Dengar dan Lakukan Amsal-Nya

HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu XXI Trinitatis, 10 November 2019

Dengar dan Lakukan Amsal-Nya
(Amsal 19:20-29)

      Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Nas renungan ini diacu dari Kitab Amsal yang antara lain bertujuan supaya umat (keluarga sebagai inti) mempunyai hikmat (intelektual) dan moral (spiritual) dalam keseharian (Amsal 1:2-3). Alkitab memastikan bahwa pangkal hikmat (ôkmâ) adalah pemberian Allah; asal-usul kebijaksanaan (sophia) adalah pemberian ilahi. Landasan hikmat yang dibutuhkan untuk memiliki semuanya itu adalah takut akan TUHAN (Amsal 1:7; 9:10). Dan inilah ciri khas hikmat – pertama-tama dan terutama mestilah dihubungkan langsung dengan ‘takut akan TUHAN’ yang artinya adalah takut melakukan yang jahat, tetapi berani melaksanakan yang benar dan baik - seturut pesan Sabda TUHAN. Sebab pangkal hikmat adalah takut akan TUHAN; dan menjauhi kejahatan itulah akal budi (Amsal 9:10; Mzm. 111:10; Ayub 28:28). Dan ciri orang berhikmat yakni mengenal Allah dan taat pada perintah-Nya (Amsal 1:7; 9:10; Yes 11:2; Luk. 21:15). Hikmat bermanfaat memampukan kita membedakan kehendak Allah: apa yang benar, baik, kudus, dan purna; kemudian kita diminta supaya membarui sikap seturut Firman dan kehendak-Nya.
      Saudara-saudari, secara khusus nas acuan renungan ini (Amsal 19:20-29), antara lain hendak mengajak dan memastikan supaya kita:
(a) Belajar mendengar (learning by hearing) dan menerima nasihat serta didikan agar kita menjadi bijak dan berhikmat di masa depan. Dalam amanatnya kepada umat, Musa menegaskan supaya umat mendengar (syema) bahwa TUHAN Allah itu esa dan kemudian supaya umat – dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan – mengasihi TUHAN Allah (Ul. 6:4-5). Pada titik ini perlu kita perhatikan bahwa mendengar adalah suatu tugas penting bagi orang beriman atau seorang murid; dan mari kita memohon supaya TUHAN mempertajam pendengaran kita setiap pagi untuk mendengar seperti seorang murid (Yes. 50:4), terutama mendengar Firman TUHAN dengan cara membaca, merenung, dan memeliharanya setiap hari. Karena iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh Firman-Nya. Yesus pernah mengaitkan orang yang berbahagia yaitu mereka yang mendengarkan Firman Allah dan memelihara-nya (Luk. 11:28).
(b) Meyakini dan menghayati bahwa keputusan TUHAN melampaui rancangan manusia; dan kendati manusia merancang jalan-jalannya, tetapi TUHAN-lah yang menentukan. Karena itulah – sekali lagi – kita diminta bersikap ‘takut akan TUHAN’ yaitu takut melakukan yang jahat, tetapi berani melakukan yang benar dan baik - seturut Sabda-Nya.
(c) Memilih cara hidup ugahari (‘sederhana’) dan dapat dipercaya (setia) dan bukan menjadi pembohong/penipu atau penyebar kepalsuan (hoax) yang menyesatkan dan merusak orang lain. Spiritualitas ugahari dan karakter yang dapat dipercaya (trusted) menjadi sesuatu yang dibutuhkan dalam konteks kehidupan kita di era disrupsi dan/atau era pasca-kebenaran (post truth era) di mana manusia amat tergoda mencari pembenaran diri sendiri dan bukan mencari dan memperjuangkan yang benar dan baik. Akhirnya, jangan pernah lupa menghormati ayah-ibu (orangtua) karena haruslah demikian seturut Hukum Allah (Kel. 20:12; Ef 6:1).
Karena itu, marilah terus belajar untuk mendengar dan memelihara serta melakukan amsal/petuah ilahi yaitu Firman Allah yang telah diberitakan melalui Alkitab. Karena Firman Allah telah genap dalam peristiwa Yesus Kristus sebagai ‘Sang Hikmat’ sejati dan telah menjadi hikmat bagi kita (1 Kor. 1:30), karena di dalam DIA tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan’ (Kol. 2:3). Salam. *AAZS*

wajah web201903

Login Form