Meneladani Paulus yang Melayani dengan Kasih

 

Khotbah Minggu III Trinitatis, 20 Juni 2021

Meneladani Paulus yang Melayani dengan Kasih

(2 Korintus 6:1-10)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. ‘Jangan sia-siakan kasih karunia Allah yang telah kita terima’. ‘Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; hari ini adalah hari penyelamatan itu’ (2 Kor. 6:1-2; Yes. 49:8a). Demikian nasihat rasul Paulus kepada para pelayan di Jemaat Korintus yang menghadapi banyak masalah berat dan rumit dari dalam dan luar Jemaat. Karena itulah Paulus memberi nasihat, pengajaran, dan teladan karena Yesus.    

Rasul Paulus adalah seorang pemberita Injil Kristus yang paling populer sepanjang zaman karena karya pelayanan, kesaksian, dan pengajarannya diabadikan dalam Alkitab. Dalam pelayanannya, rasul Paulus kerap mengalami banyak tantangan. Namun dia bersama rekan sepelayanannya berusaha agar pelayanannya jangan sampai dicela. Sebagai pelayan Allah, dia menyatakan kesabaran dalam penderitaan, kesesakan, kesukaran, menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih, berjaga-jaga, dan berpuasa; dalam kemurnian hati, pengetahuan, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik; dalam pemberitaan kebenaran dan kuasa Allah. Menggunakan senjata keadilan untuk menyerang atau membela ketika dihormati dan ketika dihina, ketika diumpat atau ketika dipuji, ketika dianggap sebagai penipu, namun dipercaya; sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, namun hidup; sebagai orang yang berduka-cita, namun selalu bersuka-cita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, kendati memiliki segalanya (2 Kor. 6:3-10).

Dalam pasal-pasal sebelumnya, rasul Paulus memberi kesaksian bahwa ia sering menghadapi bahaya - bahkan maut senantiasa mengintipnya. Deretan pengalaman penderitaannya, antara lain: didera, dilempari, ditindas, dianiaya, diadili, dipenjarakan, dan dilepas. Kemudian, menghadapi peristiwa alam yang menakutkan seperti karam kapal yang terbawa arus ke tengah laut; digigit ular berbisa, dll. Paulus bersaksi bahwa ‘dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; habis akal, namun tidak putus asa; dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian; dihempaskan, namun tidak binasa’. Paulus mengungkap bahwa kemampaun lahiriah/fisiknya rapu dan akan semakin merosot yang digambarkan laksana bejana tanah liat yang gampang remuk dan hancur. Tetapi di dalam diri rasul dan pemberita Injil itu, terdapatlah harta sorga yaitu Injil Kristus yang memberi kekuatan untuk menyelamatkan setiap orang beriman (2 Kor. 4:7). Injil Kristus itulah yang membarui manusia batiniah di tengah proses kemerosotan manusia lahiriah yaitu tubuh fana ini (2 Kor. 4:16; 5:1). Rasul Paulus mengaku bahwa : ‘Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati’ – karena itu rasul menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; tidak berlaku licik dan tidak memalsukan Firman Allah, tetapi menyatakan kebenaran secara transparan/terbuka dan bersedia di-‘audit’, begitu kata Paulus (2 Kor. 4:1-2, 7-12,16; Rm. 1:16-17).

     Saudara-saudari, apa arti dan relevansi nas khotbah ini bagi kita sekarang yang sedang menghadapi aneka tantangan dalam kehidupan bergereja, bermasyarakat, dan bernegara di era teknologi digital, termasuk karena dampak pandemi covid-19 ini? Bagaimanakah para pelayan gerejawi dan warga jemat masa kini memberi teladan dalam kasih?

       Saudara-saudari, sebagai orang beriman yang telah menerima kasih karunia Allah, marilah kita terus belajar memberi teladan dalam pelayanan berdasarkan kasih dalam kehidupan sehari-hari di tengah keluarga, gereja, dan masyarakat - sebagai suatu cara dalam memajukan pekabaran Injil Kristus di Indonesia, Asia, dan dunia melalui kata dan perbuatan yang benar, baik, dan tepat. Marilah kita mewariskan teladan kepada generasi demi generasi dengan mengandalkan pertolongan dan rahmat dari Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Salam. *AAZS* hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form