“... Kepada Allah yang Tidak Dikenal”

HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu III Trinitatis, 07 Juli 2019

“... Kepada Allah yang Tidak Dikenal”
(Kisah Para Rasul 17:22-30)
Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Apakah orang yang rajin beribadah dan sangat religius dapat secara sempurna mengenal TUHAN yang disembah, Pencipta langit dan bumi? Apakah dasar dan tujuan kita beribadah di hadapan TUHAN? Dalam proses kehidupan ini, apakah ibadah kita semakin benar dan baik di hadirat Sang Ilahi seturut kehendak-Nya. Apakah dampak ibadah kita dalam keterlibatan sosial di tengah kehidupan sehari-hari? Apakah ibadah kita memampukan kita mengasihi TUHAN dan sesama bahkan mengasihi musuh?
Saudara-saudari, ibadah adalah suatu ‘perjumpaan’ dengan TUHAN, yaitu perjumpaan antara kita sebagai makhluk ciptaan yang beribadah kepada TUHAN Yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi. Dasar ibadah kita adalah Firman TUHAN. Tujuan beribadah antara lain supaya kita mendapat anugerah dan belas-kasih dari TUHAN yang (hendak) menyelamatkan kita hingga akhirat. Perjumpaan dengan TUHAN itu bersifat dinamis dan kreatif di dalam menjalani proses ‘memeluk agama’ yang dianut, tetapi dapat menjadi statis dan kaku bahkan ganas bila ia ‘dipeluk agama’.
Saudara-saudari, menarik untuk disimak perihal salah satu kiat penginjilan rasul Paulus kepada orang-orang Yunani di Areopagus (Atena). Dalam pidato rohaninya, rasul Paulus berkata: Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Sebab aku melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: ‘kepada Allah yang tidak dikenal’. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. Pada titik ini, pendekatan rasul Paulus lebih bersifat “filosofis”, pendekatan “ministry in context” yaitu berteologi dan melayani dalam konteks yang relevan sebagai jalan masuk untuk memberitakan dan mengakarkan Injil kepada pendengar pada zamannya masing-masing. Jadi agak berbeda dengan khotbah-khotbah rasul Paulus kepada Yahudi yang sering diacu dari Alkitab Perjanjian Lama. Selanjutnya, Paulus berkata bahwa Allah yang tidak kamu kenal, DIA-lah TUHAN yang menciptakan langit dan bumi, yang tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia. Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: ‘Sebab kita ini dari keturunan Allah’, artinya kita menjadi putra-putri Allah, menjadi anak-anak Allah karena mengandalkan iman dan rahmat di dalam nama-Nya sejak menerima sakramen baptisan kudus. Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, kata rasul Paulus, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia supaya semua harus bertobat (Kis. 17:22-30). Hasil penginjilan rasul Paulus ini membuat sejumlah orang bertobat dan percaya yakni Dionisius (anggota majelis Areopagus), Damaris, dan beberapa orang lagi (Kis 17:34).
Karena itu, kiranya dapat ditegaskan secara Alkitabiah bahwa sejak peristiwa Yesus Kristus – marilah meninggalkan ‘zaman kebodohan’ atau ‘zaman ketidak-tahuan’ melainkan sebagai ‘zaman pertobatan’ manusia dalam hal beribadah secara benar di hadapan TUHAN Allah (Kis. 17:23+30). Karena itu, kegagalan mengenal dan memercayai TUHAN Allah Pencipta langit dan bumi, kiranya dapat dimaafkan dan dimaklumi sebelum peristiwa Yesus Kristus. Wahyu dan peristiwa mengenai Yesus Kristus menjadi suatu anugerah dan tanggung-jawab mulia bagi orang beriman supaya kemudian Injil Kristus diberitakan sampai ke ujung bumi agar umat dan pendengar bertobat dan percaya supaya memperoleh kehidupan yang kekal (Kis. 3:17; 13:27; Mat. 28:18-20; Luk. 23:24; Yoh 3:16).
Saudara-saudari, apa arti dan relevansi nas renungan ini bagi kita di tengah masyarakat majemuk dan terpolarisasi ini? Intinya adalah mengajak supaya kita: (a) Bertobat dan percaya di dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang menciptakan langit dan bumi; (b) Membongkar cara-cara kita beribadah yang tidak benar serta mohon ampun atas ‘dosa-dosa ketidak-tahuan’ yang membuat kita mencemari mezbah kudus-Nya dan dunia sebagai panggung kemuliaan-Nya; (c) Senantiasa membarui diri dan dibarui berdasarkan Firman TUHAN agar ibadah kita semakin benar, baik, dan sempurna, yang berpusat di dalam Yesus Kristus yang menawarkan anugerah dan berkat bagi dunia. Salam. *AAZS*

wajah web201903

Login Form