Memperlengkapi Orang-orang Kudus

HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu XV - Trinitatis, 29 September 2019

‘Memperlengkapi Orang-orang Kudus’
(pròs tòn katartismòn tòn hagíon)
(Efesus 4:7-16)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Nas acuan renungan dari Efesus 4 ini sangat penting kita pahami untuk memastikan-ulang mengenai fungsi atau peran masing-masing pelayan bersama warga dalam konteks kehidupan berjemaat supaya kemudian menjadi jemaat misioner, jemaat yang bermisi karena visi dalam Yesus. Ibarat tubuh manusia yang tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota dan masing-masing bagian memiliki fungsi, demikian halnya dalam kehidupan berjemaat supaya masing-masing memahami fungsi dan sasaran yang dicapai.
Alkitab menegaskan bahwa Allah - melalui Yesus Kristus dan Roh Kudus – telah memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala (para imam/pendeta) dan pengajar-pengajar (guru Injil) di lingkungan gerejawi (Efesus 4:11). Pemberian itu merupakan karunia dari Allah terkait pelayanan gerejawi. Tujuan pemberian itu berfungsi untuk memperlengkapi orang-orang kudus yaitu warga jemaat bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus (Efesus 4:12; 2:20-22). Mari kita perhatikan istilah yang digunakan yaitu katartismòn yang berarti: memperlengkapi, melatih, dan menyempurnakan (equipping; training, perfecting) orang-orang kudus yaitu warga jemaat dalam rangka pekerjaan pelayanan dan pembangunan tubuh Kristus. Dan mari kita perhatikan juga istilah diakonías yang berarti pelayanan dalam arti luas dan oíkodomèn yang berarti: membangun; menguatkan, dan memotivasi, bahkan mengobarkan semangat ‘warga gereja’ (orang beriman) sebagai “tubuh Kristus” (‘pamatang ni Kristus’). Bahkan tujuan yang lebih luas yakni mencapai kesatuan semua kita kelak dalam iman dan pengetahuan yang benar dari Anak Allah, kedewasaan penuh, matang, dan tumbuh dalam kepenuhan Kristus. Dan karena tujuannya adalah kedewasaan sempurna dalam Kristus, maka supaya warga jemaat jangan lagi kekanak-kanakan menghadapi ajaran palsu (hoax) dan kelicikan yang menyesatkan, tetapi berpegang teguh pada ajaran dan tradisi rasuli dan kebenaran di dalam Kristus sebagai Kepala (Ef. 4:13-15).
Saudara-saudari, pengakuan iman gereja secara oikumenis menegaskan bahwa Gereja adalah sebagai ‘persekutuan orang-orang kudus’ (the communion of saints) yaitu orang-orang beriman yang telah dipanggil, dikuduskan, dan ditetapkan oleh Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus untuk bersekutu, bersaksi, dan melayani. Gereja adalah kudus, am (umum), esa, dan rasuli. Dan tanda dari Gereja yang benar adalah: (a) Kalau Injil diberitakan dan diajarkan dengan murni; (b) Kalau sakramen baptisan dan perjamuan kudus dilayankan dengan benar; dan (c) Kalau hukum penggembalaan dan siasat gereja dijalankan dengan benar. Demikian Konfesi HKBP 1996.
Saudara-saudari, apakah arti dan relevansi dari nas renungan ini bagi kita orang beriman di era teknologi digital yang sarat dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence) masa kini? Marilah menyadari dan memaknai-ulang tugas pokok dan fungsi masing-masing pelayan dan warga berikut talenta masing-masing serta sasaran (goal) yang hendak dicapai. Para pelayan tahbisan misalnya (pendeta/gembala/guru injil, diakones, evangelis, penatua, dll), kiranya memahami-ulang fungsi masing-masing berdasarkan Firman TUHAN agar dimampukan memperlengkapi, memotivasi, melatih, dan menyemangati warga jemaat supaya pada gilirannya menjadi JEMAAT MISIONER untuk memajukan pelayanan di tengah gereja dan masyarakat. Bahkan kemudian jemaat dapat “menguduskan” dunia ini melalui keterlibatannya dalam kehidupan sosial/budaya, politik, ekonomi, dan teknologi. Firman TUHAN yang berpusat pada Yesus Kristus menjadi sumber pokok dan inspirasi bagi umat beriman dalam rangka memperlengkapi warga jemaat untuk “pembangunan tubuh Kristus” di dunia tempat di mana Gereja diutus untuk bersaksi, bersekutu, dan melayani, dengan meneladani Kristus. Salam misioner. *AAZS*

wajah web201903

Login Form