Beriman Supaya Berhikmat

HKBP Yogyakarta Online,

Renungan Minggu V Trinitatis, 21 Juli 2019

Beriman Supaya Berhikmat
(Yakobus 1:2-12)

     Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Nas renungan ini diacu dari Kitab Yakobus yang sasarannya, antara lain hendak: (a) Memperbaiki pengertian yang salah mengenai hubungan erat antara iman dan perbuatan baik. Bahwa kepada iman yang hidup hendaknya disusul dengan sebentuk perbuatan yang baik supaya iman itu “tidak mati”, begitu kata rasul Yakobus; (b) Menyemangati orang beriman dan warga gereja (dulu dan kini) agar tekun menghadapi aneka derita dan cobaan sebagai ujian terhadap iman. Karena memang iman (pistis; emét) berkait erat dengan sebentuk ketekunan bahkan kesetiaan sampai akhir di dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus; dan (c) Menasihati pembaca awal dan kita (warga gereja) masa kini mengenai suatu cara hidup praksis sehari-hari dalam kaitannya dengan kehidupan berjemaat dan relasi sosial. Dan karena itulah, kitab Yakobus yang terdiri dari 5 pasal dan 108 ayat ini memiliki ciri khas yang separuh isinya berkait dengan rangkaian perintah (imperatif) yang mencerdaskan umat.
     Rasul Yakobus mengungkap bahwa iman yang teruji akan menghasilkan sebentuk ketekunan (Yak. 1:3). Dalam rangka menghadapi rangkaian dan aneka penderitaan serta tantangan kehidupan berjemaat dan bermasyarakat, maka iman dapat menjadi dasar untuk memohon sebentuk hikmat kepada Allah. Karena memang orang beriman adalah orang yang kemudian dikaruniai hikmat (Yak. 1:5-6). Beriman dulu supaya kemudian dapat mengerti perihal maksud dan kehendak TUHAN; bukan sebaliknya! Dan inilah yang hendak dikatakan oleh Rasul Yakobus: ‘beriman supaya berhikmat’. Rasul Paulus mengungkapkannya: ‘Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata’ yaitu beriman dulu lalu kemudian akan dimampukan memberitakan Injil sebagai hikmat Allah (bnd. 2 Kor 4:13). Karena kepada orang beriman akan dianugerahkan hikmat dan pengertian. Sebab ‘iman mencari hikmat dan pengertian’ (fides quaerens intellectum; faith seeking undersanding), begitu kata Anselmus dari Canterbury (1033-1109). Ungkapan variatif yang lebih tua: Credo ut intelligam (‘saya percaya supaya saya mengerti’) yang sebelumnya telah dimunculkan oleh Bapa Gereja, Agustinus (354-430).
     Alkitab berkata: iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr. 11:1). Iman itu menderdaskan dan membuat berhikmat. Alkitab menegaskan bahwa ‘permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN’ yaitu dengan menjauhi yang jahat serta melakukan yang baik seturut Sabda-Nya (Amsal 9:10; Ayub 28:28). Alkitab Perjanjian Baru akhirnya menegaskan bahwa hikmat dan kekuatan Allah dihubungkan dengan peristiwa salib dan kebangkitan Yesus Kristus yang kemudian menjadi inti pemberitaan para rasul serta menjadi pusat perhatian serta pemikiran Kristen (1 Kor. 1:17-18, 25; Gal. 6:14, 17).
     Saudara-saudari, kaitan iman dan perbuatan baik kiranya dapat dikatakan bahwa iman dan perbuatan baik dapat berjalan sama-sama, langkah demi langkah, seperti kaki orang yang sedang berjalan. Pertama iman, dan kemudian perbuatan atau karya yang baik; dan kemudian iman lagi, dan kemudian karya lagi – sampai Anda ‘hampir’ tidak mampu lagi membedakan mana yang satu dan mana yang lainnya, begitu kata William Booth (1829-1912).
     Saudara-saudari, sebagai orang beriman kepada Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus, marilah setia dan bertahan sampai akhir kendati harus menghadapi aneka pencobaan sebagai ujian iman karena semuanya itu hendak memurnikan imanmu dan TUHAN akan memberimu hikmat serta mengaruniakan mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada yang mengasihi-Nya (Yak. 1:12; Why. 2:10c). Salam. *AAZS*

wajah web201903