Kiat Berbuah: ‘Tinggallah’ di dalam Yesus!

 

HKBP Yogyakarta Online
Renungan Minggu Jubilate, 12 Mei 2019

Kiat Berbuah: ‘Tinggallah’ di dalam Yesus!
(Yohanes 15:1-8)
Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Untuk mengungkap betapa hebat dan luasnya karya keselamatan oleh Yesus Kristus, maka Alkitab menggunakan gelar-gelar yang dikenakan kepada Yesus. Salah satu gelar yang dimaksud bahwa Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai ‘Pokok Anggur’ - sebagaimana yang diacu dari nas renungan ini (Yoh. 15:1-8). Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai ‘Pokok Anggur yang benar’, dan Bapa Sorgawi adalah ‘Pengusahanya’; sementara para murid (yaitu gereja dan orang beriman) adalah ‘ranting-ranting-Nya’ (Yoh. 15:-11). Tentu saja gambaran ini punya makna mendalam dan memiliki latar-belakang yang panjang.
Kitab Perjanjian Lama tadinya melambangkan umat Israel yang terpilih itu sebagai “pokok anggur”. Namun kemudian para nabi menyayangkan bahwa umat Isreal sebagai pokok anggur itu berubah menjadi tidak pantas, karena tumbuhnya ‘liar’ melalui sebentuk pemberontakan dan rangkaian dosa-dosa umat. Oleh karena itu “pokok anggur” tersebut harus dirombak dan kemudian akan dibarui (Yeh. 15:1-8; 19:10-14; Hosea 10:1-2; Mzm 80:9-16). Pembaruan itulah yang terjadi melalui nama dan peristiwa Yesus Kristus yang menggambarkan diri-Nya sebagai Pokok Anggur yang benar dan membuahkan anggur sejati. Dalam diri Yesus, umat (Israel) menjadi kehilangan peran dan makna. Umat sejati (yaitu orang beriman kepada Yesus) bila hendak tumbuh dan berbuah lebat mesti ‘menancap’ pada Yesus Kristus, Sang Pokok Anggur (bnd. Gal. 6:16). Orang-orang yang bersekutu dengan-Nya kemudian menjadi tanaman anggur kebanggaan Allah. Yesus menggunakan kiasan pokok anggur dengan ranting-ranting yang mesti menancap dan tinggal pada dahannya untuk menjelaskan hubungan baru melalui iman antara Yesus dan murid-muridNya bersama orang-orang yang beriman dan setia kepada-Nya. Demikianlah, antara lain yang hendak diungkapkan.
Saudara-saudari, kiranya penting untuk kita simak secara khusus bahwa dalam perikop renungan ini kita menemukan istilah ‘tinggal’ (Yunani: menô) sebanyak 7 (tujuh) kali dalam 8 (delapan) ayat. Ini hendak mengisyaratkan bahwa kata ‘tinggal’ (menô) merupakan salah satu kata kunci yang bermakna. Rasul Yohanes suka melukiskan ‘hubungan baru’ antara manusia dengan Allah bukan lagi sebagai ‘berhadapan muka dengan muka’, melainkan sebagai kediaman timbal balik. Itulah antara lain alasannya, mengapa dalam Injil Yohanes berkali-kali muncul pertanyaan para murid dan orang banyak kepada Yesus: “Rabi/Guru, di mana Engkau tinggal?” (Yoh. 1:39; 14:23; 15:4-7; 1 Yoh. 2:14+27; 1 Yoh 3:6,9,24; 1 Yoh 4:12-13,15-16). Dan Allah melalui peristiwa Yesus Kristus yang menjadi manusia telah berdiam dan tinggal, bahkan berkemah (skenoô) di antara umat (Yoh. 1:14; Kis. 7:44+46; Why. 12:12; 13:6; 15:5; 221:3). Dan itulah Immanuel bahwa Allah bersama kita di dalam Yesus yang bersabda: ‘Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu’ (Yoh. 15:4).
Saudara-saudari, marilah kita ‘tinggal’ di dalam Kristus dengan cara: (a) Memelihara Sabda Kristus dalam hati dan pikiran serta menjadikan Sabda-Nya pelita dan penuntun dalam kehidupan kita (ay 7); (b) Memelihara hubungan yang bersahabat (mistis) dan konsisten dengan Kristus agar kita dapat menimba kekuatan dari-Nya (ay 7); (c) Menaati perintah-perintah-Nya dan bersedia tinggal dalam teladan dan meneladani kasih-Nya (ay 10); (d) Memelihara kesucian hidup kita atas bimbingan Roh Kudus dan menolak dosa. Dalam budi-daya kehidupan rohani diharapkan supaya kita sebagai Gereja menjadi kebanggaan bagi Allah dan berkat bagi dunia sekitar. Di dalam pemahaman dan tuntutan itulah Yesus Kristus hendak dinyatakan sebagai sumber hidup Gerejawi; dan bahwa terpisah dari-Nya, kita tidak bermakna apa-apa dan tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh 15:5c). Anda mau ‘berbuah’? ‘Tinggallah di dalam Kristus’. Salam. *AAZS*

wajah web201903

Login Form