‘Tiga Tahun Aku Menasihatimu dengan Air Mata’

HKBP Yogyakarta Online,

Renungan Minggu XVI - Trinitatis, 06 Oktober 2019

‘Tiga Tahun Aku Menasihatimu dengan Air Mata’
(Kisah Para Rasul 20:21-31)


Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus. Proses kehidupan yang kita jalani berkait erat dengan sang waktu; di dalmnya ada saat ‘berjumpa dan berpisah’ – entah itu mengesankan, mengharukan, atau tidak. Kita jumpa untuk berpisah; karenanya ada yang bilang: ‘bukan perpisahan yang kutangisi,tetapi perjumpaan; tetapi ‘mengapa harus berjumpa, kalau harus berpisah ...’.
Saudara-saudari, nas renungan dari Kitab Kisah Rasul pasal 20 ini berkait dengan suatu ‘wejangan perpisahan’ yang mengharukan berisi sebentuk kesan-pesan akhir dari rasul Paulus kepada para penatua jemaat Efesus, mengambil tempat di Miletus karena ‘keterbatasan waktu’. Isi wejangan perpisahan tersebut, antara lain: (a) Menyatakan bahwa rasul Paulus telah sungguh-sungguh menggembalakan bahkan juga menasihati jemaat Efesus selama 3 tahun dengan mencucurkan air mata; (b) Mengingatkan supaya tetap waspada akan bahaya yang mengancam jemaat; (c) Mengingatkan penilik/penatua (presbyteros) yang ditetapkan oleh Roh Kudus supaya menjaga diri dan kawanan serta menggembalakannya; (c) Mewaspadai bahaya yang menyesatkan warga jemaat dengan memastikan bahwa Kristus dan Firman-Nya adalah satu-satunya dasar dan pusat kehidupan jemaat. Rasul Paulus mengingatkan, sesudah ia pergi, “serigala-serigala ganas” akan masuk ke tengah-tengah jemaat – bahkan munculdarianatara mereka - yaitu yang menebar kebohongan (hoax) dengan memutar-balikkan berita Injil dan juga mereka yang serakah dan cinta uang.
Alkitab menginfokan bahwa dalam proses pelayanannya memberitakan Injil, rasul Paulus kerap mengalami banyak tantangan yang sarat bahaya, bahkan maut senantiasa mengintipnya. Ia didera, dilempari, ditindas, dianiaya, diadili, dipenjarakan dan dilepas; mengalami karam kapal yang terbawa arus ke tengah laut; digigit ular berbisa, dll. Tetapi Paulus tidak tawar hati karena memiliki Injil Kristus sebagai kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Paulus tetap fokus pada tugas panggilan yang dipercayakan oleh Allah supaya ‘... Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku baik oleh hidupku, mapun oleh matiku’ (Flp. 1:20). Bagi rasul Paulus, hidup dan pelayanan bagi Kristus adalah ibarat sebentuk ‘perlombaan’ rohani yang harus dikuti dengan kesetiaan mutlak bagi TUHAN supaya ‘mencapai garis akhir’ dan memelihara iman (Kis. 20:24; 2 Tim. 4:7).
Karena itu Paulus berkata: ‘berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada henti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata’ (Kis 20:31). Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan Firman kasih karunia-Nya (Kis 20:31-32). Perihal menasihati seseorang yang disertai doa dan air mata, ada petuah dari seorang pendeta kepada Monica mengenai putranya bernama Agustinus (354 - 430) bahwa ‘anak yang banyak didoakan dengan air mata, mustahil ia binasa’. Dan benar, di kemudian hari Agustinus bertobat dan menjadi salah seorang bapa gereja terkemuka yang teologinya banyak dihayati Gereja.
Di akhir wejangan sebelum berpisah, rasul Paulus berlutut dan berdoa bersama semua penatua jemaat Efesus. Maka menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia sebelum mereka mengantar Paulus ke kapal (Kis 20:38).
Saudara-saudari, dalam konteks kehidupan dan pelayanan gerejawi di era disrupsi dan revolusi teknologi digital masa kini, marilah kita: (a) Meneladani karakter kerohanian rasul Paulus yang melayani dengan sepenuh hati dengan iringan doa dan air mata pelayanan; (b) Menjaga dan merawat hati serta mengendalikan diri dalam berjemaat; (c) Mewaspadai ‘serigala-serigala ganas’ masa kini yaitu kebohongan (hoax) dan roh keserakahan dan perpecahan yang dapat merusak jemaat; (d) Menghayati kuasa dan kebenaran Firman TUHAN sebagai pusat insprasi dan kekuatan dalam kehidupan berjemaat. Salam. *AAZS*

wajah web201903

Login Form