Renungan Minggu X Trinitatis, 24 Agustus 2014

Metamorfosis! Berubahlah oleh Pembaruan Budimu!

(Roma 12:1-8)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Kalimat pertama mengawali pasal 12 ini berbunyi: “Karena itu ...”, maksudnya adalah menunjuk pada isi pasal 1 s/d 11 yang intinya menekankan ajaran (dogmatika) mengenai karya penebusan dan penyelamatan oleh Allah melalui iman dan rahmat di dalam peristiwa Yesus Kristus kepada umat pilihan-Nya (Israel) dan kepada orang-orang yang percaya dari segala bangsa sebagaimana diberitakan dalam Injil Kristus. “Karena itu, ......”, demi kemurahan Allah, rasul menasihati jemaat perdana dan kita warga gereja masa kini untuk menanggapi karya penebusan itu dengan suatu perilaku(etika) Kristiani, yaitu: (1) Supaya kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah sebagai suatu ibadah sejati; (2) Supaya kita jangan menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budi, sehingga kita dapat membedakan yang manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna. Martin Luther (1483-1546) mengatakan Roma 12:1-2 sebagai suatu Etika Kristiani paling ringkas untuk menanggapi karya Allah dalam konteks kehidupan di dunia ini.

Saudara-saudari, manusia seutuhnya (tubuh, nyawa, roh, dan jiwa) adalah pemberian Allah, karunia ilahi, dan bukan buatan setan, bukan juga sesuatu yang jahat dan najis. Dengan demikian tubuh-jasmaniah ini layak dipersembahkan sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan untuk memuliakan Allah dan bukan untuk perbudakan hawa nafsu duniawi yang sarat godaan melakukan dosa dan kejahatan (Rm 12:1; 1Kor. 6:19-20). Ajaran ini, antara lain, hendak menentang pemahaman di luar kekristenan saat itu yang menekankan bahwa tubuh (jasmani) yang fana ini dicap sebagai lebih rendah dan tidak ada kaitannya dengan hal yang rohani, yang abadi, yang sorgawi. Sehingga – kata mereka - boleh saja dibiarkan liar menuruti gelora nafsu duniawi yang tak pernah puas itu. Dalam konteks ini, Paulus berkata agar gaya hidup warga gereja jangan menjadi serupa dengan gaya hidup duniawi, tetapi harus beda dan mesti berubah oleh pembaruan budi, mesti bermetamorfosis ke arah yang lebih baik dan benar seturut kehendak Allah.

Mengenai proses berubah, rasul Paulus dalam Roma 12:2b menggunakan makna kata ‘metamorfosis’ (‘metamorfousthe’, ‘berubahlah kamu’). Menurut kamus biologi, istilah metamorfosis berarti perubahan atau peralihan dari suatu bentuk atau susunan ke bentuk lain. Misalnya, proses dari telur menjadi ulat, ulat menjadi kepompong, dan kepompong menjadi kupu-kupu; atau proses dari batu tertentu menjadi batu pualam, batu pualam menjadi kristal, kemudian kristal menjadi berlian.Dengan menggunakan kata ‘metamorfosis’, Paulus mengajak orang percaya dan kita warga gereja dan Indonesia masa kini supaya berubahdari suatu keadaan kepada keadaan yang semakin baik dan benar, semakin bermutudan indah serta bermanfaat demi kemuliaan-Nya.

Saudara-saudari, berdasarkan kasih karunia Kristus dan oleh kuasa Roh-Nya yang telah mengubah dan membuat manusia yang percaya menjadi baru, maka haruslah senantiasa tanpa henti-hentinya kita membarui budi, hati, roh, dan pikiran (Rm. 12:2; Ef. 4:23; 2Kor. 4:16; Kol. 3:10). Dan pertanda kita telah berubah ke arah yang lebih baik adalah bahwa kita: (a) Memiliki kemampuan untuk membedakan yang mana kehendak TUHAN dan yang mana kehendak ‘hantu’. Dan kemudian kita dimampukan melakukan hal seturut kehendak Allah yaitu apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya, dan yang sempurna (Rm 12:2); (b) Memiliki kemampuan untuk menguasai diri menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kita masing-masing (ayat 3b) dengan mempersembahkan yang terbaik sesuai karunia (talenta) yang kita miliki demi kemuliaan Allah (ayat 6-8). Ecclesia Reformata semper reformanda est, Gereja Reformasi adalah yang selalu membarui diri, begitu kata Martin Luther. Firman TUHAN adalah sumber pembaruan sejati. Salam.**** AAZS

wajah web201903

Login Form