Anda Ingin Bahagia? Sukai dan Renungi Taurat TUHAN!

Renungan/Khotbah Minggu Exaudi, 16 Mei 2021

Anda Ingin Bahagia? Sukai dan Renungi Taurat TUHAN!

(Mazmur 1:1-6)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Saya kembali menyapa segenap pembaca dan sahabat di mana pun berada. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah kiranya menyertai kita di mana pun berada. TUHAN kiranya memampukan kita bersama masyarakat dan bangsa Indonesia menghadapi dan mengatasi aneka tantangan, termasuk dampak pandemi covid-19.

Saudara-saudari, pada umumnya umat manusia menghendaki supaya hidup “bahagia”. Ada banyak ungkapan dan kiat mengenai (ber)-bahagia dan yang berkait dengannya. Dalam nas acuan khotbah kali ini, kita menemukan kata pertama yang mengawali Kitab Mazmur ini yaitu ungkapan: Berbahagialah ....”. Pemazmur mengungkap dan menegaskan: ‘Berbahagialah orang yang ... kesukaannya ialah Taurat TUHAN dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam’ (Mzm. 1:1-2). Dalam kaitan ini perlu dijelaskan bahwa Taurat (Istilah Ibrani: Tôrâ) adalah ‘pengajaran’ atau ‘petunjuk’ - yang juga meliputi ‘perintah’ dari TUHAN yang ditujukan kepada umat manusia. Jadi mereka yang menyukai dan merenungi pengajaran atau petunjuk (Taurat) dari TUHAN adalah berbahagia  dan memeroleh sumber kebahagiaan. Kebahagiaan itu berkait dengan apa yang wajib tidak dilakukan (negatif) dan apa yang wajib dilakukan (positif). Yang negatif adalah tidak menuruti nasihat orang jahat, tidak menjalani jalan orang berdosa, dan tidak memasuki kumpulan pencemooh (Mzm. 1:1). Yang positif konstruktif  adalah sekiranya orang fasik, orang berdosa, dan pencemooh kemudian bertobat karena kuasa Firman Allah yang diberitakan oleh Gereja, maka itu adalah suatu kebahagiaan tersendiri dan menjadi kabar gembira. 

Saudara-saudari, pemazmur menyebut mereka yang menyukai dan merenungi Taurat TUHAN pada siang dan malam adalah sebagai ‘orang benar’ (Mzm. 1:5b-6) yang digambarkan ibarat pohon yang ditanam di tepi aliran air yang menghasilkan buah pada musimnya dan yang tidak layu daunnya. ‘Orang benar’ atau ‘orang yang dibenarkan’ akan hidup oleh imannya  kepada Allah, begitu penegasan Alkitab secara lebih luas (Hab. 2:4b; Rm. 1:17). Sebaliknya, pemazmur menegaskan bahwa orang fasik (orang jahat) digambarkan seperti sekam yang ditiupkan angin; orang fasik tidak tahan dalam penghakiman, dekimian juga orang berdosa dalam perkumpulan orang benar. Jalan orang jahat menuju kebinasaan, begitu penegasan Alkitab.

Saudara-saudari, perihal bahagia dalam kaitannya dengan menyukai dan merenungi Taurat TUHAN, Injil Lukas mencatat apa kata Yesus bahwa: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan Firman Allah dan yang memeliharanya" (Luk. 11:28). Artinya bahwa bahagia itu dihubung-hubungkan dengan mendengar dan memelihara Firman Allah yang berisi petunjuk dan pengajaran (Taurat) dari Allah sendiri. Dalam rangkaian Ibadah/Liturgi Mingguan, HKBP - setelah pembacaan Epistel - selalu mengutip dan menyertakan ucapan Yesus dalam Lukas 11:28 bahwa yang berbahagia ialah yang mendengar dan memelihara Firman Allah.    

Saudara-saudari, secara liturgi gerejawi, kini kita hendak menghayati pesan Minggu Exaudi – minggu di antara Perayaan  Kenaikan Yesus ke sorga dan Pentakosta (Pencurahan Roh Kudus). Minggu Exaudi hendak mengajak kita supaya terus belajar ‘mendengar’ dan ‘dengar-dengaran.  Mendengar apa? Yaitu mendengar dan dengar-dengaran pada perkataan Allah yang telah berfirman melalui Yesus Kristus.  Karena, “... iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus” (Rm. 17:10). Itulah sumber kekuatan utama kita menghadapi era teknologi digital yang sarat dengan tipuan dan kebohongan (hoax). Anda ingin bahagia? Sukai, renungi, dengar, dan pelihara Firman Allah! Setiap hari! Salam. *AAZS*

wajah web201903

Login Form