Siapakah Yesus dan Kiat Mengikut-Nya


HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu Estomihi, 3 Maret 2019

Siapakah Yesus dan Kiat Mengikut-Nya
(Matius 16:13-20)
Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Pernahkah Anda mendengar kisah kehidupan Yesus dan teladan yang ditinggalkan untuk kita jejaki? Menurut Anda, siapakah Yesus Kristus dalam proses kehidupan dan keseharianmu? Bertempat di kota Kaisarea Filipi, Utara Galilea, suatu lokasi indah, pada waktu menjelang akhir pelayanan-Nya, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya: Kata orang, siapakah Anan Manusia itu? Dan apa katamu, siapakah AKU ini? Setelah mendapat wahyu dari Allah Bapa sorgawi, Petrus menjawab: ‘Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup’! (Mat. 16:16; Mrk. 8:29; Luk. 9:20). Lalu Yesus berkata kepada Petrus: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga ....." (Mat. 16:18-19). Ungkapan ‘di atas batu karang’ menunjuk pada pengakuan Petrus yaitu bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Dan Yesus adalah ‘batu penjuru’ (1 Ptr 2:6-7; Ef 2:20; Mzm. 118:22). Di atas pengakuan tersebutlah Gereja didirikan di dunia ini dengan kuasa Roh-Nya. Dan kuasa (otoritas) diberi kepada rasul (pemimpin Gereja) untuk menggembalakan dan mengatur jemaat.
Saudara-saudari, Injil Matius, Markus, dan Lukas mencatat bahwa Yesus melarang keras supaya jangan menginfokan kepada siapa pun bahwa Dia adalah Mesias (‘Sang Terurapi’, ‘Christos’; ‘Na Nimiahan’). Kenapa Yesus melarang? Karena Yesus sungguh tahu bahwa – sebelum kebangkitan-Nya dari maut - para murid salah paham dan gagal paham mengenai Mesias yang sesungguhnya. Para murid memahami Yesus sebagai Mesias politis duniawi. Yesus yang menyebut diri-Nya sebagai Anak Manusia yang harus menderita, ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, kemudian dibunuh, tetapi bangkit sesudah tiga hari (Mrk. 8:27-38; Mat. 16: 13-20; Luk. 9:18-21).
Berkait dengan hal tersebut, Yesus hendak menegaskan jalan Mesias sebagai jalan sengsara (via dolorosa). Karena itulah Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ‘Setiap orang yang mau mengikut AKU, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku’ (Mat. 16:24). Ada tiga poin utama sehubungan dengan harga yang harus dibayar oleh seorang murid perihal mengikut Yesus, yakni: (1) Menyangkal diri yaitu mengosongkan diri dan mengisinya dengan pikiran, sifat, dan kehendak Kristus; (2) Memikul salib - bukan menenteng salib – yaitu rela menderita karena Kristus. Salib Kristus adalah lambang penderitaan, kehinaan, kematian. Orang beriman pada-Nya akan menghadapi gumul rangkap. Secara rohani, kita berjuang melawan dosa dan keinginannya. Kita menderita dalam perang melawan kuasa iblis, setan, dan kegelapan saat kita mendahulukan Kerajaan Allah. Secara duniawi, kita akan menderita dari para pihak pemutar-balik Injil; dibenci dan diejek oleh dunia ketika kita bersaksi mengenai Injil dan juga oleh para pihak yang menolak berita Injil Kristus; dan (3) Mengikut Yesus yaitu ‘berjalan di belakang’ (Yunani: mathetais) untuk menapaki jalan Yesus. Mengikut Yesus searti dengan ‘melekat pada’ dan ‘taat pada’ Yesus dengan memperjuangkan serta membela apa yang diperjuangkan dan dibela Yesus. Mengikut Yesus juga berarti ‘senasib’ dengan Yesus terkait salib (sengsara) dan kebangkitan (kemenangan)-Nya. Jalan salib yang dipilih dan ditawarkan oleh Yesus adalah harga pas, tidak ada jalan pintas.
Saudara-saudari, adakah upah mengikut Yesus? Kata Yesus, upahnya adalah: ‘setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan saudaranya, orangtuanya, maka akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal’ (Mat. 19:29; Mrk. 10:28-30). Pahala yang dijanjikan adalah berkat masa kini dan hidup kekal di sorga (Mat. 5:12; Luk. 6:23). Karena itu, mari sangkal diri, pikul salib setiap hari, dan ikutlah Yesus dalam konteks Indonesia, Asia, dan dunia. Tidak ada kekristenan tanpa salib, tanpa derita; dan kita digoda menjadi ‘Kristen semut’ yang hanya mau yang ‘manis’ tanpa salib. Marilah setia mengikut Yesus yang telah meninggalkan teladan bagi kita supaya kita mengikuti jejak-Nya yang menghidupkan (1Ptr. 2:21). Salam. *AAZS*

wajah web201903