‘Meneladani Cara Hidup Jemaat Mula-mula’

 

HKBP Yogyakarta,

Khotbah Minggu Quasimodogeniti, 11 April 2021

‘Meneladani Cara Hidup Jemaat Mula-mula’

(Kisah Para Rasul 4:32-37)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Nas khotbah ini diacu dari Kitab Kisah Para Rasul. Sebagai bagian dari ‘Catatan Sejarah Gereja Tertua’ di dunia, Kitab Kisah Para Rasul antara lain mencatat suatu cara hidup warga Jemaat/Gereja Mula-mula di Yerusalem yang menginformasikan bahwa mereka: (1) Berkumpul dan berdoa dengan tekun setiap hari di Bait Allah; (2) Setia pada ajaran para rasul yang memberi kesaksian mengenai kebangkitan Tuhan Yesus; (3) Mengumpulkan dan membagi harta miliknya dengan ikhlas dan gembira untuk kepentingan warga jemaat yang membutuhkan dan hidup rukun dalam kasih karunia yang melimpah.

Warga Gereja Mula-mula memiliki dan menunjukkan suatu kualitas cara hidup yang ‘berbeda’ kendati dalam konteks kehidupan yang tidak mudah saat itu. Berkait dengan hal ini, Alkitab antara lain mencatat: “ … dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan” (Kis. 2:46-47). Mengapa mereka disukai oleh semua orang? Karena mereka menjadikan kasih Yesus sebagai acuan dasar pola hidup sehari-hari. Mereka saling peduli atas kebutuhan orang lain, dengan prinsip: “ … segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing Sebagai persekutuan orang yang percaya, mereka sehati dan sejiwa dan segala sesuatu harta benda mereka menjadi kepunyaan bersama. Tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya, sebagaimana antara lain yang dilakukan oleh Yusuf, seorang Lewi dari Siprus.  Mereka melaksanakannya dengan gembira dan tulus hati, sambil memuji Allah (Kis. 2:41-47; 4:34-37). Di antara mereka tidak ada paksaan atau sungut-sungut dan tidak ada kaitannya dengan aliran/paham (politik) komunisme.

Saudara-saudari, cara hidup Jemaat Mula-mula yang telah meninggalkan sebentuk teladan kiranya menjadi pelajaran amat berharga bagi kita warga gereja masa kini di era teknologi digital dan era adaptasi kebiasaan baru gegara dampak pandemi covid-19 yang masih melanda. Karena itu, mari belajar saling peduli dan berbagi di masa sulit penuh tantangan dan pencobaan ini. Marilah kita camkan nas berikut ini: “Janganlah menahan kebaikan dari orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya” (Amsal 3:27); ‘Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus’ (Gal. 6:2). Dan Yesus bersabda: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk. 6:36).

 

            Saudara-saudari, kini aksi diakonia kita bersama Gereja masa kini sedang diuji di era pandemi covid-19 yang masih menyisakan banyak penderitaan dalam kehidupan berjemaat dan bermasyarakat dalam konteks lokal, nasional, dan global. Karena itu, dengan meneladani suatu cara hidup berjemaat dari Gereja Mula-mula, maka marilah dengan gembira dan ikhlas untuk: (a) Membuka ‘lumbung-lumbung kemurahan hati’ kita; (b) Membuka ‘gudang-gudang kepedulian’ kita; dan (c) Membuka ‘tabungan cinta kasihkita untuk kita gunakan bersama dengan mereka yang mengalami kesulitan dan kesedihan di sekitar kita, termasuk bagi mereka yang menderita di wilayah sekitar Nusa Tenggara Timur (NTT) karena dampak Badai Tropis Silikon Seroja tanggal 2-5 April 2021. Dan marilah kita lawan dan cegah ‘virus ketidak-pedulian’ terhadap derita sesama yang mungkin menggoda kita di masa pencobaan yang sulit ini. Kita turut beryukur dan gembira karena semakin bertambah aksi solidaritas kemanusiaan di antara kita umat-Nya, dan berharap dapat berlanjut dan terlaksana dengan ikhlas dan gembira karena pertolongan dan belas-kasih dari Tuhan Yesus Kristus yang bangkit mengalahkan maut. TUHAN memberkati, melindungi, dan memulihkan kita bersama Gereja dan bangsa Indonesia. Amen. *AAZS*  hkbpjogja.org

Khotbah Minggu Quasimodogeniti, 11 April 2021

‘Meneladani Cara Hidup Jemaat Mula-mula’

(Kisah Para Rasul 4:32-37)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Nas khotbah ini diacu dari Kitab Kisah Para Rasul. Sebagai bagian dari ‘Catatan Sejarah Gereja Tertua’ di dunia, Kitab Kisah Para Rasul antara lain mencatat suatu cara hidup warga Jemaat/Gereja Mula-mula di Yerusalem yang menginformasikan bahwa mereka: (1) Berkumpul dan berdoa dengan tekun setiap hari di Bait Allah; (2) Setia pada ajaran para rasul yang memberi kesaksian mengenai kebangkitan Tuhan Yesus; (3) Mengumpulkan dan membagi harta miliknya dengan ikhlas dan gembira untuk kepentingan warga jemaat yang membutuhkan dan hidup rukun dalam kasih karunia yang melimpah.

Warga Gereja Mula-mula memiliki dan menunjukkan suatu kualitas cara hidup yang ‘berbeda’ kendati dalam konteks kehidupan yang tidak mudah saat itu. Berkait dengan hal ini, Alkitab antara lain mencatat: “ … dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan” (Kis. 2:46-47). Mengapa mereka disukai oleh semua orang? Karena mereka menjadikan kasih Yesus sebagai acuan dasar pola hidup sehari-hari. Mereka saling peduli atas kebutuhan orang lain, dengan prinsip: “ … segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing Sebagai persekutuan orang yang percaya, mereka sehati dan sejiwa dan segala sesuatu harta benda mereka menjadi kepunyaan bersama. Tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya, sebagaimana antara lain yang dilakukan oleh Yusuf, seorang Lewi dari Siprus.  Mereka melaksanakannya dengan gembira dan tulus hati, sambil memuji Allah (Kis. 2:41-47; 4:34-37). Di antara mereka tidak ada paksaan atau sungut-sungut dan tidak ada kaitannya dengan aliran/paham (politik) komunisme.

Saudara-saudari, cara hidup Jemaat Mula-mula yang telah meninggalkan sebentuk teladan kiranya menjadi pelajaran amat berharga bagi kita warga gereja masa kini di era teknologi digital dan era adaptasi kebiasaan baru gegara dampak pandemi covid-19 yang masih melanda. Karena itu, mari belajar saling peduli dan berbagi di masa sulit penuh tantangan dan pencobaan ini. Marilah kita camkan nas berikut ini: “Janganlah menahan kebaikan dari orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya” (Amsal 3:27); ‘Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus’ (Gal. 6:2). Dan Yesus bersabda: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk. 6:36).

                Saudara-saudari, kini aksi diakonia kita bersama Gereja masa kini sedang diuji di era pandemi covid-19 yang masih menyisakan banyak penderitaan dalam kehidupan berjemaat dan bermasyarakat dalam konteks lokal, nasional, dan global. Karena itu, dengan meneladani suatu cara hidup berjemaat dari Gereja Mula-mula, maka marilah dengan gembira dan ikhlas untuk: (a) Membuka ‘lumbung-lumbung kemurahan hati’ kita; (b) Membuka ‘gudang-gudang kepedulian’ kita; dan (c) Membuka ‘tabungan cinta kasihkita untuk kita gunakan bersama dengan mereka yang mengalami kesulitan dan kesedihan di sekitar kita, termasuk bagi mereka yang menderita di wilayah sekitar Nusa Tenggara Timur (NTT) karena dampak Badai Tropis Silikon Seroja tanggal 2-5 April 2021. Dan marilah kita lawan dan cegah ‘virus ketidak-pedulian’ terhadap derita sesama yang mungkin menggoda kita di masa pencobaan yang sulit ini. Kita turut beryukur dan gembira karena semakin bertambah aksi solidaritas kemanusiaan di antara kita umat-Nya, dan berharap dapat berlanjut dan terlaksana dengan ikhlas dan gembira karena pertolongan dan belas-kasih dari Tuhan Yesus Kristus yang bangkit mengalahkan maut. TUHAN memberkati, melindungi, dan memulihkan kita bersama Gereja dan bangsa Indonesia. Amen. *AAZS*  hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form