Memento Mori! Ingatlah akan Hari Kematianmu!

HKBP Yogyakarta Online,
Suatu Renungan Khusus
Akhir Tahun Liturgi Gerejawi, 24 Nopember 2019

Memento Mori! Ingatlah akan Hari Kematianmu!

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Waktu ‘terbang begitu cepat’ (time flies); dan nyaris tak terasa, kita telah tiba di penghujung Akhir Tahun Liturgi Gerejawi 2019. Dan kemudian (akan) memasuki perayaan Awal Tahun Liturgi Gerejawi yaitu Minggu-minggu Adven. ‘Semuanya mengalir, dan tidak ada yang tinggal tetap’ (everything flows and nothing stands still); ta panta rhei, kai ouden menei, begitu kata filsuf Heraklitus dari Yunani. Alkitab menegaskan, tidak ada yang kekal, kecuali Firman Allah (Yes. 40:7-8). Semua kerajaan dunia (Civitas Terrena) akan lenyap, tetapi Kerajaan Allah (Civitas Dei) dalam nama Yesus Kristus dan Roh Kudus adalah kekal (Daniel 7:1-27; Why. 1:8). Sama seperti makhluk ciptaan lain, manusia pun bersifat sementara dan akan melewati jalan fana! Karena itu, kita perlu waktu yang khusus untuk merenungi akhir hidup kita masing-masing nantinya! Dan, minggu akhir tahun liturgi ini adalah menjadi momen yang pas merenunginya.
Ungkapan Latin: Memento Mori yang berarti ‘Ingatlah akan Hari Kematianmu!’ Ingot Ari Hamamatem! Remember that You Will Die! Motto ini mengemuka sudah sejak perkembangan kekristenan yang menekankan adanya keselamatan jiwa dan kebangkitan dari maut melalui iman dan rahmat di dalam nama Yesus Kristus, Penakluk maut. Yesus bersabda: Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya (Yoh. 11:25-26).
Dalam lingkungan gereja HKBP dan yang serumpun, bahwa dalam ibadah minggu akhir tahun liturgi gerejawi tersebut dirangkai dengan suatu acara yang dinamakan Parningotan di Angka na Monding (Peringatan Terhadap Warga yang Meninggal) dalam satu tahun kalender gerejawi. Tidak semua gereja mengadakan peringatan semacam ini. Ada memang beberapa aliran gereja yang melaksanakan peringatan tahunan terhadap sejumlah orang meninggal – setelah beatifikasi (‘dinyatakan kudus’) – kemudian diberi gelar santo (santa) karena istimewa rohaninya. Namun Pengakuan Iman Rasuli secara oikumenis mengajarkan bahwa orang-orang yang percaya dan dibaptis kedalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus telah masuk dalam persekutuan ‘orang-orang kudus’.
Konfesi (Pengakuan Iman) HKBP 1996 pasal 15 mengenai ‘Peringatan Terhadap Orang yang Meninggal’, merumuskan bahwa tujuan Gereja menyelenggarakan acara tersebut, antara lain untuk memantapkan penghayatan iman kita supaya mengingat akan akhir hidup kita sendiri serta meneguhkan pengharapan akan kemenangan Kristus yang mengalahkan maut. Demikian juga pengharapan akan sorga sebagai asal dan tujuan roh dan jiwa kita (surgo sambulo ni tondinta) dan pengharapan akan persekutuan orang beriman dengan TUHAN hingga kedatangan Yesus kelak. Dengan ajaran ini, HKBP menekankan pengharapan keselamatan manusia dari antara orang yang mati di dalam Yesus. Berdasarkan Konfesi tersebut, HKBP melawan tiga pandangan yang mengatakan: (a) Bahwa orang yang hidup dapat menerima berkat dari orang yang mati; (b) Bahwa orang yang mati dapat berhubungan dengan orang yang hidup dengan cara mendoakan arwah-arwah; (c) Bahwa haruslah mendirikan tugu untuk menghormati orang yang mati sebagai cara menerima berkat bagi keturunannya. Kemudian, HKBP menolak semua bentuk ajaran kekafiran terutama ajaran mengenai roh yang mengatakan bahwa roh orang yang meninggal itu hidup dan kemudian menjadi hantu dan menjadi roh leluhur (sumangot). Pada waktu peringatan terhadap orang yang meninggal, baiklah kita ingat untuk bersyukur kepada Allah atas segala perbuatan yang baik semasa hidupnya, tetapi bukan untuk memohon berkat dan tanda kesurupan dari orang yang telah meninggal itu. Demikian status konfesionis HKBP. Karena itu, ‘selagi hari masih siang’, tunaikanlah tugas panggilanmu dan lakukan yang terbaikmu karena iman dan rahmat di dalam Yesus Kristus. Salam.*AAZS*

wajah web201903

Login Form