Pentakosta: Roh Kudus Terus Bekerja

HKBP Yogyakarta Online,
Suatu Renungan Khusus, Minggu Pentakosta,
09 Juni 2019
PENTAKOSTA: ROH KUDUS TERUS BEKERJA

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Minggu Pentakosta diperingati dan dirayakan sebagai salah satu hari besar bagi umat Kristiani. Secara grammatik, kata Yunani PENTAKOSTA berarti 50 (lima puluh). Dasar hitungannya diacu dari hari kebangkitan Yesus dari maut - bahwa 40 hari setelah kebangkitan-Nya, Yesus naik ke sorga; dan 10 hari kemudian yaitu hari ke-50 adalah Pentakosta. Inti pokok peringatan dan pesta perayaan Minggu Pentakosta adalah ROH KUDUS. Iman Kristen mengajarkan bahwa Allah bersama Yesus mengutus Roh Kudus kepada para murid di Yerusalem dan kepada orang beriman sebagai kegenapan janji Ilahi yang memampukan orang beriman untuk bersaksi, bersekutu, dan melayani (Yoel 2:28-29; Yoh. 14:15-26; Kis. 1:8).
Alkitab mencatat bahwa ketika Roh Kudus dicurahkan kepada 12 murid pada hari Pentakosta pertama di Yerusalem, maka mereka dimampukan berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain (glossolalia) mengenai perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan oleh Allah. Kemudian, para pendengar - yang pada waktu itu terdiri dari sekitar 15 suku bangsa - mengerti dalam bahasa mereka sendiri dan tercengang. Dalam peristiwa tersebut Roh Kudus bertindak semacam ‘penerjemah’. Itu berarti bahwa sejak Roh Kudus dicurahkan pada peristiwa Pentakosta di Yerusalem, jadinya semua bahasa ‘diakui’ dan ‘setara’ sebagai sarana yang digunakan untuk pemberitaan Injil Kristus (Kis. 2:1-21). Bila dalam peristiwa menara Babel, Allah ‘mengacaukan bahasa manusia’ (Kej. 11:7), maka dalam peristiwa Pentakosta, Allah ‘mempersatukan bahasa manusia’ karena karya Roh Kudus-Nya (Kis. 2:1-12). Dan inti bahasa Roh Kudus yang disampaikan kepada manusia adalah mengenai belas-kasih dan perbuatan hebat Allah kepada manusia di dalam nama Yesus Kristus, Jurus’lamat.
Siapakah Roh Kudus? Roh Kudus adalah Allah sendiri, perwujudan-nyata dari kehadiran dan kegiatan Allah yang terus-menerus di dunia dan di antara manusia. Roh Kudus – yang juga disebut sebagai Roh Kebenaran, Roh Penghibur dan Roh Penolong (Yoh. 14:15-26) – terus berkarya menaungi dari atas, menuntun dari samping, dan juga mendukung dari dalam hati orang-orang beriman. Roh Kudus diyakini sebagai lanjutan penyertaan TUHAN bagi umat beriman di dunia ini.
Roh Kudus memberi kuasa kepada para murid dan orang beriman untuk melaksanakan tri-tugas panggilan gerejawi, yakni: (1) bersaksi (marturia); (2) bersekutu (koinonia); dan (3) melayani (diakonia), termasuk mengajarkan Firman TUHAN serta memperjuangkan keadilan, perdamaian, belas-kasih, dan keutuhan ciptaan di dunia yang menderita. Dengan cara-Nya, Allah - melalui Roh Kudus-Nya – Yang maha-hadir (omni presentia), bekerja kapan dan di mana saja bahkan dengan siapa/apa saja, melampaui ruang dan waktu serta menembusi sekat-sekat primordial (sektarianisme).
Gereja berdiri dan kemudian berkembang di dunia ini adalah berkat pekerjaan Roh Kudus. Hari berdirinya (dies natalis) Gereja berawal sejak peristiwa Pentakosta. Barang-siapa hendak berkata-kata mengenai Gereja, maka haruslah menghubungkannya dengan karya Roh Kudus. Salah satu Kitab yang mencatat dan mengabadikan kisah perbuatan (karya) Roh Kudus dalam proses pertumbuhan dan perkembangan Gereja Awal adalah Kitab Kisah Para Rasul.
Saudara-saudari, Roh Kudus yang dikaruniakan itu telah berkarya dan berperan sudah sejak proses penciptaan alam semesta dan manusia (Kej. 1:2; 2:7; Ayub 33:4). Dengan dicurahkannya Roh Kudus kepada para murid dan hamba-Nya serta orang-orang beriman, maka mereka diberi kuasa (dinamit) untuk: (a) Menjadi saksi Kristus mengabarkan dan mengobarkan Injil keselamatan sampai ke ujung bumi, Kis. 1:8; (b) Menjadikan bangsa-bangsa murid-Nya; (c) Menulis Kitab Suci (Alkitab) setelah mendapat inspirasi sorgawi (2 Ptr. 1:21); (d) Membarui dunia melalui persekutuan, kesaksian, dan pelayanan hingga visi Kristiani digenapi (Flp. 2:10-11). Karena itu, marilah mengandalkan kuasa Allah di dalam Yesus Kristus yang telah mengaruniakan kita Roh Kudus yang telah bersaksi dengan roh kita untuk menjadikan kita sebagai anak-anak Allah supaya kita mewarisi harta sorgawi. Roh Kuduslah yang memampukan kita menyapa Allah sebagai: ya Abba, ya Bapa sorgawi (Roma 8:14-17). Dan Allah telah mengaruniakan kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban (2 Tim 1:7). Salam Pentakosta! *AAZS*

wajah web201903