Yunus, Niniwe, dan Kemurahan Allah

HKBP Yogyakarta,

Renungan Minggu III Epifani, 24 Januari 2021

Yunus, Niniwe, dan Kemurahan Allah

(Yunus 3:1-10)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. ‘Yunus’ (Ibrani: ‘Yona’) - yang namanya berarti ‘merpati’ - adalah seorang nabi unik yang diutus oleh TUHAN untuk bernubuat untuk menyatakan belas-kasih-Nya kepada Niniwe, ‘bangsa kafir’ (non-Israel). Alkitab memberitakan bahwa TUHAN memanggil dan mengutus nabi Yunus bin Amitai menjadi ‘misionaris’ ke luar negeri, ke kota Niniwe (Assyur). Kota tersebut mengagumkan besarnya; tiga hari perjalanan luasnya dengan jumlah penduduk waktu itu 120 ribu orang lebih. Yunus tidak suka akan tugas panggilannya ke Niniwe, karena itu ia melarikan diri dan pergi berlayar ke Tarsis (Yun. 1:1-3).

Proses pengalaman pelariannya begitu unik dan tak tertandingi. Sebab dialah satu-satunya nabi yang pernah ‘nginap’ selama tiga hari dan tiga malam di dalam perut seekor ikan raksasa. Setelah berdoa dari dalam perut ikan, maka ia luput dari hukuman karena belas kasih Allah yang menghendaki agar bangsa-bangsa lain juga selamat, termasuk warga Niniwe. Kendati terpaksa, Yunus kemudian menyampaikan nubuat ringkas berisi ‘peringatan keras’ kepada penduduk kota bahwa jika tidak bertobat: ‘”... Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggang-balikkan” (Yunus 3:4). Raja setempat cepat tanggap dan kemudian memerintahkan warga Niniwe supaya bertobat dan berpuasa - bahkan ternak pun dipaksa ‘berpuasa’ (Yunus 3:5-9). Ketika Allah melihat aksi puasa dan pertobatan mereka, “... maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya”. (Yun 3:10). Tetapi Yunus menjadi marah, picik dan putus asa sebab Allah kemudian mengampuni mereka karena bertobat (Yunus 4:1-3) yang tadinya penduduk Niniwe ‘tidak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri’.

Saudara-saudari, apa arti dan relevansi Kitab Yunus ini bagi kita sekarang di era pandemi covid-19 yang menyulitkan ini? Arti dan relevansinya, antara lain, adalah hendak:

(1) Menyatakan bahwa kecenderungan dan tindakan nabi Yunus sesungguhnya adalah kecenderungan kita yang tidak taat dan ingkar. Disuruh ke “Niniwe”, tetapi tergoda ke “Tarsis” sehingga ‘kapal kehidupan’ kita dan orang sekitar ‘terguncang badai’. Karena itu, marilah bertobat seperti Niniwe. Dan bila TUHAN yang mengutus, maka akan terlaksana;

(2) Menyajikan suatu kebenaran yang mengejutkan bahwa ternyata ‘bangsa-bangsa kafir’ pun mendapat tempat di dalam hati Allah dan layak diberi kesempatan mendengar pesan Allah supaya bertobat. Sabda TUHAN berisi tawaran pertobatan dan pengampunan dialamatkan tidak hanya kepada Yahudi, tetapi juga kepada suku-suku bangsa non-Yahudi, a.l.: (Batak, Jawa, Indonesia, sampai ke ujung bumi). Nabi Yesaya (52:7) menegaskan: ‘betapa indahnya kedatangan pembawa berita yang memberitakan damai dan Kabar Baik (Injil)’;

(3) Membebaskan umat dari paham partikularisme sempit agama menuju paham universalisme sebab Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan (1 Tim. 2:3-4; Kis. 1:8; 11-12).

Saudara-saudari, Yesus pernah menghubungkan pemberitaan-Nya dengan nabi Yunus dan berkata: ‘... seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam; dan sesungguhnya Yang Ada di sini – yaitu Yesus - lebih dari Yunus’ (Mat. 12:39-41). Artinya bahwa Yesus yang taat adalah suatu tanda agung yang memberitakan Injil yang berisi rahmat bagi siapa saja yang beriman kepada-Nya supaya beroleh keselamatan dan hidup kekal (Yoh. 3:16). Karena itu, ayo bertobat lagi dan belajar taat seturut perintah-Nya dan tidak ingkar. Di masa pandemi covid-19 ini, marilah melintasi batas kepicikan keagamaan agar dapat membangun jembatan peri kemanusiaan/kemakhlukan di Indonesia, Asia, dan dunia yang majemuk ini. Karena ‘Allah yang berumurah-hati menghendaki supaya semua orang diselamatkan’ (1 Tim. 2:3-4). Salam. *AAZS*

wajah web201903

Login Form