Yang Rendah Hati akan Ditinggikan

HKBP Yogyakarta Online
Renungan Minggu XIII - Trinitatis, 15 September 2019

Yang Rendah Hati akan Ditinggikan
(Lukas 14:7-11)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Kitab Injil mencatat bahwa dalam pengajaran-Nya, Yesus kerap menggunakan serangkaian perumpamaan (parabole) untuk membantu para pendengar memahami dan memaknai apa dan bagaimana itu Kerajaan Allah (Kerajaan Sorga). Suatu perumpamaan biasanya merupakan suatu ‘kisah sederhana dan ringkas dari kehidupan sehari-hari’ yang hendak menyatakan suatu kebenaran bagi pendengar/pembaca. Kiat untuk memahami dan memetik makna suatu perumpamaan dari Yesus, mestilah dihubungkan dengan konteksnya agar ditemukan pesan utama dan tidak kehilangan maknanya.
Salah satu perumpamaan dari Yesus yakni perihal ‘orang yang akan direndahkan’ dan ‘orang yang akan ditinggikan’ dalam Kerajaan Allah. Nas acuan ini mencatat bahwa dalam suatu acara perjamuan kawin, Yesus mulai berperumpamaan untuk membangkitkan suatu penghayatan dalam hati pendengar dalam rangka merefleksikan-ulang suatu kebenaran pokok perihal Kerajaan Allah. Yesus mengawali perumpamaan-Nya dengan kalimat: "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan ...” (Luk. 14:8). Yesus mengucapkan perumpamaan tersebut karena melihat para tamu ingin tempat-tempat terhormat. Orang-orang Farisi, misalnya, suka tempat-tempat terhormat karena mungkin merasa sebagai pemuka rohani bangsa (Lk. 11:43). Ungkapan ini mengingatkan kita pada suatu nasihat klasik dalam Kitab Amsal yang mengatakan: “Jangan berlagak di hadapan raja, atau berdiri di tempat para pembesar. Karena lebih baik orang berkata kepadamu: "Naiklah ke mari," daripada engkau direndahkan di hadapan orang mulia” (Amsal 25:6-7).
Kata kunci untuk menemukan pesan pokok perumpamaan dari Yesus tersebut adalah dengan memahami ucapan: “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan" (Luk. 14:11). Lalu apakah yang dimaksud dengan ungkapan meninggikan diri dan merendahkan diri? Karena perumpamaan ini diucapkan berkait dengan perjamuan dalam Kerajaan Allah, maka ‘orang yang meninggikan diri’ menunjuk pada orang yang yakin benar dan suci di hadapan Allah sehingga harus diberi tempat terhormat pada “perjamuan agung” itu. Kita bandingkanlah misalnya sikap doa orang Farisi yang merasa hebat rohani (Luk. 18:9-14). Sementara orang yang merendahkan diri justru sebaliknya; ia tidak merasa suci dan benar di hadapan Allah; ia hanya mengandalkan rahmat Allah yang dapat menyucikan dan menyelamatkannya. Contoh orang yang demikian adalah si pemungut cukai yang berdoa di pojok Bait Suci, yang tidak sanggup menengadah ke atas selain mohon belas-kasih Allah (Luk 18:9-14).
Saudara-saudari, di mata Allah tidak ada orang ‘VIP’ (Very Important Person) – dan juga tidak ada orang gembel. Sesungguhnya Allah mencintai segenap umat dengan kasih yang begitu besar. Tetapi celakalah yang memandang dirinya “VIP” di hadapan Allah, sebab di mata Allah hanya ada satu manusia ‘VIP’ yaitu ‘manusia yang merendahkan diri dalam arti sebenar-benarnya’ – sama seperti Yesus yang tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan mengosongkan diri-Nya menjadi manusia untuk melayani dan mati di kayu salib dan menjadi tebusan bagi banyak orang. Karena itulah Allah meninggikan-Nya bahkan mengaruniakan nama di atas segala nama. (Flp. 2:5-11; Mrk 10:45). Dan itulah ‘perjalanan yang ditempuh oleh Yesus’ dengan ikhlas yaitu: merendah/direndahkan dan taat bahkan sampai mati, tetapi kemudian ditinggikan dan akhirnya menjadi TUHAN atas umat dan semesta. Karena itu, dalam menjalani proses kehidupan ini, marilah kita tetap rendah hati! Dan rendahkanlah dirimu ‘serendah mutiara di dasar laut’ supaya ditinggikan oleh Allah yang bersemayam di tempat tinggi dan juga di hati yang remuk dan rendah hati (Yes. 57:15). Salam. *AAZS*

wajah web201903

Login Form