Merawat Kesatuan Roh Oleh Ikatan Damai

Khotbah Minggu IX Trinitatis, 1 Agustus 2021

Merawat Kesatuan Roh Oleh Ikatan Damai

(Efesus 4:1-7)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Saya menyapa Anda semua, para pembaca dan pemerhati bersama segenap warga dan majelis jemaat di mana pun berada pada masa-masa sulit ini. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah kiranya menyertai kita menghadapi dan mengatasi dampak pandemi covid-19 dan juga aneka tantangan kehidupan dengan mengandalkan pertolongan dari TUHAN. Dalam rangka mencegah penyebaran covid-19, ayo turut kerja-sama untuk melaksanakan protokol kesehatan 6M demi kebaikan bersama.

Saudara-saudari, nas khotbah/renungan ini didasarkan pada Surat Efesus yang antara lain mengajarkan dan menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah ‘dasar’ (‘batu penjuru’) Gereja yang berada di dunia kendati bukan berasal dari dunia. Anggota Gereja terpanggil dari aneka suku-bangsa yang dalam proses perjalanannya (akan) menghadapi aneka tantangan duniawi, godaan perpecahan, dan faham yang sesat. Karena itulah, Gereja diingatkan untuk memantapkan tugas-panggilan-nya supaya terus bersaksi, bersekutu, dan melayani dengan mengandalkan kuasa dan Firman Allah di dalam Yesus Kristus dan Roh Kudus. Dalam perjalanannya, Gereja mesti bergiat merawat kesatuan Roh dan terus membarui serta menata (tata-kelola) diri dengan mengimani bahwa Gereja itu esa karena TUHAN itu esa. Kendati aneka karunia/pelayan di dalamnya, tetapi ‘di dalam Kristus’, esa baptisannya, esa perjamuannya, esa imannya, dan esa harapannya (Ef. 4:3-7). Istilah ‘di dalam Kristus’ menjadi suatu istilah yang berbobot dan sangat menonjol dalam Surat Efesus. Kristus mengaruniakan para pelayan gerejawi dengan tujuan untuk memperlengkapi warga jemaat bagi pekerjaan pelayanan, untuk pembangunan tubuh Kristus (jemaat), agar rapi tersusun mencapai kedewasaan penuh sehingga warga tidak mudah diombang-ambingkan oleh aneka pengajaran sesat (Ef. 4:11-16).

Saudara-saudari, orang-orang beriman dipanggil kedalam hidup baru agar senantiasa rendah hati, lemah-lembut, sabar, dan menujukkan belas-kasih dalam hal saling tolong-menolong serta merawat kesatuan Roh oleh ikatan damai. ‘Kesatuan Roh’ yang dimaksud adalah meliputi: satu tubuh, dan satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua ...” (Ef. 4:4-7). Ajakan dan panggilan ini justru semakin relevan bagi kita dan umat di dunia masa kini yang sedang menghadapi perpecahan, kekerasan, intoleransi, krisis ekologis, dan juga menghadapi ‘virus ketidak-pedulian’. Karena Kristus telah mendamaikan dan menyelamatkan semua orang beriman melalui karya agung penebusan-Nya, maka sekali lagi kita semua dipanggil kedalam hidup baru dan aksi ‘diakonia baru’ di tengah dampak pandemi covid-19 yang telah memukul sendi kehidupan, terutama ekonomi, kesehatan, dan altar peribadatan.

Saudara-saudari, musibah virus corona ini hendak menegaskan-ulang bahwa sebagai manusia, ‘kita adalah satu dan saling terhubung’ secara global di dunia ini. Karena itu, pada masa-masa sulit ini, kita diberi kesempatan baru untuk melaksanakan aksi rendah hati dan belas-kasih/bela-rasa dalam hal saling membantu semampu dan sekuat kita untuk merawat kesatuan (gerakan oikumenisme) di tengah rahmat kebhinnekaan yang mungkin sudah terpecah dan menjahit kembali yang putus dan terbelah. Tindakan aksi bela-rasa yang dikerjakan oleh keluarga almarhum Akidi Tio, etnis Tionghoa, di Sumatera Selatan, 26 Juli 2021, yang menyumbangkan Rp2 triliun untuk Indonesia melalui Kapolda Sumsel dan juga sumbangan Rp500 miliar sebelumnya dari tim pengusaha yang melibatkan Yayasan Budha Tzu Chi yang peduli Indonesia untuk penanggulangan dampak wabah covid-19 yang tak kenal agama dan ras ini, kiranya turut mencerdaskan dan menginspirasi kita warga gereja dan masyarakat Indonesia untuk giat melakukan yang terbaik semampu kita, tanpa paksa, karena Kristus Yesus. Salam BE 655/KJ 252. *AAZS* hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form