Berteologi di TPS

 

HKBP Yogyakarta Online,
Suatu Pesan Pastoral Menyongsong Pemilihan Umum, 17 April 2019

‘Berteologi di TPS’

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Konfesi HKBP 1996 pasal 13 mengenai Pemerintah (Panggomgomi), antara lain, menekankan pentingnya tanggung-jawab kita sebagai warga gereja yang sekaligus juga warga negara untuk memperjuangkan keadilan, perdamaian, kasih, dan kesejahteraan melalui pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila. HKBP menekankan agar kita berpartisipasi aktif untuk menegakkan dan memelihara kebenaran serta ikut menikmati hasil pembangunan nasional. Dan kemudian warga Gereja dipanggil untuk mendoakan pemerintah dan aparatnya supaya takut akan TUHAN serta berani mengatakan dan melakukan yang benar, baik, dan adil agar masyarakat dan bangsa kita menjadi berkat (1 Tim. 2:1-2; Rm. 13:1-7).
Berkait dengan Konfesi (Pengakuan Iman) HKBP tersebut, maka sebagai pimpinan jemaat, saya memberi suatu Pesan Pastoral kepada warga HKBP Yogyakarta - Resort Yogyakarta menjelang 17 April 2019, yaitu Pemilihan Presiden (dan Wakil Presiden) Republik Indonesia serta anggota Legislatif (Pusat/Propinsi/Kabupaten/Kota). Mari menyadari dan mewaspadai bahwa bangsa kita sedang memasuki medan kontestasi politik yang keruh, namun amat menentukan bagi arah perjalanan demokrasi politik bangsa Indonesia. Melalui pesan pastoral ini, saya mengimbau agar segenap warga jemaat berdoa kepada Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus untuk mengantarkan proses pelaksanaan pemilihan umum tersebut. Mari kita camkan bahwa kita tidak memilih yang terbaik, melainkan mencegah yang terburuk berkuasa. Karena itu, jangan “golput”! Sesuai hukum yang berlaku, gunakan hak pilih Anda (right to vote) di Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden yang paling merakyat, yang ‘merasakan denyut jantung dan derita masyarakat’; (dan juga memilih anggota Legislatif (Pusat/Propinsi/Kota/Kabupaten), yang antara lain memiliki kriteria:
(a) Takut akan TUHAN, tetapi berani melakukan yang benar, baik, adil, mulia, manusiawi.
(b) Memiliki integritas moral (moral integrity) yaitu seturut kata dan perbuatannya; jujur dan rendah hati; tidak bermoral rangkap; benci suap, menolak politik uang (bnd. Kel. 18:21).
(c) Menghormati dan menjunjung hak asasi manusia (human rights); menjunjung hak untuk beribadah dan hak untuk mendirikan rumah ibadah; memiliki rekam jejak bakti publik dan tidak memiliki beban politik masa lalu terkait pelanggaran HAM.
(d) Gigih mempertahankan dan mengamalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar RI 1945 serta memperjuangkan nilai-nilai keagamaan/kebangsaan, yang dinyatakan dalam bentuk belas-kasih, bela-rasa, keadilan, kesejahteraan, dan damai sejahtera. Mampu menjaga keseimbangan dengan mencegah kesenjangan sosial serta peduli/memberdayakan kaum miskin dan lemah.
(e) Berjiwa gembala kebangsaan serta ikhlas melayani manusia dan menyejahterakan rakyat.
(f) Aktif merawat tenunan kemajemukan masyarakat sebagai ‘ibu kandung’ bangsa Indonesia serta menjunjung sikap toleran, inklusif, dan plural untuk kerukunan dan kedamaian demi masa depan bangsa Indonesia yang jaya dan bermartabat.

Saudara-saudari, siapapun yang menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk masa-bakti 5 tahun mendatang (2019-2024), kita yakini bahwa kuasa TUHAN terlibat dalam proses demokrasi politik ini. Kita percaya bahwa kuasa Roh Kudus sanggup membarui bangsa kita untuk mendatangkan kebaikan, kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan bagi Indonesia yang berwajah majemuk dan miskin. Sekali lagi, mari kita camkan bahwa kita tidak memilih yang terbaik, melainkan mencegah yang terburuk berkuasa. Dengan menggunakan hak pilih, maka Anda pun telah turut berteologi di ‘Tempat Pemungutan Suara’ demi Indonesia raya dan jaya. Mari waspadai dan tolak politik uang, karena akar segala kejahatan ialah cinta uang (1 Tim. 6:10). TUHAN memberkati dan melindungi Indonesia, negara kita tercinta. Salam kebangsaan. *AAZS*

wajah web201903