TUHAN Gunung Batu Perlindunganku!

HKBP Yogyakarta Online,

Renungan Minggu Estomihi/Quinquagesima, 23 Februari 2020

TUHAN Gunung Batu Perlindunganku!

(Mazmur 31:1-9)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Ada banyak gelar yang digunakan untuk menyebut TUHAN. Karena pengalaman dan penghayatan imannya, pemazmur antara lain memberi gelar kepada TUHAN sebagai ‘Gunung Batu’ (Batak: ‘Partanobatoan’), tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan (Esto-mihi in Deum Protectorem ...) (Mzm. 31:2-3; 18:2-3; 71:3).  Pemazmur meyakini TUHAN berkuasa memberi keselamatan dan telah menyendengkan telinga-Nya mendengar  doa pemazmur menghadapi ‘musuh’. Karena itu pemazmur bersorak memuji TUHAN.

Alkitab menginfokan bahwa ‘gunung’ (‘gunung batu’) dijadikan sebagai lambang keabadian dan kemuliaan Allah Pencipta. Kemudian digambarkan sebagai tempat penampakan Allah; gunung akan  bergetar karena penghakiman-Nya; dan jika Allah menyentuhnya, maka gunung akan berasap, bergoyang, dan meleleh seperti lilin jika TUHAN hadir di atasnya. Dalam tradisi Alkitab, gunung dapat dipahami dan dihampiri sebagai suatu tempat khusus terkait ibadah – sebagaimana Gunung Sinai atau Gunung Sion dalam penghayatan umat Perjanjian Lama. Kemudian Yesus membawa pembaruan dengan bersabda: ‘ ... saatnya akan tiba, dan sudah tiba sekarang bahwa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem, tetapi penyembah-penyembah benar akan menyembah Allah Bapa dalam  roh dan kebenaran’  (Yoh 4:20-21).

Saudara-saudari, di beberapa tradisi daerah memandang gunung sebagai ‘sebentuk titik temu antara surga dan bumi’. Misalnya, sebagian masyarakat Yogyakarta dan sekitar memahami Gunung Merapi sebagai suatu yang khas dalam keyakinan tradisional. Sebagian masyarakat Batak (Toba) tradisional, Pusuk Buhit (‘Puncak Bukit’) yang terletak di (pulau) Samosir diyakini sebagai tempat ‘rohani/mistis’ kendati para ilmuwan menilai bahwa terjadinya deretan ‘gunung-gunung batu’ di sekitar Danau Toba – termasuk ‘Pusuk Buhit’ - adalah sebagai akibat dari letusan ‘Gunung Toba’ yang amat dahsyat pada ribuan tahun lalu.  

Terkait nas dari Mazmur pasal 31 antara lain berisi sebentuk doa pribadi pemazmur yang mengungkap kesusahan (ratapan) karena jaring musuh; sengsara dan keluh kesah karena penyakit sehingga orang menghindar, dll (ayat 5,9; 10-14). Nabi Yeremia pernah merasakan kesedihan sejenis dan ketakutannya (Yer. 6:25; 20:10). Bahkan Yesus sendiri kemudian mengutip nas mazmur ini pada saat menderita sengsara di kayu salib dengan  mengucapkan: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" (Mzm 31:6; Luk. 23:46). Dan saat ajal menjelang, mari kita ucapkan dengan hati nas Mazmaur 31:6 sebagaimana juga orang-orang beriman yang setia mengucapkannya seperti Stefanus (Kis. 7:59) karena kita yakin akan kebaikan dan pertolongan TUHAN (bnd. Rm 8:28).  

                Saudara-saudari, apa arti dan relevansi nas ini dalam konteks kehidupan kita sebagai orang beriman di era teknologi digital yang menghadapi persoalan: (a) intoleransi dan politik identitas; (b) ketidak-adilan dan kemiskinan; (c) ujaran kebencian; (d) korupsi; dan (e) krisis ekologis. Mari kita yakini secara baru bahwa TUHAN adalah ‘Gunung Batu’ bagi kita melalui iman kepada Yesus Kristus sebagai Batu Penjuru (‘Batu Partunggul’; ‘Lithos’), yang di atas-Nya kita bersama orang beriman dijadikan ‘bangunan rohani’. Dia-lah yang menjamin kokohnya bangunan ‘Bait Suci’ yang baru yaitu orang beriman dalam persekutuan Gereja-Nya (Mat. 21:42; Mrk. 12:10; Lk. 20:17). Marilah membangun dan membarui kehidupan kita dalam rangka menghadapi godaan iblis dan persoalan kehidupan yang kita hadapi dalam kehidupan sosial, politik, budaya, dan ekonomi. Percayalah kepada TUHAN dalam nama Yesus Kristus yang memberi jaminan keselamatan dan rasa aman yang  memampukan kita memuji-Nya dengan gembira. Salam BE 117/KJ 250a.  *AAZS*

wajah web201903

Login Form