“Apakah engkau mengasihi AKU?”

HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu Quasimodogeniti, 28 April 2019
“Apakah engkau mengasihi AKU?”
(Yohanes 21:15-19)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Bertempat di tepi danau Tiberias (Galilea) – sesudah sarapan pagi bersama murid-murid-Nya - Yesus yang telah bangkit dari kubur bertanya tiga kali kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi AKU? Jawaban yang pertama dan kedua dari Simon Petrus adalah: "Benar TUHAN, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Ketika Yesus bertanya untuk ketiga kalinya, maka sedih hati Petrus dan kemudian menjawab-Nya: "TUHAN, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau."
       Mengapa Petrus bersedih hati ketika Yesus bertanya untuk ketiga-kalinya? Dalam teks asli (bahasa Yunani) terkait nas renungan ini, bahwa untuk pertanyaan pertama dan kedua, istilah/kata yang digunakan dan diminta oleh Yesus perihal “mengasihi” adalah ‘agape’ yaitu suatu kwalitas kasih tertinggi yaitu mengasihi dari hati yang terdalam tanpa pamrih, tanpa syarat, seperti Allah - melalui peistiwa Yesus - mengasihi orang berdosa bahkan memberi nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang. Namun, ketika Yesus bertanya untuk ketiga kalinya, Yesus jadinya menggunakan istilah ‘philia’ (‘phileo’) yaitu “mengasihi” yang sejatinya menuntut kwalitas ‘agape’. Tetapi Petrus tetap menjawab-Nya dengan menggunakan istilah ‘philia’ (‘phileo’) yaitu ‘mengasihi’ dengan kwalitas sebatas ‘persahabatan’, yang melibatkan perasaan dan lebih bersifat pribadi. Ini yang membuat Petrus sedih karena belum mampu ke tingkat ‘agape’ sebagaimana yang diminta oleh Yesus. Berkait dengan hal ini, sesungguhnya Yesus hendak meminta kita untuk mengasihi dengan kwalitas kasih dari Yesus yang telah lebih dulu mengasihi kita. {Sekadar info bahwa selain istilah ‘agape’ dan ‘philia’, ada juga istilah “storge” yaitu ‘mengasihi’ karena ikatan darah dalam relasi keluarga; dan ada juga istilah “eros” (erotis) yaitu mengasihi karena nafsu birahi}.
       Saudara-saudari, kisah mengenai Petrus yang tiga kali menyangkal Yesus sebelum ditangkap dan disalibkan, kemudian diimbangi dengan tiga kali ‘menyatakan kasihnya’ sebagai pemulihan hubungannya (restorasi) dengan Yesus yang bangkit. Dalam proses pengalaman dan pergumulan iman, bahwa “kita adalah Petrus”; “kita adalah Yudas”; dan “kita adalah Tomas”. Tetapi, siapapun dan betapa pun kita, bahwasanya Yesus mengasihi Anda dan saya bersama orang beriman.
       Setelah Petrus menyatakan dan memastikan semangatnya untuk mengasihi Yesus, maka Yesus kemudian memberi perintah: “Gembalakanlah domba-domba-Ku”. Terkait hal ini, Yesus hendak memastikan bahwa ‘KASIH’ (agape, holong) adalah syarat utama dan mendasar untuk melaksanakan tugas penggembalaan (pelayanan) Kristiani dengan meneladani Yesus Sang Gembala Baik (Yoh. 10:11; 21:15-21; Mzm. 23:1-6). Betapa penting tugas penggembalaan kepada umat (‘kawanan domba’) yang butuh gizi rohani dan pendampingan supaya umat cerdas, manusiawi, bermartabat, dan tidak menjadi korban keganasan politik dan budaya global yang sarat kekerasan. Istilah ‘domba-domba’ adalah untuk menggambarkan orang-orang beriman yang butuh penggembalaan (pastoralia), bimbingan, teguran, perawatan dan gizi rohani yang bersumber dari Firman TUHAN.
       Saudara-saudari, minggu ini diberi nama: ‘Quasimodogeniti’ yang berarti: “seperti bayi yang baru lahir, yang haus akan susu murni” demi pertumbuhan prima. Iman dan rahmat di dalam Yesus yang bangkit telah ‘melahirkan kita kembali’ dan sekaligus mengantar kita ke suatu hidup baru yang berpengharapan untuk menerima bagian yang tidak dapat binasa, tidak dapat cemar, dan tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi orang beriman pada-Nya. Firman Allah adalah benih yang tidak fana, yang hidup dan kekal (1Ptr. 1:3-4; 23). Sebagai orang beriman yang mengasihi Yesus yang bangkit, marilah menjadikan Firman TUHAN sebagai santapan harian kesabaran demi pertumbuhan iman dan kekuatan untuk semakin mengasihi-Nya . Salam. *AAZS*

wajah web201903