Firman Telah Menjadi Manusia

HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu Adven II, 08 Desember 2019

Firman Telah Menjadi Manusia
(Hô Lógos Sârx Égéneto)
(Yohanes 1:14-18)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Injil Yohanes menegaskan bahwa: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”. Lalu kemudian, “....Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yoh. 1:1,14). Ini adalah Kabar Gembira (Injil) dan sekaligus menjadi berita Adven dan Natal versi pemberitaan rasul Yohanes kepada orang beriman.
Allah yang tadinya dipahami sebagai yang tidak kelihatan dan tidak mungkin dihampiri manusia dengan kemampuannya sendiri, namun kemudian Allah sendiri yang berinisiasi memperkenalkan dan menampakkan diri-Nya kepada manusia dan memberi diri-Nya untuk dikasihi setelah Allah lebih dulu mengasihi manusia dan dunia. Itu berarti ada pergeseran dan dinamika dari cara Allah yang tadinya tidak kelihatan, jauh, tak terhampiri, dan tersembunyi (Deus absconditus) menjadi Allah yang kelihatan dan nyata (Deus revelatus) yang memuncak dalam inkarnasi Allah menjadi manusia melalui peristiwa Yesus. Dan inilah kemudian yang dinamakan bahwa Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya melalui peristiwa Yesus Kristus yang penuh kasih karunia dan kebenaran.
Istilah kasih karunia (Latin: gratia; Ibrani: hén, khèsèd; Ing: grace; Batak: asi ni roha) menjadi bahasa teologis yang sangat populer, muncul 155 kali dalam (Alkitab) Perjanjian Baru. Alkitab menegaskan bahwa Allah adalah Allah kasih karunia, sumber dari segala belas-kasih dan kasih-sayang yang tak berkesudahan dan tidak habis-habisnya, yang dialamatkan-Nya kepada umat manusia dan memuncak sepenuhnya melalui peristiwa Yesus Kristus (Yoh. 1:14,16; Ef. 1:6-7; Rm 5:17-21). Dengan demikian, sejak dan karena peristiwa Yesus, maka dimulailah tata kasih-karunia dan kebenaran untuk menggantikan tata Hukum (Taurat) yang ‘mematikan’ orang-orang berdosa. Dan kini orang-orang beriman menerima keselamatan dengan cuma-cuma hanya dengan mengandalkan kasih karunia dan kebenaran di dalam Kristus yang menghidupkan. Hukum Taurat - yang diberikan melalui Musa - ditempatkan setelah orang beriman mendapat kasih-karunia.
Saudara-saudari, kini kita sedang memasuki rangkaian Minggu-minggu Adven untuk menandai Awal Tahun Liturgi Gerejawi. Istilah Latin ‘adventus’ artinya ‘kedatangan’ atau ‘ketibaan’; (Batak: ‘haroro’; Yunani: ‘parousia’) – dikaitkan menyebut Minggu Adven yang mengajak umat supaya bertobat dan mempersiapkan hati menyongsong kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Ada tiga bentuk kedatangan Yesus Kristus, yakni: (1) Kedatangan-Nya dalam waktu lampau (in the past) yaitu melalui kelahiran-Nya di Betlehem, pelayanan-Nya, kematian dan kebangkitan-Nya; (2) Kedatangan-Nya dalam waktu sekarang (in the present) yaitu kehadiran-Nya melalui Firman dan Sakramen Perjamuan Kudus; dan (3) Kedatangan-Nya dalam waktu yang akan datang (in the future) yaitu pada akhir segenap waktu, sejarah, dan zaman. Yesus Kristus adalah pusat penantian orang beriman dalam perayaan minggu Adven. Alkitab menginfokan bahwa orang beriman dan segenap makhluk sama-sama merindukan kedatangan Yesus kelak dalam kemuliaan-Nya (Roma 8:19-23).
Karena itu, sembari menanti kedatangan-Nya kelak yang kedua kali, marilah: (a) Menyatakan pertobatan hati, pikiran, dan tindakan serta melakukan yang terbaik semampu dan sekuat kita, selagi hari siang; (b) Menjadi orang beriman yang berbelas-kasih dan menunjukkan kasih-sayang kepada sesama di tengah dunia yang sarat kekerasan dan kebencian; (c) Hidup dalam kebenaran Kristus serta memperjuangkan yang benar dan bukan membenarkan diri sendiri atau menebar kepalsuan (hoax). Salam Minggu Adven. *AAZS*

wajah web201903

Login Form