‘Roti Hidup Untuk Dunia Lapar’

HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu XI - Trinitatis, 01 September 2019

‘Roti Hidup Untuk Dunia Lapar’
(Yohanes 6:43-54)


Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Dunia ini cukup untuk kebutuhan setiap orang, tetapi bukan untuk kerakusan banyak orang, begitu kata Mahatma Gandhi (1869-1948), seorang pejuang hak asasi dan kemerdekaan India. Kini penduduk bumi lebih dari 7 (tujuh) miliar orang. Secara matematis, diperkirakan bahwa ada lebih dari 365.000 orang yang lahir setiap hari dan ada sekitar 152.000 orang yang meninggal per hari di seluruh dunia. Demikian dilansir oleh suatu situs wholesomewords.org dan saripedia.wordpress.com. Sementara itu, setiap hari ada kurang-lebih 19 juta orang yang berulang tahun kelahiran. Dan secara khusus, diperkirakan ada 25.000 orang yang (menderita) mati kelaparan atau sama dengan seperempat juta orang setiap 10 hari, demikian suatu survey oleh J.M. Sleeth untuk menggambarkan salah satu sisi kelam belahan dunia kita. Pernah suatu laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa bidang Human Development, mencatat anggaran biaya tertinggi di dunia dialokasikan untuk persenjataan dan narkotika. Sebaliknya, dana untuk biaya pendidikan dasar dunia serta air minum dan sanitasi sangat rendah. Prihatin.
Saudara-saudari, nas acuan renungan ini mengungkapkan bahwa ‘Roti’ secara metaforis hendak melambangkan Firman Allah - yaitu Yesus Kristus - sebagai sumber kehidupan sejati. Yesus melambangkan diri-Nya sebagai ‘Roti Hidup’ – bahkan satu-satunya ‘Roti’ yang menghidupkan, ‘Roti’ yang kemudian diberikan-Nya kepada murid-muridNya menjelang pengorbanan-Nya. Dalam konteks kehidupan dan potret dunia yang ‘lapar’ dan ‘haus’, apakah arti dan relevansi dari Yesus yang bersabda: AKU-lah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi; dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." (Yoh. 6:35, 51)? Arti dan relevansi dari Sabda Yesus tersebut, antara lain adalah hendak mengajarkan dan menegaskan bahwa:
(a) Yesus adalah esensi hidup sejati yang menunjuk terutama pada kehidupan kekal yang melampaui perkara jasmani/fisikal. Tanpa Yesus ‘mungkin’ kita ada, tetapi tidak memiliki hidup abadi. Karena Yesus adalah esensi hidup, maka Dia adalah ‘roti hidup’.
(b) Roti (‘nasi’, ‘sagusagu’) adalah bahan makanan pokok untuk mempertahankan hidup. Mari memahami makanan dan minuman bukan sesuatu yang dengan sendirinya pasti ada (take food for granted), melainkan sebagai bukti pemeliharaan Allah (providentia Dei). Tanpa makanan, hidup ini tidak dapat berlanjut. Tetapi apakah kehidupan itu? Tentu saja Yesus hendak mengatakan makna terdalam secara rohani dari kehidupan baru. Dulu pemberian manna oleh Allah di padang pasir bagi moyang Yahudi bukanlah untuk hidup sejati (Kel. 16). Yesus menegaskan, manna atau roti Allah yang sejati adalah Yesus yang turun dari sorga untuk memberi hidup baru yang sejati bagi orang beriman pada-Nya (Yoh. 6:25-48). ‘Heavenly bread talk’.
(c) Undangan untuk datang dan percaya pada Yesus berarti supaya kita setia mengikuti-Nya yang membuat kita tidak akan lapar dan haus lagi karena kuasa dan kebenaran Firman-Nya (bnd. Mat. 5:6). Karena dosa, kita manusia tak akan pernah lagi merasa puas melainkan selalu merasa ‘haus dan lapar’ (Rm 3:10,23; 6:23). Rasa ‘lapar dan haus’ berakhir ketika kita datang dan percaya kepada Yesus. Hati dan jiwa yang lapar, haus, mengembara, dan berlelah-lelah akan menemukan perhentiannya setelah dipuaskan dan dikenyangkan oleh Sabda Yesus. Dan Allah melalui Yesus menjadi kepuasan jiwa dan keselamatan kita (2 Kor. 5:12). Karena itu, percayai dan nikmatilah Sabda kebenaran-Nya dengan cara mendengar dan memelihara Firman Allah dalam keseharianmu. Niscaya, kita dikenyangkan dan dipuaskan di tengah dunia yang lapar dan haus. Dan ayo berbagi ‘roti’. Salam. *AAZS*

wajah web201903

Login Form