Memaknai Rabu Abu (Ash Wednesday) - 2019

HKBP Yogyakarta Online,

Suatu Renungan

Rabu Abu (Dies Cinerum)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus! Kalender Gerejawi mengenal suatu momen peringatan dan permenungan dalam rangka memasuki Pra-Paskah yaitu sekitar 40 hari menjelang Paskah – hari minggu tidak dihitung sebagai hari kemenangan. Acara peringatan dan permenungan tersebut dinamai Rabu Abu (Dies Cinerum, Ash Wednesday, Rabu Orbuk) berawal dari tradisi Yahudi merayakan pertobatan pada hari Yom Kippur (Hari Penebusan dari dosa). Terkait persiapan permenungan Pra-Paskah, Gereja HKBP mengawalinya sejak Minggu Septuagesima (70 Hari menyongsong Paskah). Alkitab menginfokan bahwa abu sering disertakan oleh manusia sebagai tanda penyesalan dan pertobatan di hadirat TUHAN. Di antaranya: (a) Ketika orang-orang Israel menyesali diri, mereka menaburkan abu di atas kepalanya (Yosua 7:6); (b) Pemazmur mengungkap pertobatannya dengan berkata: “.... sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan” (Mzm. 102:10); (c) Ketika Raja Niniwe mendengar nubuat nabi Yunus, maka ‘.... turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu ...; kemudian umat dan ternak pun berpuasa’ (Yunus 3:6-9). Nabi Yoel menyerukan agar umat bertobat dan ‘... mengoyakkan hati dan bukan pakaian’ (Yoel 2:13a).
Saudara-saudari, tradisi Rabu Abu kemudian diambil-alih oleh Paus Gregorius I (590-604) dan diperkenalkan dalam gereja. Sejak abad ke-11 - melalui Konsili Benevento tahun 1091 - kebiasaan praktik Rabu Abu menjadi umum (di Gereja Katolik Roma). Kendati tradisi Rabu Abu kurang populer di kalangan gereja HKBP (Protestan), namun isi dan pesannya dapat ditemukan dalam rangkaian kegiatan “ibadah malam passion” untuk mengenang penderitaan Kristus sebagai persiapan batin dalam rangka menyambut karya penebusan melalui Paskah Kristus.
Perihal acara Rabu Abu, sejumlah gereja menyelenggarakan ibadah yang di dalamnya dirangkai dengan suatu tindakan menempelkan atau mengoleskan abu (debu) berbentuk salib di kening atau jidat (pardompahan). Aksi penempelan abu tersebut merupakan suatu tindakan simbolik untuk mengingatkan kefanaan dunia, terutama mengingatkan kefanaan manusia yang berasal dari tanah (abu), hidup dari tanah, dan akan kembali menjadi tanah (abu). Alkitab berkata bahwa dari tanah kita diambil, sebab kita debu dan akan kembali menjadi abu (Kej. 3:19). Tindakan penempelan abu ini juga hendak mengingatkan bahwa sumber keselamatan manusia hanya dari TUHAN yang maha-kasih. Karena itulah manusia mesti mengandalkan kuasa dan belas-kasih-Nya.
Karena itu, pesan intinya adalah supaya kita bertobat. Mari mengoyakkan hati dan bukan pakaian (Yoel 2:13a). Pertobatan sejati adalah mengubah sikap hati, yakni: dari hati yang suka mencela menjadi berbela-rasa, dari yang membenci menjadi mencintai, dari congkak hati menjadi rendah hati.
Saudara-saudari, untuk memaknai Rabu Abu dalam rangka mengawali dan mengisi masa-masa Pra-paskah, maka tradisi gereja mengajak kita untuk berpuasa dan/atau berpantang. Perlu ditegaskan bahwa puasa sejati telah dikerjakan oleh Yesus dengan sempurna. Bentuk dan isi puasa bagi orang beriman ‘zaman now’ adalah: pantang melakukan dosa, kejahatan, dan kekerasan, ketidak-adilan; pantang merendahkan martabat orang lain; pantang korupsi; pantang mengambil yang bukan bagian kita; pantang menggunduli hutan dan membuang sampah/limbah sembarangan; dan pantang serakah. Joseph E Stiglitz, peraih hadiah Nobel tahun 2001 bidang ekonomi, pernah berkata bahwa kita sedang hidup di dekade keserakahan (the decade of greed). Dan bila terjadi keserakahan, maka dunia tidak akan pernah cukup untuk kesejahteraan kita, the world has enough for everyone’s need, but not for everyone’s greed, begitu kata Mahatma Gandhi (1869-1948). Karena itu, mari kita tobat dengan membarui sikap hati serta melakukan perintah-Nya sebagai tanggapan kita terhadap karya agung Yesus Kristus (Yesaya 58:6-7; Mat. 25:40; Rm 12:1-2). Salam Rabu Abu. *AAZS*

wajah web201903