Renungan Minggu VII Trinitatis, 3 Agustus 2014

‘Undangan Menikmati Jamuan Tuhan:

Datanglah Kepada-Ku Supaya Kamu Hidup!

(Yesaya 55:1-5)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus. Berkaitan dengan ‘konteks kehidupan Indonesia terkini’, ada dua hal yang jadinya menarik untuk kita catat dari khotbah Idul Fitri, 28 Juli 2014, oleh guru besar Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah, Masykuri Abdillah, di Masjid Istiqlal, Jakarta. Pertama, menekankan makna ‘Idul Fitri’ (‘Kembali kepada Kesucian’) agar menguatkan etika sosial yang berlandaskan pada persaudaraan, kedamaian, kerukunan, dan toleransi. Kedua, menggaris-bawahi pentingnya persaudaraan Islami, persaudaraan nasional, dan persaudaraan kemanusiaan. Tentu saja semuanya itu demi Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Dari jalur Gaza – saat berlangsungnya konflik Israel dan Palestina, ada berita persaudaraan yang menginspirasi semangat kerukunan beragama. Kendati merasa janggal, namun sekelompok kaum Muslim Gaza (Palestina) melaksanakan shalat Idul Fitri 1435 Hijriah di dalam Gereja Saint Porphyrius di kota Gaza pada tanggal 28 Juli 2014. Gereja tersebut juga menjadi tempat pengungsian bagi Mahmoud Khalaf dan kelompoknya setelah bom Israel meledakkan wilayah tempat tinggal mereka di Shaaf, Gaza."Orang-orang Kristen membawa kami. Mereka berdiri di samping kami dan memberikan tempat". Mereka mengundang kami untuk beribadah di dalam gereja. Saya sebelumnya tidak mengenal satu orang pun umat Kristen di sini, tapi kini kami telah menjadi saudara," begitu kata Mahmoud Khalaf, seperti dilansir ibtimes.com (29/7/2014).

Saudara-saudari, Yesaya - yang arti namanya ‘TUHAN menyelamatkan’ - hendak menyampaikan suatu undangan (gokhon dohot joujou) dari TUHAN kepada umat-Nya untuk memperoleh anugerah (gratia) dan keselamatan. TUHAN menawarkan kebutuhan primer yaitu makanan dan minuman yang serentak bernilai jasmani dan rohani demi umat-Nya agar sejahtera. Kondisi umat-Nya yang waktu itu dalam proses pulang dari pembuangan (Babel), tentu saja memerlukan kebutuhan primer (pokok). Perikop renungan ayat 1-2 hendak menegaskan bahwa hidup ini adalah anugerah ilahi, bukan prestasi manusia. Allah melalui nabi-Nya berkata: “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku dan .... datanglah kepada-Ku, maka kamu akan hidup!” (Yes. 55:1-3a). Perikop ini juga dimaksudkan sebagai panggilan pertobatan karena Allah setia memelihara umat-Nya. Dulu, Allah memberi manna dan burung puyuh di padang pasir. Pada zaman Yesaya pun, Allah mengundang umat-Nya menikmati jamuan anugerah demi suatu kehidupan. Ungkapan haus (dan lapar) serta ‘tidak punya uang’ dalam perikop renungan ini, sesungguhnya juga menunjuk pada kerinduan akan Firman TUHAN yang memuaskan jiwa umat-Nya. Kini prinsipnya, bukan lagi soal ‘berapa uang yang kita punya’, melainkan bagaimana kita mengolah pemberian (anugerah/talenta) itu dengan mengandalkan kuasa dan belas-kasih-Nya demi suatu kehidupan yang bermutu, diberkati, dan dipuaskan oleh-Nya. Dan kepada dunia, Allah telah menawarkan dan memberi Air dan Roti Sorgawi yaitu Sabda-Nya di dalam diri Yesus Kristus, Jurus’lamat.

Saudara-saudari, dalam proses pengembaraan jiwanya yang amat panjang dan meletihkan, seorang Bapa Gereja terkemuka bernama Augustinus (354-430) berkata: “Ya TUHAN, terlambatlah aku mengenal-Mu hingga aku menemukan kepuasan dan keteduhan jiwaku hanya di dalam Engkau”! Karena itu, saudara-saudari, marilah bersahabat dengan Firman TUHAN sebagai santapan harian kesabaran dan kekuatan rohani bagi kita hingga jiwa kita dipuaskan dan diteduhkan. Salam.**** AAZS

wajah web201903

Login Form