‘Mencari dan Menemukan Natal yang Hilang’

 

HKBP Yogyakarta Online,
Suatu Renungan Natal 2019

‘Mencari dan Menemukan Natal yang Hilang’

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. S’lamat Natal! Peristiwa Natal yaitu Allah berkenan bersama dan bersahabat dengan manusia (Immanuel). Dengan sukacita dan rasa syukur, kita merayakan pesta kelahiran Yesus Kristus, Raja Damai, yang datang untuk ‘merubuhkan tembok pemisah, yakni perseteruan’ (Ef 2:14) yang memecah-belah umat. Sembari merayakan Natal, kita juga bersyukur mengenangkan 74 tahun kemerdekaan Indonesia sebagai buah dari rahmat Ilahi sebagaimana dikatakan dalam Pembukaan UUD 1945. Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bersama Konferensi Wali-Gereja Indonesia (KWI) mengusung Tema Natal Nasional 2019: Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang (Yoh. 15:14-15). Injil Yohanes memotret Yesus sebagai Sang Guru Agung, yang menenun persahabatan sejati dengan menyerukan pesan cinta kasih (Yoh. 15:14). Ia memperlakukan mereka yang mempraktikkan cinta kasih sebagai sahabat-sahabat-Nya sendiri. Dalam relasi semacam itu, terkuak ruang-ruang baru bagi berkembangnya nilai-nilai luhur perdamaian, kerukunan, dan pengertian. Tindakan dan pesan cinta-kasih dan persahabatan yang diajarkan dan dilakukan-Nya memberi inspirasi mulia bagi kita di zaman ini serta mengilhami kita untuk merawat dan memperkuat tenunan persaudaraan (persahabatan) bagi gereja dan bangsa kita.
Saudara-saudari, dengan semangat dan suka-cita Natal, marilah kita bersyukur kepada Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus serta memohon agar kita dimampukan untuk menemukan dan memaknai-ulang sebentuk pesan Natal - yang mungkin hilang – di era digital ini, a.l.: sbb:
(1) Solidaritas (kesetia-kawanan) mendalam dari Allah yang semakin dekat dengan manusia melalui pengorbanan-Nya dengan menawarkan keselamatan (Flp. 2:5-11; Yoh. 1:1+14; 3:16). Karena itu, kita diajak agar semakin berbelas-kasih, berbela-rasa, dan peduli dalam lingkungan keluarga, Gereja, masyarakat, bangsa, dan dunia yang dilanda penderitaan dan kekerasan.
(2) Sederhana (ugahari) dan bersahaja. Yesus datang dalam kesederhanaan, bukan dalam kemewahan; kedatangan-Nya tidak heboh, tapi dalam keheningan malam. Pemberitaan gerejawi terus menyerukan agar perayaan Natal diselenggarakan secara ugahari namun bermakna. Mari kita jaga agar perayaan Natal tidak lagi tersandera oleh materialisme yang mengurangi makna spiritual Natal. Kiranya cahaya komersialisasi tidak mendominasi dan cahaya TUHAN menjadi ‘bayang-bayang’.
(3) Introspeksi dengan berdiam diri sesaat dalam keheningan untuk meneladani Maria yang menempatkan diri dalam sikap ketersediaan menyambut kehadiran Yesus Kristus, Anak Allah, dalam kehidupan nyata, dalam keseharian tubuh dan jiwa. Dan juga hendak meneladani Yusuf agar kita selalu bersedia mencari kehendak Allah dan kemudian mengikuti-Nya dengan percaya sepenuh hati di tengah dunia yang sarat goda, noda, dan hoax (kepalsuan).
(4) Inklusif dan tidak eksklusif. Sebab keluarga Maria-Yesus-Yusuf menerima dan merayakan perbedaan dengan menyambut kehadiran orang-orang Majus dari Timur yang mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur (Mat. 2:11). Ini mengisyaratkan agar kita sanggup merayakan kemajemukan sosial, agama, dan budaya di Indonesia, Asia, dan dunia. Kita gembira karena tahun 2019 ini mencatat peningkatan indeks kerukunan umat beragama di Indonesia. Dengan Natal Kristus, mari menampakkan sisi-sisi damai dan persahabatan. Perlu diingat bahwa keluarga Maria-Yusuf dan Bayi Kudus adalah mantan ‘pengungsi Timur Tengah’ pada zamannya.
(5) Waspada terhadap ‘Herodes ganas’ gaya modern di era teknologi digital ini yang dengan mudah dan cepat dapat jualan sorga dan agama dengan menebar kepalsuan (hoax) demi takhta dan harta. Dalam konteks kehidupan masa kini yang candu teknologi ‘digitalisme’, kiranya kita perlu ‘diet teknologi’ dan ‘detoksifikasi digital’ supaya kita punya waktu teduh memaknai keheningan dan kesederhanaan Natal. Marilah berhikmat menghadapi situasi dan kondisi sosial-politik-ekonomi-budaya Indonesia ke depan, karena Yesus telah menawarkan hikmat dan persahabatan baru bagi kita. God bless and keep Indonesia. Horas Natal. *AAZS*

wajah web201903

Login Form