TUHAN, Tolonglah Kami!

HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu VIII Trinitatis, 11 Agustus 2019

TUHAN, Tolonglah Kami!
(Matius 8:23-27)
Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Narasi Alkitab mengenai ‘Yesus yang meredakan angin ribut’ ketika para murid berlayar bersama Yesus di danau Galilea, dicatat dalam Injil Synopsis (Mrk. 4:35-41; Mat. 8:23-27; dan Luk. 8:22-25). Secara tradisi, perjalanan Gereja dan orang beriman di dunia ini kadang digambarkan secara simbolis sebagai ‘perahu yang sedang berlayar di tengah samudra menuju dermaga akhir zaman’. Bahkan sejumlah gereja/lembaga ekumenis gerejawi menggunakan ‘stempel’-nya dengan ‘gambar perahu yang sedang berlayar’. Gambaran simbolis tersebut terinspirasi dari nas acuan renungan ini, yang antara lain hendak memberi pesan supaya Gereja sadar konteks di dalam perjalanannya yang sarat gelombang/angin ribut/taufan kehidupan yang membutuhkan ‘Nakhoda Agung’ yaitu Yesus Kristus, Penakluk alam dan maut.
Saudara-saudari, Injil Matius mencatat bahwa di suatu waktu, Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid mengikuti-Nya. {Sekadar info bahwa istilah ‘mengikut’ di sini - dipakai secara khusus dalam Injil Synopsis, untuk menjadi murid memang harus ‘berjalan di belakang’ Yesus atau ‘berjalan menyusul di belakang/mengikut’, bahkan ‘taat pada’ dan ‘melekat kepada’ Yesus. Sesudah peristiwa Paskah, istilah yang acap digunakan oleh para rasul bukan lagi ‘mengikut Yesus’, melainkan ‘berada di dalam Kristus’}. Pada saat berlayar, sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. Mengapa Yesus tertidur? Sebagai manusia sejati, mungkin karena Ia sudah letih melayani dan butuh istirahat. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: ‘Tuhan, tolonglah, kita binasa’ (ayat 25). Perhatikan ungkapan para murid yang kiranya dapat dipahami sebagai sebentuk doa/permohonan, tetapi juga semacam tuduhan kepada Yesus yang tidak peduli kepada mereka kendati bersama Yesus. Lalu Yesus berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?’ (ayat 26). Setelah menegur para murid, Yesus bangun untuk menghardik angin dan danau itu. Injil Markus mencatat Sabda Yesus yang menghardik badai/taufan tersebut dengan sepatah kata: Diam! Tenanglah! (Mrk. 4:39), maka angin dan air itu pun reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Kemudian, heranlah orang-orang itu, katanya: ‘Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?’ (Mat. 8:23-27). Yesus menghendaki para murid agar tidak hanya ‘takjub’, tetapi yang terutama supaya mereka dan umat masa kini - memiliki iman yang mendalam perihal jati-diri Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat. 16:16). Injil Markus dan Lukas mencatat bahwa Yesus lebih dulu menghardik angin ribut/taufan, kemudian menegur para murid yang kurang percaya. Sementara Injil Matius mencatat bahwa Yesus lebih dulu menegur para murid yang kurang percaya, kemudian menghardik angin ribut/taufan. Narasi ini hendak menunjuk terutama bukan secara kronologis, melainkan memberi pesan teologis kepada para pembaca/pendengar supaya beriman kepada Yesus dalam segala keadaan.
Saudara-saudari, apa arti dan relevansi nas renungan ini bagi kita sekarang di era revolusi industrialisasi 4.0 yang memunculkan terjadinya gelombang tsunami teknologi digital yang menyembur masuk kedalam perahu kehidupan kita bersama Gereja dan masyarakat dunia masa kini? Umat Kristen perdana dan kita warga Gereja masa kini kiranya menghayati kisah ini sebagai panggilan iman agar setia sampai akhir kepada Yesus sebagai TUHAN atas semesta. Mari mewaspadai agar tantangan kemiskinan/ketidak-adilan atau kekayaan atau sektarianisme agama jangan pernah menenggelamkan ‘perahu kehidupan persaudaraan’ kita. Mari meyakini bahwa Yesus sebagai ‘Nakhoda Agung’ senantiasa ‘hadir’ seturut cara dan waktu-Nya untuk menolong dan meneduhkan kita bahkan juga di saat-saat badai kehidupan menerjang yang sarat keraguan dan ketidak-pastian. Karena Yesus telah berjanji hendak menyertai orang beriman bersama Gereja sampai akhir segenap zaman (Mat. 28:20b). TUHAN memberkati dan melindungi kita bersama bangsa Indonesia yang merayakan Dirgahayu Indonesia, 17/08/2019. Salam merdeka. *AAZS*

wajah web201903

Login Form