutus nabi memberitakan Firman-Nya (Mal. 1:1-2).
     Saudara-saudari, konteks kehidupan kita kini sedang terkait dengan era revolusi industri 4,0 yang ciri-cirinya ditandai dengan kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence) melalui penciptaan robot-robot, teknologi berbasis internet (the internet of things), teknologi nano, bioteknologi, printer 3D, komputasi kuantum, dan blockchain, dll. Dengan segala dampak positif/negatif yang ditimbulkannya, kiranya umat (Kristen) memanfaatkannya untuk merawat dan mengembangkan kehidupan manusia dan alam raya agar lebih baik, benar, adil, dan bermartabat. Dan kiranya ibadah dalam keterlibatan sosial warga jemaat dapat menginspirasi dan memotivasi umat untuk membangun persaudaraan dan cinta, dan bukan memicu apatisme dan sinisme terhadap ibadah dan agama. TUHAN memperhatikan dan mendengar semuanya serta menyayangi orang-orang yang takut pada-Nya, tetapi menghukum orang-orang yang’ kurang ajar’ (Mal 3:16-18). Karena itu, ketika makin banyak umat yang apatis dan sisnis dengan agama, takutlah akan TUHAN dan setialah beribadah (Mal. 3:16-18); jauhi yang jahat dan lakukan yang baik, benar seturut Firman-Nya. Dan berikanlah persembahan persepuluhan ke altar kudus-Nya (Mal. 3:10). Salam. *AAZS*

hkbp jogja

Email: hkbpjogja@gmail.com