Menghujat Roh Kudus: Dosa Kekal

Khotbah/Renungan Minggu I Trinitatis, 6 Juni 2021

Menghujat Roh Kudus: Dosa Kekal

(Markus 3:20-35)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Saya hendak menyapa kembali para pembaca dan segenap warga jemaat di mana pun berada. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah kiranya menyertai dan merajai kita. Kita memohon kiranya Allah berkenan memampukan kita menghadapi dan mengatasi aneka tantangan, termasuk mengatasi dampak pandemi covid-19.

            Saudara-saudari, tema minggu kita kali ini mengajak supaya kita: Jangan Menghujat Roh Kudus! Apa artinya menghujat Roh Kudus? Alkitab menegaskan bahwa menghujat Roh Kudus adalah dosa kekal, dosa yang tidak dapat diampuni. Menjadi pertanyaan, apakah memang ada dosa yang tidak dapat diampuni oleh Allah yang Maha Kuasa lagi Maha Pengasih?

            Saudara-saudari, pada dasarnya dosa menghujat Roh Kudus adalah juga dosa menolak Allah. Karena Roh Kudus adalah Allah sendiri melalui peristiwa Yesus Kristus. Perlu kita pahami bahwa konteks perikop mengenai ‘menghujat Roh Kudus’ (Mrk. 3:29; Mat. 12:32; Luk. 12:10) berkait dengan tindakan Yesus yang berkuasa menyembuhkan aneka penyakit dan yang kerasukan setan. Kemudian para ahli Taurat memberi komentar: "Ia kerasukan Beelzebul. Dengan penghulu setan Ia mengusir setan." (Mrk. 3:22; Mat. 12:22-24). Sesungguhnya para ahli Taurat dan Farisi sedang menolak anugerah Allah yang dinyatakan di depan mata mereka melalui karya Yesus Kristus. Sebelumnya diinfokan bahwa pada tahap permulaan pelayanan Yesus, orang-orang Farisi dan orang-orang Herodian telah bersekongkol hendak membunuh Yesus (Mrk. 3:6). Ahli-ahli Taurat menolak Yesus dengan menuduh-Nya berkarya mengandalkan kuasa setan. Mereka meragukan dan menyangkal kuasa dan kebenaran karya Yesus. Mereka menolak apa yang mereka lihat, dengar, dan saksikan mengenai Yesus. Karena itulah Yesus berkata: “Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal" (Mrk. 3:28-29; Mat. 12:32; Luk. 12:10).

Saudara-saudari, kiranya dapat kita tegaskan bahwa hujat terhadap Roh Kudus adalah penolakan secara terus-menerus dan dengan sengaja terhadap kesaksian Roh Kudus mengenai Kristus, Firman-Nya, dan karya-Nya yang menginsafkan orang akan kebenaran dan dosa (bnd. Yoh. 16:7-11). Proses yang membawa hujat kepada Roh Kudus adalah: (a) Mendukakan Roh Kudus (Ef 4:30) dan bila diteruskan, maka akan membuat orang menentang Roh Kudus (Kis 7:51); (b) Menentang Roh Kudus akan membawa kepada memadamkan api Roh (1 Tes. 5:19); (c) Memadamkan api Roh membuat seseorang mengeraskan hati (Ibr. 3:8-13); (d) Mengeraskan hati akan membawa cara berpikir terbalik: menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah; menghujat Allah dan bukan lagi memuliakan Allah. Pada titik ‘mengeraskan hati’, maka seseorang tidak lagi mau dituntut oleh Roh Kudus untuk bertobat sehingga murtad dan tidak ada lagi ampunan (Ibr. 3:12; 6:6).

Saudara-saudari, Roh Kudus adalah Allah sendiri, perwujudan-nyata dari kehadiran dan kegiatan Allah yang berlanjut di dunia dan di antara umat. Roh Kudus merupakan lanjutan penyertaan TUHAN bagi umat beriman di dunia ini sampai akhir. Roh Kudus – yang juga disebut sebagai Roh Penghibur dan Pengajar dalam kebenaran (Yoh. 14:15-26; 16:13) terus berkarya secara misteri dan tak terbatas. Roh Kudus yang telah diutus oleh Allah bersama Yesus Kristus akan menaungi kita dari atas, menuntun dari samping, dan mendukung dari dalam hati kita. Dengan cara-Nya, Roh Kudus terus bekerja di antara kita dan melampaui ruang dan waktu. Tujuannya supaya kita bertobat, dibarui, dan sadar akan dosa dan kemudian menuntun hidup kita supaya berpadanan dengan Firman dan kehendak-Nya. Karena itu, jangan pernah menghujat Roh Kudus yang berkarya untuk kebaikan kita dan alam semesta. Salam. *AAZS* hkbpjogja.org.

wajah web201903

Login Form