‘Bersyukurlah Sebab TUHAN Baik!’

HKBP Yogyakarta
Renungan Minggu Misericordias Domini, 5 Mei 2019

‘Bersyukurlah Sebab TUHAN Baik!’
(Yeremia 33:10-13)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Agak jarang terdengar judul nas renungan ini dalam pemberitaan nabi Yeremia yang mengharapkan umat untuk bersyukur kepada TUHAN atas kebaikan-Nya. Karena secara umum, pokok pemberitaan nabi Yeremia adalah seputar ancaman hukuman Allah yang tidak terelakkan kepada umat yang tidak bertobat. Namun, di antara pemberitaannya yang keras dan punitif, kita menemukan suatu penekanan khusus bahwa setelah penghukuman terhadap umat dan kota (Yehuda/Yerusalem) yang tadinya reruntuhan dan sunyi sepi, maka kemudian ada pengharapan bahwa kelak TUHAN akan memberi ‘pemulihan’ (resotrasi) kepada umat-Nya pasca-pembuangan, yang meliputi: (a) Spiritualitas dalam ibadah syukur dengan membawa persembahan (korban) di rumah TUHAN; (b) Sosial/jemaat; (c) Ekonomi melalui sebentuk hewan ternak yang melimpah untuk kesejahteraan umat; (d) Ekologi dalam bentuk lingkungan hidup yang subur dan sejuk. Tujuannya agar umat kemudian diajak dan dimampukan kembali supaya “... bersyukur kepada TUHAN semesta alam, sebab TUHAN itu baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya! (Yer. 33:11; Mzm. 136:1-26). Bahkan dalam pemberitaan sebelumnya, nabi Yeremia secara istimewa dan mengagumkan menekankan pengharapan bahwa TUHAN secara langsung akan mengadakan ‘Perjanjian Baru’ demi pemulihan dan keselamatan umat yang beriman kepada-Nya (Yer. 31:31-34; 33:6-13). Isi dari ‘Perjanjian Baru yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama’ yang dimaksudkan kemudian adalah genap dan sempurna di dalam peristiwa Yesus Kristus yang telah memberi keselamatan dan pemulihan (restorasi) kepada umat beriman melalui sengsara, salib, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus yang menaklukkan maut.
Saudara-saudari, berkait dengan ajakan bersyukur kepada TUHAN atas kebaikan-Nya, pemazmur menegaskan suatu pengakuan (konfesi) dalam Kitab Suci bahwa ‘TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya’ (Mzm. 145:9). Kemudian pemazmur mengaku bahwa kasih-setia TUHAN adalah untuk selama-lamanya. Dan karena itu umat diundang secara berulangkali dan berkelanjutan supaya: ‘bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya’ (Mzm 136:126).
Saudara-saudari, kini kita diajak secara khusus dan secara baru untuk menghayati minggu yang diberi nama: Misericordias Domini yang artinya: ‘Allah memiliki hati yang peka terhadap penderitaan’. Bahkan Allah memiliki hati yang tergerak oleh belas-kasih (having compassion) terhadap umat-Nya yang lemah, berdosa, dan tak berdaya. Dan karena itulah, Allah kemudian menyatakan belas-kasihNya melalui peristiwa Yesus Kristus yang telah menyatakan solidaritas-Nya melalui sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Alkitab berulang-kali mengungkapkan bahwa belas-kasih dan kemurahan hati adalah sifat khas Allah yang tak tertahankan-Nya (Kel. 33:19; Luk. 1:50+54; Mat. 9:36; 14:14; Mrk. 6:34; 15:32; Mrk. 8:2; Rm 9:15-16ff; 8:32; 11:32; 1 Ptr 1:3). Karenanya, kemurahan hati mestilah menjadi sifat khas setiap kita seturut Sabda-Nya: “… hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapa-Ku yang di sorga adalah murah hati!” (Luk. 6:36; Mzm. 112:5; Mika 6:8; Mat. 9:13).
Saudara-saudari, sebagai orang beriman dan berpengharapan di dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang telah lebih dulu berbelas-kasih dan memulihkan hubungan kita kepada-Nya bahkan telah memulihkan lingkungan hidup, maka marilah kita belajar lagi untuk bersyukur secara baru dalam proses jerih, juang, dan gumul kita dalam kehidupan pribadi, berjemaat, dan bermasyarakat. ‘Marilah tinggal di jalan s’lamat dan bukan lagi di jalan yang bersungut-sungut dan kuatir’, karena Yesus jaminan kita orang beriman. Salam. *AAZS*

wajah web201903