Beribadahlah Hanya Kepada TUHAN!

 

HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu XIV - Trinitatis, 22 September 2019

Beribadahlah Hanya Kepada TUHAN!
(Yosua 24:13-25)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Amanat atau wasiat penting dari seseorang tokoh atau pemimpin yang berpengaruh atau dari sahabat/orangtua terkasih tentulah sangat berkesan dan terngiang-ngiang dan biasanya menjadi concern (‘keprihatinan’) utama. Pidato/wejangan terakhir Presiden Soekarno tahun 1966 yang berjudul ‘Jasmerah’ (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) misalnya, amat mengesankan. Bagi orang beriman (warga Kristiani), pesan-pesan utama atau amanat terakhir dari Yesus telah dijadikan sebagai rangkaian misi utama Gereja. Yaitu: (a) Mengabarkan Injil sampai ke ujung bumi; (b) Menyelenggarakan sakramen baptisan dan perjamuan kudus; (c) Memberitakan pengampunan dosa dalam nama-Nya; dan seterusnya.
Berkait dengan nas acuan renungan ini, Alkitab mencatat bahwa pada akhir hidupnya, Yosua - sebagai pemimpin spiritual dan militer - mengumpulkan semua umat Israel dan kemudian memimpin mereka dalam suatu upacara pembaruan perjanjian di kota Sikhem. Isi dan inti pembaruan perjanjian tersebut adalah memastikan ikrar setia umat supaya hanya menyembah TUHAN serta mengabdi pada-Nya. Yosua menekankan bahwa ikrar setia tersebut didasarkan pada iman akan pemeliharaan dan kebaikan serta belas-kasih TUHAN saja pada masa lalu hingga kini yang membuat umat-Nya terberkati dan bertahan. Kemudian juga didasarkan pada janji setia-Nya kepada bapa-bapa leluhur sampai penaklukan Tanah Kanaan sebagai Tanah Terjanji (Yos. 24:1-13). Yosua menegaskan bahwa TUHAN-lah yang berdaulat dan bertanggung-jawab untuk semua yang terjadi demi kebaikan umat pilihan-Nya. TUHAN (Yahwe) telah melakukan suatu tindakan penebusan bagi umat-Nya. Yosua menawarkan suatu pilihan dengan mengatakan: “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yos. 24:15b). Kemudian umat menanggapinya dengan mengucapkan ikrar setia yang isinya: “... kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah, dan Firman-Nya akan kami dengarkan” (ayat 24b) dan tidak kepada dewa-dewi atau benda-benda (patung) buatan jari manusia (Yos. 24:14-28). Terkait kepastian perjanjian pembaruan itu, maka didirikanlah sebuah batu besar (monumen) di Sikhem untuk memeringati rangkaian peristiwa dan ikrar setia tersebut (ayat 25-28).
Saudara-saudari, apa arti dan relevansi nas renungan ini bagi kita dalam kehidupan beribadah (bergereja) dan bermasyarakat masa kini? Dulu umat tergoda untuk menyembah ‘batu’ atau ‘patung’ buatan jari manusia atau ‘pohon besar’ yang diyakini sebagai bentuk kehadiran kuasa “ilahi” atau “tuhan” atau “dewa” dan kemudian dipuja dan disembah. Tetapi sekarang di era revolusi industrialisasi 4 ini (era teknologi digital), godaan itu telah cenderung bergeser menjadi ‘pemujaan’ terhadap apa yang dinamakan sebagai ‘keserakahan’ (‘hamongkuson’, greedy) yang mengambil bentuk dalam mempertuhankan (memperilah) uang atau jabatan duniawi atau iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang secara diam-diam telah menggantikan posisi TUHAN. Karena itu, marilah kita barui-ulang perjanjian dan pilihan kita dengan keputusan ikrar setia kepada TUHAN yang kita sembah di dalam nama Allah Bapa, Anak-Nya Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Dengan mengandalkan belas-kasih dan penyertaan TUHAN, kita yakin akan dimampukan untuk bersyukur atas apa yang kita peroleh karena anugerah-Nya. Dan pemberian terbaik dari TUHAN adalah Firman-Nya yang berpusat pada Yesus Kristus, Jurus’lamat kita. Karena itu, marilah setia beribadah hanya kepada TUHAN; dan jangan pernah ada ilah lain di hadapan-Nya. Marilah menomorsatukan TUHAN! Dan marilah kita lebih cinta, lebih taat, dan lebih takut hanya kepada TUHAN daripada kepada manusia yang semakin cerdas di era teknologi digital ini. Salam ikrar setia. *AAZS*

wajah web201903

Login Form