Berbahagialah yang Dosanya Diampuni

HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu II Trinitatis, 30 Juni 2019

Berbahagialah yang Dosanya Diampuni
(Mazmur 32:1-11)
Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Kita turut mengucapkan s’lamat (congratulation) kepada Joko Widodo-Ma’ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden Terpilih periode 2019-2024 yang (akan) ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutuskan ‘sengketa pilpres’ tanggal 27 Juni 2019 dengan menolak permohonan gugatan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Setelah putusan MK tersebut, Presiden Jokowi mengajak segenap warga Indonesia untuk bersatu kembali dan bersama membangun Indonesia. “Tidak ada lagi 01 dan 02, yang ada hanyalah persatuan Indonesia”, katanya. Berbahagia dan jayalah Indonesiaku.
Saudara-saudari, nas dari Mazmur memastikan: ‘Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! Dengan ikhlas, pemazmur berkata kepada TUHAN: ‘dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku (Mzm. 32:2,5).
Saudara-saudari, apakah dosa? Dan apakah Anda (merasa) berdosa di hadapan Allah? Pada era teknologi digital modern ini, mungkin semakin banyak warga gereja yang ‘tidak lagi merasa berdosa’ kepada TUHAN atau barangkali hanya ‘sekadar merasa bersalah’ sehingga dapat ‘diperbaiki sendiri’ tanpa TUHAN, semacam ‘deus ex machina’. Ini menjadi suatu tantangan rohani masa kini. Alkitab menegaskan bahwa dosa adalah pelanggaran terhadap perintah dan kehendak Allah. Dosa adalah pemberontakan dan ketidak-setiaan terhadap Allah. Iblis adalah asal mula dosa; iblis menghendaki supaya semua orang berbuat dosa dan berbalik dari Allah (1 Yoh 3:4; Yak. 1:15; Yoh. 8:44; Kej. 3:1-7; Why. 20:10). Alkitab menegaskan, semua orang telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah dan butuh ampun (Rm 3:23). Iman dan rahmat di dalam Kristus Yesus.
Saudara-saudari, seorang guru besar dogmatika, R. Soedarmo, pernah berkata bahwa ada dua cara pandang yang salah dalam memahami dosa. Pertama, meneropong dosa dengan ‘kaca pengecil’. Akibatnya, dosa menjadi kelihatan kecil dan jadinya dianggap remeh atau sepele. Tetapi kemudian dosa itu memperbudak dan mencelakakan orangnya. Kedua, meneropong dosa dengan ‘kaca pembesar’. Akibatnya, dosa kelihatan begitu besar, mengerikan, dan terkesan mencengkeram sehingga seakan tidak mungkin lagi ada pengampunan dari Allah. Sehingga, orangnya kemudian hidup dalam kesedihan, keputus-asaan, tanpa harapan, dan jatuh ke dalam fatalisme (sibaran).
Saudara-saudari, tahukah Anda bahwa seringkali akar telah memecahkan batu karang, bila terjepit di dalamnya? Janganlah memberi tempat tinggal pada benih dosa dan kejahatan, karena hal ini akan memecahkan iman Anda, begitu kata seorang bapa gereja klasik bernama Cyrillus dari Alexandria (*376 - †444). Karena itu, marilah masing-masing kita bergegas meninggalkan ’dosa kesayangan’ (‘dosa hasian’) agar dosa itu tidak lagi menguasai hati dan pikiran kita. Ampunan tersedia asalkan kita mau – seperti pemazmur - mengakui dan menyesali dosa-dosa kita di hadirat Allah. Beritahukanlah dosa-dosamu kepada TUHAN dan jangan sembunyikan di hadirat-Nya.
Iman dan rahmat di dalam nama Yesus Kristus adalah jalan untuk menerima pengampunan dan keselamatan dari Allah. Orang beriman kepada Allah, dikelilingi-Nya dengan kasih setia, tetapi orang fasik banyak menderita kesakitan (Mzm 32:10). Oleh karena itu, marilah hidup dengan mengandalkan iman dan kasih karunia (rahmat) di dalam nama Yesus Kristus (Yoh. 3:16; Ef. 2:8-10; Gal. 2:20-21; 2 Kor. 8:9; Kis. 4:12; Rm 6:23b; 5:18-21). Marilah menanggapi pengampunan dan kasih karunia itu dengan melakukan sebentuk perbuatan terbaik kita sekarang, semampu dan sekuat kita, karena belas kasih TUHAN. Salam. *AAZS*

wajah web201903