Hidup dan Tinggallah di Jalan TUHAN!

 

HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu XVII - Trinitatis, 13 Oktober 2019

Hidup dan Tinggallah di Jalan TUHAN!
(Mazmur 25:8-15)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus. Mungkinkah umat manusia yang terbatas ini memiliki kemampuan untuk melacak dan memahami jalan, pikiran, dan rancangan TUHAN Allah yang tidak terbatas? Kitab Suci mengungkap betapa dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Ibarat ‘... setinggi langit dari bumi, demikian tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu’, begitu kata Alkitab (Rm. 11:33; Yes. 55:8-9). Kendati demikian, TUHAN sendiri telah mengungkap bahwa jalan dan kehendak-Nya melalui Sabda-Nya.
Mazmur pasal 25 ini terutama berbicara mengenai sebentuk permohonan supaya TUHAN berkenan memberitahu dan menunjukkan jalan-jalan TUHAN yang berisi kasih-setia dan kebenaran (Mzm 25:4,10). TUHAN mengajarkan jalan-Nya kepada orang yang rendah hati dan kepada orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya (Mzm. 25:9-10). Sama seperti Musa pernah memohon agar TUHAN berkenan memberitahukan jalan-Nya supaya mendapat kasih karunia untuk memimpin umat-Nya (Kel. 33:13). Kemudian pemazmur menegaskan bahwa TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka (Mzm. 25:14). Nabi Hosea mengungkap bahwa jalan-jalan TUHAN adalah lurus, dan orang benar menempuhnya, tetapi pemberontak tergelincir di situ. Ai tigor do angka dalan ni Jahowa, jala halak partigor mardalani disi; alai anggo halak parjahat tarsulandit do disi (Hosea 14:10; Amsal 10:29).
Alkitab menegaskan bahwa TUHAN Allah telah mengungkapkan jalan dan kehendak-Nya yang dinyatakan melalui Yesus Kristus yang bersabda: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup ...’ (Yoh. 14:4-6; Kis 2:28; 13:10). Jalan dan kehendak Allah kemudian membawa orang beriman kepada kehidupan. Karena memang Yesus Kristus adalah jalan sejati yang membawa kepada kehidupan ataupun jalan yang menuntun kepada kebenaran dan kehidupan, ataupun jalan yang benar dan hidup yang mengantarkan setiap orang beriman kepada Allah Bapa. Karena itu, Yesus Kristus adalah pusat (sentra) menuju jalan kehidupan sejati. Tema mengenai “dua jalan” (sempit/lebar/; berkat/kutuk; kehidupan/kematian; keabadian/kefanaan) yang sering muncul dalam Alkitab menawarkan kepada setiap orang beriman supaya menempuh kehidupan melalui jalan dan kehendak Allah dalam Yesus.
Saudara-saudari, suatu cara agar kita hidup di jalan TUHAN, antara lain bahwa: (a) Kita mesti beriman di dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus serta hidup dan tinggal di jalan-Nya yang berisi kasih setia dan kebenaran; (b) Kita mesti sungguh-sungguh merindukan supaya dipimpin oleh Allah untuk mengetahui jalan-jalan-Nya dan kebenaran Firman-Nya serta menanti-Nya sepanjang hari (Mzm 25:4-5); (c) Kita mesti taat dan rendah hati di hadapan-Nya, mengabdikan diri serta hidup saleh dan takut akan TUHAN (ayat 9,10, 12-14); (d) Kita harus meninggalkan segala bentuk dosa, karena memmang dosa menghalangi kita untuk mengenal dan mengetahui jalan-jalan Allah (Mzm 25:4-8); kemudian kita memohon pengampunan dosa – termasuk dosa masa muda - setelah kita tahu dan menyadari kasih setia dan kebaikan TUHAN. Sebab rahmat dan kasih setia TUHAN sudah ada sejak purbakala, bahkan sejak dahulu kala (Mzm. 25:7).
Saudara-saudari, karena jalan-jalan TUHAN berisi belas kasih, kebenaran, dan kerendahan hati, maka marilah kita hidup dan berkarya nyata dengan mengandalkan belas-kasih, kebenaran, dan kerendahan hati. “Marilah kita tinggal di Jl. Syukur, Jl. Benar, dan Jl. Rendah Hati; dan bukan lagi di Jl. Sungut-sungut, Jl. Congkak, atau Jl. Hoax.” Salam. *AAZS*

wajah web201903

Login Form