‘Karena Iman, maka Abraham ....’

 

HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu Trinitatis, 16 Juni 2019

‘Karena Iman, maka Abraham ....’
(Kejadian 22:1-12)
Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Alkitab menegaskan: iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Karena iman, kita mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh Firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat (Ibr. 11:1-3). Abraham (Ibrahim) disebut-sebut sebagai moyang orang beriman dalam narasi iman dalam Kitab Suci ‘tiga agama yang bersaudara kandung’ yaitu Yudaisme, Kristianisme, dan Islamisme, yang juga sama-sama menganut paham monoteisme dengan menekankan bahwa Allah itu Esa dan tidak dapat disandingkan dengan ‘allah lain’.
Alkitab mencatat ‘hikayat suci’ mengenai panggilan Abraham yang berisi janji mengenai berkat ilahi sebagai inisiasi TUHAN Allah yang menawarkan ‘keselamatan’ kepada umat yang terkait dengan Abraham sebagai prototipe orang beriman. Alkitab mengungkap Abraham yang ‘lulus test’ setelah melewati tiga tahapan ujian iman yang berat. Karena iman dan ketaatannya, maka Abraham diberkati dan kemudian menjadi berkat untuk umat karena belas-kasih TUHAN. Tiga proses tahapan ujian iman yang dimaksud adalah: (a) Pada saat ia meninggalkan daerah asalnya (Kej 12-25; Ibr. 11:8); (b) Pada waktu ia menerima janji mengenai keturunannya di usia senja; dan (c) Pada saat ia mengurbankan Ishak (Kej. 22:1-19; Ibr. 11:8-19). Tiga tahapan ujian iman memungkinkan Abram - sebagai ‘bapa orang percaya’ - yang kemudian berubah nama menjadi Abraham - mendapat berkat dari TUHAN dan menjadi berkat bagi umat percaya sepanjang zaman, yakni:
(1) Karena iman maka Abraham taat pada perintah Allah dan pergi meninggalkan kota Ur (Haran) di Kasdim (Mesopotamia Utara), kota modern pada masa itu, sebab kepadanya dijanjikan suatu kota yang jauh lebih indah, suatu kota yang (hanya dapat) dilihat oleh Abraham dengan mata iman (Kej. 12:1-4). Karena itu, Abram bersedia hidup berkemah, diaspora (maisolat) sembari menanti pengangkatannya sebagai warga dari kota yang indah itu. Dalam awal panggilannya, bagi Abraham tidak berlaku motto vox populi vox Dei (‘suara rakyat suara TUHAN’). Baginya, suara rakyat tidak selalu sama dengan suara Tuhan. Untuk menjadi berkat, perlu ada ‘suatu pemisahan’ dari hal-hal yang menghalangi terwujudnya berkat TUHAN.
(2) Karena iman, maka Abraham tekun menanti kegenapan janji Allah mengenai keturunan di saat Abraham nyaris berusia 100 tahun dan Sarai, istrinya, hampir 90 tahun yang ‘sudah mati pucuk’. Tetapi bagi TUHAN tidak ada yang mustahil. Karena belas-kasihNya, TUHAN menggenapi janji-Nya. Kemudian TUHAN menganugerahi seorang putra yang diberi nama Ishak yang berarti ‘tertawa’ (Kej. 21). Kelahiran Ishak mirip kebangkitan dari kematian. Bukankah Ishak hadir ketika kemampuan alami orangtuanya “sudah mati”? Melalui Ishak, terpancarlah keturunan besar seperti bintang di langit dan pasir di tepi laut (Kej. 15:5; 12:1-3; Ibr. 11:8-12). Dan kemudian, melalui “keturunan Abraham”, umat mendapat berkat.
(3) Karena iman, maka Abraham taat dan takut akan Allah serta tidak segan-segan mempersembahkan Ishak, anaknya yang tunggal (Kej. 22:8-12). Maka hati Allah pun terharu, dan kemudian ‘Allah yang menyediakan’ (Yehovah Jireh) seekor domba jantan sebagai korban pengganti Ishak (Kej 22:8-12). Alkitab Perjanjian Baru kemudian memberitakan kegenapan ‘Yehovah Jireh’ ini, di mana Allah sendiri yang menyediakan dan mengorbankan Anak tunggal-Nya - yaitu Yesus Kristus – di kayu salib sebagai korban pendamaian.

Saudara-saudari, apa arti, pesan, dan relevansi iman dan ketaatan Abraham bagi kita di era teknologi digital masa kini? Kendati menghadapi situasi sulit dan penuh keraguan serta ketidak-pastian, marilah kita terus belajar setia beriman bahkan ‘mempersembahkan yang termahal’ dari yang kita punya demi ketaatan kita di dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Supaya kemudian kita diberkati dan semakin menjadi berkat – sebagaimana yang ditegaskan dalam Visi HKBP: Menjadi Berkat Bagi Dunia.. Salam. *AAZS*

wajah web201903