Andalkan TUHAN, Bukan ‘Pasukan Berkuda’

Khotbah/Renungan Minggu II Trinitatis, 13 Juni 2021

Andalkan TUHAN, Bukan ‘Pasukan Berkuda’

(Mazmur 20:110)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Dalam banyak narasi budaya, ‘kuda dan pasukan berkuda’ acap digambarkan untuk melambangkan kekuatan manusia. Alkitab turut menginformasikan bahwa salah satu kekuatan kerajaan Salomo berkaitan dengan pasukan berkuda (1Raja 9:19,22; 10:28). Namun Alkitab kemudian mengritik umat yang mengandalkan ‘pasukan berkuda’ (Mzm. 20:8; Yes. 31:1). Sebaliknya Alkitab menegaskan supaya umat mengingat dan mengandalkan kuasa dan nama TUHAN dalam menghadapi ‘peperangan dalam kehidupan’ (Mzm. 20:8-9; Ul. 20:1; Mik 5:9; Zak. 9:10; Why. 6:2-8; 19:11-21).

Mazmur pasal 20 (dan 21) ini dikenal sebagai ‘mazmur raja’. Mazmur pasal 20 ini menjadi menarik dan penting untuk kita camkan karena mengungkap suatu permohonan dan keyakinan terkait raja dan rakyatnya yang seirama untuk mengandalkan nama dan kuasa TUHAN dalam konteks “perang melawan musuh”. Bahkan peperangan itu dikaitkan dengan ‘tempat kudus’ dan ‘korban persembahan’ sehingga dipahami dan dihayati semacam “perang suci”. Dalam kaitan inilah pemazmur mengingatkan dan berkata: “Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN, Allah kita. Mereka rebah dan jatuh, tetapi kita bangun berdiri dan tetap tegak. Ya TUHAN, berikanlah kemenangan ...!” (Mzm. 20:8-10; bnd. 1 Sam. 17:45; Yes. 31:1; Mik. 4:5). Mazmur pasal 21 kemudian mengungkap bahwa umat menyanyikan pujian syukur kepada TUHAN yang memberi kemenangan kepada raja dalam peperangan melawan musuh. Zaman nabi Zakharia, TUHAN pernah mengingatkan umat-Nya - melalui Zerubabel – dengan menegaskan: “Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Ku”, demikian Firman TUHAN semesta alam (Zak. 4:6).

Saudara-saudari, apa arti dan relevansi nas khotbah ini bagi kita orang beriman bersama umat di era teknologi digital masa kini? Relevansinya antara lain hendak mengingatkan bahwa proses kehidupan kita masa kini sedang berada dalam “konteks perang”. Iman Kristen mengajarkan bahwa maut (kematian) sebagai musuh terakhir dan terkuat memang telah ditaklukkan oleh kuasa Yesus Kristus yang bangkit dari kubur. Namun kita masih dalam tugas perutusan di dunia dalam menghadapi: (a) ‘Peperangan rohani’ terhadap kuasa-kuasa jahat, kegelapan, dan iblis; (b) ‘Perang’ melawan ketidak-adilan, hoax (kebohongan), intoleransi/kekerasan, keserakahan, krisis ekologis, termasuk dampak pandemi covid-19 dengan protokol kesehatan 5M, dan juga perang terhadap ‘virus kehidupan’ dalam bentuk ketidak-pedulian agar kita kemudian berbela-rasa dan turut memperjuangkan keadilan, kedamaian, dan keutuhan ciptaan, dll.  

            Saudara-saudari, atas nama dan kekuatan apakah yang kita andalkan atau megahkan dalam menghadapi “peperangan rohani/jasmani” yang sedang kita hadapi dalam konteks kehidupan di era teknologi digital kini? Sabda TUHAN mengajak dan mengingatkan kita bersama orang beriman dan Gereja yang masih berada dan berjuang di dunia ini supaya: (a) Mengandalkan nama dan kuasa Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus; (b) Mengenakan perlengkapan senjata Allah agar kita bertahan melawan hoax, tipu muslihat iblis; (c) Berikat-pinggangkan kebenaran, ber-bajuzirahkan keadilan, berkasutkan kerelaan memberitakan Injil, menggunakan perisai iman yang dapat memadamkan panah api si jahat; menerima ketopong keselamatan dan pedang Roh yaitu Firman Allah (Ef. 6:10-11; 14-17). Karena itu, jangan megahkan ‘kereta dan pasukan berkuda’ (‘kekuatan duniawi’) yang akan rebah dan jatuh, tetapi marilah kita bersama orang beriman mengingat dan bermegah dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang menciptakan langit dan bumi. Salam. *AAZS* hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form