Menomor-satukan Perintah Allah atau Adat Istiadat?

HKBP Yogyakarta Online,

Renungan Minggu Septuagesima, 16 Februari 2020

Menomor-satukan Perintah Allah atau Adat Istiadat?

(Markus 7:1-8)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Untuk sebagian kalangan orang Batak Kristen tempo dulu, bila dituduh sebagai ‘tidak beradat’ (‘ndang maradat’ atau ‘belum diadati’) dalam kehidupan sosial, maka hal itu serasa akan membuat lebih malu daripada dituduh sebagai ‘tidak Kristen’. Adat dipahami seakan lebih tinggi dari agama (Kristen). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan: adat adalah aturan (kebiasaan) yang lazim dituruti sejak dulu. Adat-istiadat (tradisi) adalah bagian dari kebudayaan. Dan kebudayaan adalah hasil kegiatan dan ciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat-istiadat.

Nas renungan/khotbah yang diacu dari Markus 7:1-8 ini, antara lain membincangkan hubungan antara Injil (Firman Allah) dan adat-istiadat (kebudayaan) serta posisinya. Sekadar info bahwa orang Farisi dan ahli Taurat telah banyak menambahkan daftar aturan/peraturan adat bahkan menempatkannya sederajat dengan firman Allah. Perlu ditegaskan bahwa Yesus tidak mengecam semua tradisi (adat-istiadat) pada zaman-Nya, tetapi sebentuk tradisi yang bertentangan dengan Firman Allah. Yesus mengecam orang Farisi dan para ahli Taurat karena menempatkan adat-istiadat (tradisi manusia) lebih tinggi dari Firman atau wahyu yaitu perintah (Taurat) TUHAN.

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bertanya kepada Yesus: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?" (Mrk. 7:5). Yesus menjawab dengan mengutip Yesaya: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma beribadah kepada-Ku. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia." (Mrk. 7:6-8). Dan Yesus berkata lagi: "Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat-istiadatmu sendiri (Mrk. 7:9). Yesus mengecam mereka karena mengedepankan segi-segi lahiriah dengan menghiraukan segi-segi rohani yang datang dari karya ilahi.

Yesus menghendaki supaya adat-istiadat didasarkan pada kebenaran yang bersesuaian dengan pesan Firman Allah. Orang beriman dipanggil supaya hidup berpadanan dengan pesan Sabda Tuhan; bahkan pada zaman kasih karunia ini (Ef. 2:8), orang beriman pun berkewajiban menaati perintah Yesus (Firman Allah). Karena orang Kristen meyakini Alkitab sebagai satu-satunya kaidah iman yang sempurna. Martin Luther (1483-1546) menyebutnya: Sola Scriptura atau hanya Alkitab (dan bukan tradisi manusia) sebagai norma iman yang berwibawa. Gereja harus melawan kecenderungan yang mengagungkan tradisi atau hikmat manusia yang mengatasi wibawa Alkitab.

     Saudara-saudari, dalam proses sejarah kekristenan dipahami bahwa hubungan antara Injil (Firman Allah) dan kebudayaan (adat-istiadat) merupakan ‘suatu dialog yang tidak berkesudahan’ (unending dialogue). H.R. Niebuhr (1894-1962), seorang ahli etika KristenAmerika yang populer melalui bukunya Christ and Culture (Kristus dan Kebudayaan), mengurai bagaimana agama Kristen menanggapi kebudayaan. Niebuhr mencatat lima sudut pandang yang banyak diberlakukan: (1) Kristus melawan kebudayaan; (2) Kristus dari kebudayaan; (3) Kristus di atas kebudayaan; (4) Kristus dan kebudayaan dalam paradoks; dan (5) Kristus mentransformasikan kebudayaan. Perihal Kristus mentransformasikan kebudayaan supaya kita pastikan bahwa Firman Allah yaitu Yesus Kristus yang senantiasa hadir melalui kuasa Roh Kudus yang terus membarui orang beriman dan adat-istiadat. Lothar Schreiner (1925-2015), guru besar di Fakultas Teologi Universitas HKBP Nommensen, melalui bukunya, Adat dan Injil, menekankan supaya Adat Batak tidak menjadi hukum agama (nomisme yang agamawi). Karena itu, marilah menomor-satukan perintah Allah yang sempurna melalui Alkitab, dan bukan adat-istiadat yang tidak sempurna. Salam. *AAZS*

wajah web201903

Login Form