Turutilah Perintah TUHAN

 

HKBP Yogyakarta,

Khotbah Minggu Jubilate, 25 April 2021

Turutilah Perintah TUHAN

(1 Yohanes 3:18-24)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Saya hendak menyapa segenap pembaca dan sahabat di mana pun berada, khususnya warga dan majelis jemaat di lingkungan HKBP Resort Jogja. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah kiranya menyertai kita di mana pun berada pada masa kerinduan akan pemulihan bagi kita di dunia yang menderita ini, termasuk pemulihan atas bangsa kita dalam menghadapi dan mengatasi dampak covid-19 yang menyulitkan kita.

Percaya’ dan ‘mengasihi’ adalah istilah yang sering muncul dan menjadi kata-kata kunci yang bernas dalam ajaran dan ajakan rasul Yohanes melalui Kitab Injil (Injil Yohanes) dan Surat-surat-nya (Surat 1-3 Yohanes). Rasul Yohanes berulang-kali mengajak supaya kita percaya kepada Allah Bapa dan Yesus Kristus dan supaya kita hidup dalam kasih Allah dan supaya kita saling mengasihi sebagaimana Yesus mengasihi dan telah meninggalkan teladan. Dengan percaya kepada Allah Bapa melalui Yesus Kristus yang penuh kasih karunia dan kebenaran, maka kita mendapat jaminan untuk menerima hidup kekal. Karena Allah telah menyatakan kasih-Nya yang begitu besar kepada dunia, maka kita diajak supaya percaya kepada-Nya dan hidup dalam perintah-Nya yang baru yakni supaya kita saling mengasihi. Kita mengasihi, karena Allah lebih dulu mengasihi kita. “... Inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita” (1 Yoh. 3:23; Yoh. 20:30-31; 13:34; 15:12,17; 1 Yoh 4:19). Kiranya pesan Sabda ini semakin relevan bagi kita dalam konteks kehidupan masa kini yang sedang menghadapi ketidak-adilan, kekerasan, intoleransi, kebencanaan, krisis ekologis, dll.

Saudara-saudari, dengan nas Minggu Jubilate ini, rasul Yohanes mengajak kita menaati Firman Allah yakni agar kita memiliki semangat untuk hidup dalam perintah-Nya yang baru, yaitu supaya kita: (a) Percaya kepada Yesus Kristus dalam konteks kehidupan masa kini yang menggoda kita meragukan kuasa dan kebenaran Sabda-Nya; (b) Saling mengasihi di tengah dunia yang menggoda kita membenci. Marilah kita mengasihi karena Allah sudah lebih dulu mengasihi kita. Begitu ajakan dan penegasan dari rasul Yohanes untuk kita.      

Saudara-saudari, seiring penghayatan mengenai liturgi gerejawi dalam rangkaian Minggu-minggu Paskah yang berdurasi 40 hari, kali ini kita diingatkan untuk menghayati arti dan relevansi Minggu Jubilate yang mengajak kita ‘supaya ... bersorak-sorai bagi Allah, ‘asa marolopolop tu Debata sandok tano on’ (Mzm 66:1). Pesan teologis terkait minggu jubilate’ atau ‘yubilium atau iubilaios - dari akar kata Ibrani Yovel atau Yobel - yaitu mengajak kita untuk memeringati dan menyukuri karya agung hebat dari TUHAN Allah yang telah membebaskan dan menyelamatkan umat-Nya (Israel) dan segenap orang beriman dari perbudakan, kekerasan, dosa, dan maut hingga mengaruniakan kita kehidupan baru yang penuh harapan. Firman-Nya atau Taurat-Nya adalah dasar Teologi Jubileum yang, antara lain dicatat dalam Kitab Imamat dan Injil (Im. 25; Yes. 61:1-3; Luk. 4:18-19, Mzm. 66). Secara khusus, bagi umat Perjanjian Baru bersama warga Gereja bahwa Perayaan Minggu Jubilate mendapat isi baru yakni menyukuri karya agung Yesus Kristus melalui peristiwa salib dan kebangkitan-Nya yang membebaskan dan menyelamatkan segenap orang beriman dari kuasa dosa dan maut, bahkan memulihkan alam ciptaan (Yoh 3:16; Kol. 1:20). Oleh karya pembebasan-Nya, umat dan segenap bumi diajak untuk bersorak-sorai memuliakan Allah. Kebebasan yang dimiliki orang beriman (Kristen) yaitu bebas berbuat yang benar dan baik seturut Sabda Tuhan, tetapi kita tidak bebas berbuat dosa dan kejahatan. Salam. *AAZS* hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form