Ibadah Dengan Melakukan Keadilan Sosial

HKBP Yogyakarta,

Khotbah Minggu VI Trinitatis, 11 Juli 2021

Ibadah Dengan Melakukan Keadilan Sosial

(Amos 7:10-17)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah kiranya menyertai kita serta memampukan kita menghadapi aneka tantangan – termasuk dampak pandemi covid-19 - di mana negara kita kini sedang berjuang mengatasinya’. Ayo menerapkan ‘protokol kesehatan 6 M’ sebagai suatu cara mengatasi pandemi tersebut.

Saudara-saudari, ketidak-adilan, kemiskinan, dan kekerasan (intoleransi) menjadi suatu realitas dalam kehidupan yang sedang kita hadapi dalam dunia masa kini. Isu mengenai ‘keadilan dan perdamaian’ sudah setua Alkitab diberitakan dan akan terus diperjuangkan oleh umat beriman sepanjang sejarah karena Allah adalah sumber keadilan, kebenaran, dan perdamaian. Bila nabi Hosea merasa hancur hati melihat ketidak-setiaan umat-Nya kepada Allah, maka nabi Amos sangat marah atas pelanggaran umat-Nya terhadap standar-standar keadilan sosial dan kebenaran Allah. Nabi Amos yang bicara terus-terang dan keras dengan menekankan bahwa betapa menjijikkan bagi Allah jika agama dipisahkan dari hal-hal yang berkait dengan tanggung-jawab sosial sehari-hari (Amos 5:7-13, 21-25). Nabi Amos menekankan bahwa ibadah sejati berkait erat dengan melakukan keadilan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Umat mesti mencari TUHAN supaya hidup (Amos 5:6a, 4b). Nabi Amos menyampaikan peringatan keras kepada Raja Yerobeam II serta memastikan bahwa Allah hendak menghukum dan membuang umat-Nya yang menyembah berhala dan tidak lagi bermoral.

Saudara-saudari, Kitab nabi Amos pasal 7:1 sampai 8:3 berisi empat penglihatan nabi dan juga menginfokan kisah pengusiran nabi Amos dari kerajaan Israel Utara. Dalam penglihatan itu, Amos bicara kepada Allah. Isi refrein pembicaraan itu berbunyi: AKU tidak akan memaafkannya lagi, begitu kata Allah (Amos 7:8; 8:1). Artinya bahwa TUHAN tidak akan memaafkan umat-Nya (Israel Utara) lagi karena dosa dan pemberontakan serta ketidak-adilan sosial yang mereka lakukan. Kemakmuran ekonomi umat-Nya justru memperdalam kebejatan mereka. Imam Amazia yang pro istana lalim di Betel mengusir nabi Amos yang pro keadilan serta menubuatkan petaka (‘prophet doom’) bagi umat sesuai Sabda TUHAN yang mengutusnya. Imam Amazia sesat karena menyangka Amos bernubuat demi sesuap nasi dengan berkata: “... Enyahlah ke tanah Yehuda! Carilah makananmu di sana dan bernubuatlah di sana! (ay. 12-13). Berbeda dengan warga kota Niniwe (Asyur) yang bertobat setelah mendengar nubuat pendek dan keras dari nabi Yunus.

Alkitab menginfokan latar-belakang nabi Amos yang bekerja sebagai peternak (penggiring) kambing domba di Tekoa, yang berusaha menambah pendapatannya dengan memungut buah pohon ara hutan (ay. 14). Namun Allah memanggilnya dari pekerjaan itu dan kemudian menyuruhnya pergi ke wilayah kerajaan Israel Utara di mana ketidak-adilan sosial meraja-lela dan kebejatan moral yang parah serta agama dipisahkan dari kehidupan harian.

     Saudara-saudari, apa arti dan relevansi nas khotbah ini bagi kita sekarang, termasuk di masa pandemi covid-19 yang turut memperparah kehidupan bangsa kita? Pesannya, antara lain hendak menekankan supaya orang Kristen dan umat beragama hendaknya memahami dan menghayati bahwa ibadah kepada TUHAN berkait erat dengan panggilan untuk memperjuangkan keadilan sosial, perdamaian, dan keutuhan ciptaan dalam kehidupan sehari-hari, agar kemudian ‘... keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir’ – bahkan : ‘... keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman’ (Amos 5:21-25; Mzm. 85:10; Yes. 58:1-14; Lk. 4:18-19). Salam keadilan. *AAZS* hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form