Renungan Minggu VIII Trinitatis, 10 Agustus 2014

Tuhan Yesus bersabda:

Tenanglah! AKU ini, Jangan Takut!

(Matius 14:22-33)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Sejak kapan manusia memiliki rasa takut atau ketakutan? Konon, manusia memiliki rasa takut sudah sejak kejatuhannya kedalam dosa sehingga ia kehilangan ‘anugerah ketidak-terbatasannya’ sekaligus kehilangan kemuliaan Allah. Akibatnya, manusia itu menjadi terbatas dan fana. Dalam prosesnya, hal-hal yang kemudian membuat seseorang takut adalah karena ketakutan itu sendiri. Oleh karena itu, ketakutan adalah suatu kejahatan. Ketakutan dapat berkaitan dengan banyak hal; misalnya: kejahatan; perang; bencana, dll; juga berkaitan dengan roh-roh jahat, kematian, mala-petaka pada akhir zaman, dan penghakiman Allah.

Dalam konteks kehidupan sosial keagamaan, gerakan fundamentalisme atau sektarianisme yang menghalalkan kekerasan atas nama agama, pada gilirannya menjadi hal yang menakutkan bagi banyak orang dalam sejarah kemanusiaan, termasuk di Indonesia. Dalam konteks medis, sebagian umat merasa takut ketika terjadi wabah penyakit (virus) menular dan mematikan entah sebagai epidemi atau pandemi, apalagi belum ditemukan obatnya (vaksin). Secara moral (etika), penyakit sosial yang bernama keserakahan (korupsi) yang tak pernah berkata ‘cukup’ adalah juga suatu hal yang membusukkan dan merusakkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Saudara-saudari, nas renungan ini (bnd. Mrk 6:45-52; Yoh. 6:16-21), antara lain menceritakan bahwa ‘sesudah itu’ – maksudnya – sesudah Yesus melakukan mujizat memberi makan 5000 orang dengan lima roti dan dua ikan, maka Yesus memerintahkan para murid-Nya berlayar mendahului-Nya ke seberang dan menyuruh orang banyak pulang karena sudah senja. Kemudian Yesus menyempatkan naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri berkomunikasi dengan Allah Bapa. Sementara para murid-Nya sedang berlayar, angin sakal yaitu angin yang datang berlawanan dengan haluan kapal mengombang-ambingkan mereka. Kira-kira jam 3 (tiga) pagi menyongsong ayam berkokok, datanglah Yesus berjalan di atas air untuk menghampiri mereka. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut, ketakutan, dan berteriak: ‘Itu hantu’! Tetapi Yesus segera berkata: "Tenanglah! AKU ini, jangan takut!" (ayat 26-27). Rasa takut dan beban hidup para murid membuat mereka tidak mengenal Yesus yang ‘baru tadi’ menyatakan mujizat di antara mereka untuk memastikan bahwa kuasa dan kehadiran Allah sungguh hadir di dalam diri Yesus. Memang, beban hidup dan rasa kuatir dapat menggoda kita salah sangka dan salah paham terhadap Yesus yang hendak menolong dan meneduhkan pelayaran kehidupan kita. Bahkan Dia mengulurkan tangan-Nya saat kita nyaris tenggelam seperti Petrus yang sempat berjalan sesaat saja di atas air.

Saudara-saudari, Alkitab mencatat banyak ucapan dari Allah yang berkata: JANGAN TAKUT! Dengan sapaan tersebut, maka orang percaya hendaknya mengubah rasa takut menjadi bentuk sembah sujud. Sebaliknya, orang berdosa yang hatinya sudah mengeras dan membeku, menjadi sangat ketakutan. Sikap ‘takut’ orang percaya adalah dalam hal: Takut akan TUHAN (Biar Mida Jahowa) yang artinya takut melakukan dosa dan kejahatan, tetapi berani melakukan yang sesuai dengan Hukum Tuhan. Takut akan Tuhan adalah pangkal hikmat dan hikmat itu sempurna di dalam Yesus Kristus (Amsal 1:7; 9:10; 1 Kor. 1:30; Kol. 2:3).

Saudara-saudari, DIA datang dengan cara-Nya untuk menjumpai dan menyapa kita bahkan menyelamatkan hidup kita yang ‘diombang-ambingkan’ oleh banyak hal. Seperti para murid-Nya, ‘berlayarlah’ bersama Yesus agar ‘angin sakal kehidupan mereda’. Yesus adalah TUHAN yang berkuasa atas laut (Mrk. 4:35-41; Luk. 8:22-25); berkuasa atas roh jahat (Mark 5:1-20; Luk 8:26-39); berkuasa atas dosa (Mrk 2:1-12; Luk. 5:17-26), bahkan telah menaklukkan maut. Karena memang DIA adalah Alfa dan Omega, Yang Mahakuasa. DIA telah bersabda: “Jangan takut! AKU adalah Yang Awal dan Yang Akhir ...... dan AKU memegang segala kunci maut dan kerajaan maut” (Why. 1:8; 1:17-18; bnd. Yes.44:6). Tenanglah! Jangan takut! Marilah hidup bersama dan di dalam Kristus Yesus, karena di dalam kasih-Nya lenyaplah ketakutan (1 Yoh. 4:18). Salam.**** AAZS

 

wajah web201903

Login Form