Renungan Minggu XI Trinitatis, 31 Agusuts 2014 

Renungan Minggu XI Trinitatis, 31 Agusuts 2014

Menyangkal Diri, Memikul Salib, dan Mengikut Yesus

 (Matius 16:21-28)

 Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Dulu di kota Kaisarea Filipi, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya: Kata orang, siapakah AKU ini? Kemudian Yesus bertanya lagi: Tetapi apa katamu, siapakah AKU ini? Setelah mendapat wahyu dari sorga, maka Petrus menjawab: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup”! Lalu Yesus melarang keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun mengenai Dia sebagai Mesias (‘Sang Terurapi’). Kenapa dilarang? Karena Yesus sungguh tahu bahwa saat itu para murid memahami Yesus sebagai Mesias secara politis duniawi tanpa mengalami derita dan maut. Pada hal Yesus – yang menyebut diri-Nya sebagai Anak Manusia – sungguh menyadari dan kemudian mengajarkannya kepada para murid bahwa diri-Nya sebagai Mesias harus menderita dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, kemudian dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari (Mark. 8:27-38; Mat. 16: 13-20; Luk. 9:18-21). Tetapi kemudian, apa kata Petrus: ‘Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu dan tidak akan menimpa Engkau’. Tetapi Yesus berkata: “Enyahlah iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku ...”. Petrus yang tadinya disebut bahagia karena inspirasi sorgawi, kini ditegur sebagai ‘enyahlah iblis’ karena menentang kehendak dan rancangan Allah dan berorientasi pada pikiran manusia.

Dengan ini, Yesus hendak menegaskan bahwa jalan Mesias adalah jalan sengsara via dolorosa.Dan jalan salib adalah harga pas, tanpa diskon, dan tidak ada jalan pintas. Dalam kaitan inilah Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ‘Setiap orang yang mau mengikut AKU, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku(ayat 34). Menyangkal diri berarti meniru cara dan sifat Kristus saat menghadapi proses kehidupan (Flp. 2:3-8; Rm 12:18-21). Memikul salib masing-masing berarti ikhlas menanggung sengsara karena Kristus dan bukan karena kejahatan sendiri. Dan mengikut Yesus (Yunani: mathetais) berarti: ‘berjalan di belakang’ untuk menjalani jalan Yesus yaitu jalan salib dan kebangkitan. Yesus memanggil orang supaya mengikuti-Nya. Mengikut Yesus searti dengan ‘melekat pada’ dan ‘taat pada’ Yesus dan memperjuangkan serta membela apa yang diperjuangkan dan dibela oleh Yesus. Mengikut Yesus juga searti dengan menggantungkan nasibnya dengan ‘nasib Yesus’, khususnya dari salib-Nya dan dari kebangkitan-Nya. Peristiwa salib dan kebangkitan Yesus mestilah dipahami sebagai satu paket yang tak terpisahkan. Mengikut Yesus mestilah dihayati sebagai penderitaan sekaligus karunia kemenangan yaitu akan beroleh hidup kekal.  

Saudara-saudari, salib Kristus adalah lambang penderitaan (1 Ptr. 2:21; 4:13), kematian (Kis. 10:39), kehinaan (Ibr. 12:2), cemoohan (Mat. 27:39), penolakan (1Ptr. 2:4) serta penyangkalan diri (Mat. 16:24; Mark 8:34). Orang-orang yang percaya yang mengikut Yesus akan menghadapi pergumulan dan penderitaan rangkap dengan berjuang di dunia ini melawan dosa dengan menyalibkan semua keinginan yang berdosa (Rom 6; 8:13; Gal. 2:20; 6:14; Tit. 2:12; 1 Ptr. 2:11,22-24; 4:1-2). Pada saat kita mendahulukan Kerajaan Allah, maka kita akan menderita dalam perang melawan kuasa dosa, iblis, setan, dan kegelapan (2Kor. 10:4-5; 6:7; Ef. 6:12; 1Tim. 6:12). Bahkan orang percaya akan menderita aniaya dari pihak anti Kristus (Mat. 23:1-36; Gal. 1:9; Flp. 1:15-17); dan akan dibenci, diejek oleh pihak dunia ketika kita bersaksi mengenai Injil Kristus (Yoh. 15:18-25; Ibr. 11:25-26). Dalam kaitan ini sejarah gereja akan terus mencatat rangkaian penderitaan orang yang setia karena Kristus.

Ketika Petrus bertanya: “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh? Yesus menjawab: “... setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Mat. 19:29). Pahala yang dijanjikan adalah berkat masa kini dan terutama hidup kekal. Pokoknya, upah kita besar di sorga asalkan kita setia kepada Yesus (Mat. 5:12; Luk. 6:23).

Karena itu, marilah masing-masing memikul ‘salib setiap hari’ di Indonesia (Luk. 9:23) dan bukan menentengnya dengan jari. Sebab tidak ada kekristenan tanpa salib kehidupan. Dan janganlah kita menjadi “Kristen semut” yang hanya mau manisnya kehidupan, tetapi tidak mau pahitnya kehidupan karena Kristus. Marilah kita setia mengikutYesus yang telah meninggalkan teladan bagi kita supaya kita mengikuti jejak-Nya yang membawa kemenangan abadi (1Ptr. 2:21). Salam.****AAZS

 

wajah web201903

Login Form