Karena ‘HIKMAT’

 

HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu XII - Trinitatis, 08 September 2019

Karena ‘HIKMAT’
(Amsal 8:12-21)


Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Apakah dan/atau siapakah hikmat? Dari manakah datangnya hikmat/kebijaksanaan/kecerdasan dan apakah tujuannya? Alkitab mengungkap dan menjelaskan bahwa hikmat (ôkmâ; habisukon; hapistaran) adalah ‘sebentuk pribadi’/’personal’. Sang ‘hikmat’ adalah subjek, dan bukan predikat (Amsal 8:12). Alkitab memastikan bahwa pangkal hikmat berasal dari pemberian Allah; asal-usul kebijaksanaan (sophia) berasal dari anugerah ilahi. Pangkal hikmat berawal dari sebentuk sikap takut akan TUHAN dan mengenal yang Mahakudus adalah pengertian; dan menjauhi kejahatan itulah akal budi (Amsal 1:7; 9:10; Mzm. 111:10; Ayub 28:28). Alkitab menegaskan bahwa landasan hikmat dan pengetahuan dihubungkan langsung dengan sebentuk sikap ‘takut akan TUHAN’ (Amsal 1:7; 9:10) - yaitu takut melakukan yang jahat, tetapi berani melakukan yang benar, baik, dan adil. Takut akan TUHAN adalah juga berkait dengan sebentuk sikap membenci kejahatan, kesombongan, kecongkakan, dan mulut yang sarat tipu muslihat (Amsal 8:13). Hikmat menghimbau orang yang tak berpengalaman supaya cerdas; orang bebal supaya mengerti dalam hati. Lidah sang hikmat mengatakan kebenaran, bukan kepalsuan (hoax). Ucapannya adil dan tidak belat-belit (Amsal 8:5-9). Ciri orang berhikmat yaitu mengenal Allah dan taat pada perintah-Nya. Manfaat hikmat memampukan kita membedakan perihal kehendak Allah: apa yang benar, baik, kudus, dan purna serta merawatnya.
Alkitab Perjanjian Lama menginformasikan raja Salomo sebagai ‘empu hikmat’, ‘pakar hikmat’ karena secara khusus TUHAN telah mengaruniakan kepadanya sebentuk ‘hati yang penuh hikmat dan pengertian untuk menimbang perkara (1Raja 3:5,9,12). Kitab Amsal menegaskan bahwa HIKMAT dikaitkan dengan permulaan karya Allah perihal penciptaan alam semesta (Amsal 8:22-31). Karena hikmat, maka para raja, pembesar, bangsawan, dan para hakim memerintah serta menetapkan keadilan. Pemerintah yang berwibawa berasal dari Allah. Karena itu umat perlu tunduk kepada pemerintah yang berwibawa karena Allah berkuasa di atas segalanya; dan Allah tentu berkuasa atas pemerintah (Amsal 8:15-16; Roma 13:1-7).
Alkitab Perjanjian Baru kemudian menegaskan dan memastikan bahwa peristiwa Yesus Kristus telah ‘menjadi HIKMAT bagi kita’ (1 Kor 1:30) dan yang ‘di dalam DIA’ kita jadinya mengenal rahasia (misteri) Allah. Sebab di dalam Yesus ‘tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan’ (Kol. 2:3). Karena itu, barangsiapa yang percaya dan setia pada Yesus, maka ia telah menemukan dan memperoleh HIKMAT bahkan memperoleh hikmat sejati. Karena itu, marilah menerima dan mewariskan HIKMAT itu lintas generasi dan turun-temurun melalui iman dan rahmat di dalam nama Yesus Kristus, Sang Hikmat.
Saudara-saudari, mari makin sadar konteks bahwa kehidupan kita kini sedang terkait erat dengan era revolusi industri 4,0 (bahkan sedang menuju 5,0) sebagai bagian dari hikmat/kecerdasan manusia, yang ciri-cirinya antara lain ditandai dengan kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence) melalui penciptaan robot-robot, teknologi berbasis internet (the internet of things), teknologi nano, bioteknologi, printer 3D, komputasi kuantum, blockchain, dan entah apa lagi nanti namanya, dst. Lalu bagaimana kita memahami relevansi HIKMAT Allah bagi orang beriman dalam menghadapi aneka tantang, gumul, dan juang di tengah kehidupan gereja, masyarakat, dan dunia masa kini? Apakah kita semakin berhikmat dan semakin lebih baik dan matang secara rohani, lebih menyadari martabat kemanusiaan, bertanggung-jawab, terbuka bagi orang lain, dan siap melayani sesama sebagai sisi horisontal dari landasan hikmat (‘takut akan Allah’)? Agar kita semakin berhikmat, maka terimalah Yesus Kristus sebagai hikmat Allah melalui Firman-Nya dan percayailah! Karena di dalam dan melalui peristiwa YESUS, kita dapat menemukan segala harta hikmat dan pengetahuan’ yang tersembunyi (Kol. 2:3). Dan giliran kita sekarang membagi dan mewariskannya untuk dunia yang sedang dalam proses perjalanan merindukan hikmat sejati . Salam. *AAZS*

wajah web201903