‘Manajemen Hati’

Renungan Minggu Invocavit, 10 Maret 2019

‘Manajemen Hati’
(Amsal 4:18-27)
Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Ada banyak kata dan ungkapan bahkan kiasan yang dihubung-hubungkan dengan ‘hati’ terkait kehidupan manusia. Secara khusus, Alkitab sering mencatat - dalam arti kiasan - perihal ‘hati’ (kardia; lév) untuk melambangkan sumber berbagai sisi kepribadian manusia. Alkitab mengungkap, antara lain, bahwa ‘hati’ adalah: (a) Pusat keputusan-keputusan yang menentukan (1 Raja 3:9,12; Mat. 22:37; Mrk. 12:30; Luk. 10:27; 1Kor 7:37; 2 Kor. 9:7); (b) Pusat kesadaran moral dan tempat hukum yang tidak tertulis (Mat. 15:18-19; Mrk 7:19; Rm 2:5); (c) Tempat ‘perjumpaan’ dengan Allah melalui Firman yang didengar oleh umat (Mat. 13:19; Luk. 8:12+15). Hati orang beriman tidak takut karena memiliki keberanian percaya untuk mengalami perjumpaan dengan Allah (1 Yoh. 3:19-21), karena ditahirkan oleh darah Kristus, dan kemudian membuat hati menjadi suci, kuat, dan damai, oleh karena belas-kasih Allah saja (Ibr. 10:22; Mt 5:8; Yoh. 14:1; dll).
Secara khusus, nas renungan ini menghimbau dan mengingatkan kita: “... Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23). ‘Sian saluhut sijagaon i, gumodang ma jaga roham, ai sian i do ruar angka mual hangoluan’ (Poda 4:23). ‘Above all else, guard your heart, for everything you do flows from it’ (Proverb 4:23 - NIV). Nas ini terkait ‘manajeman hati; ‘kiat mengelola hati’ seturut ajaran dan penghayatan Kristiani.
Saudara-saudari, mengapa semakin perlu menjaga dan mengelola hati dalam konteks pergumulan dan tantangan kehidupan kita pada zaman yang semakin cepat berubah dan tak terkendali ini? ‘Mengelola atau menjaga hati’ yaitu memastikan agar hati kita dirawat dengan baik dan tidak dicemari oleh hal-hal yang dapat merusak dan ‘meracuni’ hati dan pikiran, yaitu hal-hal yang buruk dan jahat. Kita semakin perlu merawat dan menjaga hati agar tidak terkontaminasi. Yesus Kristus bersabda: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan ...” (Markus 7:20-22). Dan bila hati kita ‘terkontaminasi’, maka kiranya perlu melakukan ‘detoksifikasi hati’, ‘bersih-bersih hati’, supaya kemudian kita dapat mengelola hati dengan mengarahkannya kepada hal-hal yang baik, benar, dan tepat, seturut perintah Allah. Rasul Paulus berdoa, kiranya TUHAN ‘menujukan hati kita kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus’ (2 Tes. 3:5). Dan kiranya ‘damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Yesus’ (Flp. 4:7).
Saudara-saudari, apa arti dan relevansi nas renungan ini bagi kita, khususnya dalam minggu-minggu Pra-paskah ini - terutama sejak Rabu Abu (Dies Cinerum) yaitu permenungan terkait 40 hari menjelang Paskah – (mengenai hal ini, antara lain, lihat artikel/renungan terkait di web: hkbpjogja.org). Marilah kita camkan dan hayati agar kita umat-Nya jangan sampai kehilangan arah dan pegangan hidup yang sesungguhnya. Kesuksesan, kekuasaan, dan harta akan pergi serta hilang seperti “debu di tengah embusan angin”. Bahkan hidup kita pun ibarat segenggam debu di hadirat Allah yang Mahakudus. Karena itu, mendesak bagi kita untuk menemukan kembali arah hidup yang sesungguhnya, yang semakin bersesuaian dengan Sabda Tuhan. Pada masa-masa Prapaskah ini – terutama sejak permenungan Rabu Abu - menjadi kesempatan berharga bagi kita untuk “hidup lebih melambat” di tengah proses “hidup yang cepat tanpa arah” dalam konteks global di era digitalisme masa kini terkait kehidupan sosial politik, ekonomi, dan budaya. Karena itu, mari jaga hati dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23). Dan, takutlah akan TUHAN, jauhi kejahatan, itulah akal budi bahkan pangkal hikmat (Amsal 9:10; Mzm. 111:10; Ayub 28:28). Salam Prapaskah. Salam Manajemen Hati. *AAZS*

wajah web201903