Yesus ‘Batu Penjuru’, Kita ‘Batu Hidup’

HKBP Yogyakarta Online,

Renungan Minggu Okuli, 24 Maret 2019
Yesus ‘Batu Penjuru’, Kita ‘Batu Hidup’
(Mazmur 118:22-29)
Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Nas renungan ini diacu dari Kitab Mazmur 118 yang diawali dan diakhiri dengan suatu ajakan dan pengakuan khusus: ‘Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya’ (Mzm 118:1,29). Nas tersebut mengajak orang beriman bersama umat-Nya untuk memuji TUHAN karena kasih setia-Nya yang kekal dan tak tertandingi. Sangat mungkin bahwa mazmur pujian (litani agung) pasal 118 ini yang kemudian dinyanyikan oleh Yesus bersama para murid-Nya pada malam terakhir sebelum Ia pergi berdoa di taman Getsemani menjelang Dia ditangkap dan disalibkan (Mat. 26:30; Mrk. 14:26).
Dalam Alkitab (Perjanjian Baru), Yesus Kristus digambarkan sebagai ‘Batu Penjuru’ (lithos), yang di atas-Nya orang beriman membuat bangunan rohani; dan sesungguhnya Dia-lah mahkota pelaksana bangunan rohani. Kendati ‘Batu Penjuru’ kelihatannya tidak begitu penting, namun justru Dia-lah yang menjamin kokohnya bangunan ‘Bait Suci’.
Ungkapan: “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita” (Mzm. 118:22-23), diterapkan kemudian oleh Yesus kepada diri-Nya sendiri karena Ia ditolak oleh umat-Nya sendiri. Kehadiran Yesus memang menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang menolak-Nya yaitu yang tidak percaya; dan pada akhirnya – bila tidak percaya – maka orang-orang yang tersandung itu akan diremukkan-Nya (Luk. 20:18). Tetapi kemudian Yesus menjadi ‘Batu Penjuru’ (‘Batu Parsuhi’) untuk Bait Suci yang baru yakni untuk orang beriman dalam persekutuan GEREJA (Mat. 21:42; Mrk. 12:10; Lk. 20:17). Ada banyak gelar yang diterapkan kepada Yesus untuk menggambarkan betapa luas dan agung karya-Nya untuk mengungkap peran dan tindakan penebusan-Nya demi keselamatan orang beriman dan alam semesta. Dalam rangkaian bangunan rohani, Alkitab menyebut peran orang beriman sebagai ‘batu-batu yang hidup’ untuk pembangunan suatu rumah rohani, suatu imamat kudus untuk mempersembahkan syukur dan hal-hal rohani (1Ptr. 2:5-6; Ef. 2:20-22).
Ungkapan: “Inilah hari yang di-jadi-kan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” (Mzm. 118:24), kemudian disambut dengan seruan: “Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan dan kemujuran!” (Mzm. 118:25). Nas tersebut menunjuk pada hari jadi yakni hari penebusan atau hari keselamatan yang puncaknya terjadi dalam peristiwa Yesus Kristus demi umat-Nya. Seruan umat memohon ‘keselamatan’ (kata Ibrani yang dipakai yakni: hosh’iana atau hosana; Batak: hosianna, yang berarti ‘tolonglah!’, ‘selamatkanlah!’ – bnd. Mat. 21:9) hendak menubuatkan keselamatan yang kemudian digenapi di dalam diri dan pengorbanan Yesus sebagai Mesias yang dinantikan. Ungkapan hosh’iana kemudian diikuti dengan penegasan: “... diberkatilah Dia yang datang dalam nama TUHAN” (Mzm 118:26). Artinya bahwa TUHAN – secara khusus - memberkati umat dari rumah-Nya dan menyinari dengan wajah-Nya (Bil. 6:24-26). Karena itulah, diminta kepada orang beriman dan umat-Nya agar mengikatkan korban hari raya di Bait Suci atau mempersembahkan syukur serta membayar nazar kepada TUHAN sebab Ia baik dan setia (Mzm. 118:26-27; 50:14).
Saudara-saudari, dalam rangkaian minggu-minggu prapaskah yang menghayati dan meneladani pengorbanan Yesus yang telah memberi selamat dan berkat bagi kita manusia yang lemah dan fana ini, marilah kita: (a) Bersyukur dan memuji TUHAN dengan segenap hati dan batin, sebab Ia baik dan setia-Nya abadi; (b) Menjadikan Yesus sebagai ‘Batu Penjuru’ (‘Batu Partunggul’) dalam ‘bangunan kehidupan kerohanian’ kita dan jangan pernah lagi menyalibkan-Nya kedua kali; (c) Membawa persembahan syukur ke altar kudus-Nya. Salam. *AAZS*

wajah web201903

Login Form