Sukacita Karena Karunia Allah yang Menyelamatkan

 

HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu Letare, 31 Maret 2019
Sukacita Karena Karunia Allah yang Menyelamatkan
(Titus 2:11-14)
Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Ketika Gereja Awal (Jemaat Perdana) semakin bertumbuh dan berkembang - dan seiring dengan itu juga menghadapi masalah-masalah pelayanan - maka kemudian dibutuhkanlah suatu acuan dasar atau kiat dalam menggembalakan dan menata jemaat. Nas renungan ini diacu dari surat rasul Paulus kepada Titus. Sekadar info bahwa dalam studi Alkitab, Surat 1 & 2 Timotius dan Titus disebut juga sebagai Surat Penggembalaan karena isinya memang membahas masalah-masalah yang berkait dengan tugas penggembalaan dan perlunya peraturan gerejawi (‘tata gereja’) sebagai suatu cara untuk merawat kekudusan gerejawi.
Dalam surat penggembalaan tersebut, antara lain rasul Paulus memberi suatu tugas khusus kepada Titus. Siapakah Titus? Beliau adalah rekan sekerja dan anak rohani rasul Paulus (Titus 1:4). Kepada Titus diberi tugas untuk mendampingi, menegur, dan menertibkan jemaat-jemaat, dan juga menetapkan para penatua di setiap kota, di wilayah Kreta (Titus 1:5-6). Kemudian juga untuk membantu jemaat supaya bertumbuh dalam iman dan pengetahuan akan kebenaran serta kesalehan (Titus 1:1; 3:1-3). Berbeda dengan Timotius (‘anak rasul Paulus secara iman’) yang membutuhkan dorongan supaya berani dan tidak pemalu dalam pelayanan, Titus memiliki semangat pelayanan tanpa basa-basi serta punya karakter kuat dan berani. Titus menjadi salah satu andalan Paulus untuk menggembalakan jemaat di Kreta, Korintus, dan Galatia (2 Kor 8:23; Gal 2:1-4).
Isi surat kepada Titus, antara lain menekankan suatu ringkasan klasik perihal sifat dari kasih karunia Allah yang menyelamatkan di dalam nama dan peristiwa Yesus Kristus. Keselamatan bagi orang beriman bukan oleh perbuatan baik, melainkan karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali (baptisan kudus) dan oleh pembaruan yang dikerjakan Roh Kudus (Titus 3:4-5). Dalam kaitan ini, ditegaskan bahwa tujuan dari kasih karunia Allah yang menyelamatkan tersebut, antara lain adalah untuk: (a) Mendidik orang beriman supaya mampu menolak keinginan-keinginan (hawa nasu) duniawi yang hampa dan mencelakakan, bahkan membinasakan (Titus 2:12; 1 Tim. 6:9; 1 Yoh. 2:16-17); (b) Memberi petunjuk supaya kita hidup bijaksana, adil, dan beribadah dalam ‘dunia sekarang ini’ sembari menanti penggenapan pengharapan yang penuh bahagia dan wahyu kemuliaan allah dalam Yesus Kristus (Titus 2:12-13). Nas renungan ini juga hendak mengajak umat masa kini supaya menyadari realitas kehidupan yang sedang kita hadapi dalam konteks ‘dunia sekarang ini’, di era digitalisme yang membawa perubahan mendasar dalam kehidupan.
Saudara-saudari, dalam Minggu Letare (minggu suka-cita) ini, kiranya kita semakin bersemangat merenungi dan memaknai kasih karunia Allah melalui karya Kristus yang menyelamatkan dan yang telah meninggalkan teladan bagi kita supaya kita mengikuti jejak-Nya. Karena itu, marilah kita: (1) Melatih diri menolak keinginan-keinginan daging serta hawa nafsu yang dapat mencelakakan (Titus 2:12; 1 Tim. 6;9; 1 Yoh. 2:16-17). Caranya, antara lain, dengan berpuasa dan berpantang untuk melakukan dosa, kejahatan, kekerasan, dan ketidak-adilan; pantang merendahkan martabat orang lain; pantang korupsi; pantang serakah dengan mengambil yang bukan bagian kita; pantang menggunduli hutan dan membuang sampah/limbah sembarangan; (2) Belajar untuk hidup bijak dan adil di tengah dunia yang menderita dan tidak-adil; (3) Melatih diri beribadah di tengah dunia masa kini yang berkait erat dengan banyak tantangan: kemiskinan dan ketidak-adilan; radikalisme agama; krisis ekologis; kebencanaan; dan ancaman hoax (informasi palsu) yang disebar via internet yang dapat menyesatkan dan memecah-belah gereja dan negara. Karena itu, sekali lagi, dengan suka-cita, latihlah dirimu beribadah! Jadilah bijak dan adil, karena kasih karunia TUHAN yang menyelamatkan. Salam. *AAZS*

wajah web201903

Login Form